Kemarin Istana Memang terbakar (Catatan ‘Cerita Ababil’ A.S. Laksana)

AbabilCatatan Cerpen Minggu 28 Juli 2013. Semoga waktumu adalah keselamatan. Kapanpun tulisan ini sampai pada matamu, entah pagi, siang, atau malam. Sudah hari Sanin teman. Saat yang tepat untuk mengulas cerita-cerita pendek yang terbit di koran-koran Minggu. Aku merasa harus segera menuliskannya, membagikannya melalui blog karena kau sudah menunggu-nunggu. Oh kau tidak menunggunya ya? Berarti memang benar kata temanku, aku adalah orang yang gampang GR atau gede rumongso (besar perasaan).

Cerpen pertama yang mampir di mataku (28 Juli) adalah cerita karya A.S. Laksana yang dimuat Jawa Pos yang berjudul Cerita Ababil. Membaca cerita ini perasaanku menjadi nano-nano. Kau ingatkan dengan premen nano-nano? Premen yang menawarkan rasa campur aduk. Di tengah kernyitan dahi saat membacanya sesekali aku juga memekik tawa. Cerita ini dibangun dari hal-hal sepele tapi dalam keseriusan. Mulai dari pertunjukan sulab yang dilihat di pasar, hingga rasa penasaran khas anak-anak terhadap sulab hingga membeli buku-buku sulab dan buku tenaga dalam yang banyak dijajakan. Bertahun-tahun buku-buku itu dipelajari dan dipraktikkan tapi selalu gagal. Mereka ingin dapat mempraktikkan membakar kertas menggunakan ludah seperti adegan yang mereka saksikan oleh tukang sulab di pasar. Sampai kemudian ditemukanlah buku Seribu Satu Keajaiban Metafisik. Dari buku itu kemajuan ilmunya semakin meningkat.

Dari masalah sepele khas anak-anak yang terbawa sampai dewasa berlanjut ke masalah yang lebih serius yaitu menggulingkan kekuasaan. Dalam bahasa mereka adalah berjuang untuk menegakkan kebenaran, namun dalam bahasa penguasa adalah perusuh atau penebar ketakutan. Penggalan dalam cerpen itu:“Ada tukang sihir yang berniat mencelakaiku namun Tuhan selalu melindungiku.” Kata seorang presiden. Membaca pernyataan ini saya jadi teringat pernyataan serupa yang diucapkan seorang presiden yang merasa dalam ancaman.

Ancaman mulai dirancang lebih serius setelah kegagalan serangan pertama. Ia mengumpulkan anak-anak yatim piatu, anak-anak gelandangan, anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya sejak bayi. Mereka dijadikan anak asuh untuk setiap hari melafal mantra-matra. “Orang yang setiap hari melafal mantra pasti akan dapat membakar kertas dengan ludahnya.” Ia juga mengumpulkan masalah-masalah, dan mendaftar orang-orang yang korupsi untuk menjadi target ludah. “Inilah caranya untuk membersihkan negeri” katanya.

Sampai kemudian hari yang telah dipersiapkan datang. Sepasukan anak buahnya mengepung istana. Mereka juga sudah belajar bagaimana meludah dengan jarak jauh. Api-api berloncatan di istana dan membakar. Presiden selamat tetapi setelah itu tidak menampakkan diri lagi. Seorang gelandangan menyaksikan burung-burung ababil terbang dan menjatuhkan api pada istana tersebut.

Tafsir

Cerpen ini adalah teror. Bahwa orang-orang yang tidak berdaya dipelosok sana. Yang hari-harinya bergulat dengan keringat pasar dan bau comberan bisa saja memiliki imajinasi mengulingkan kekuasaan. Kekuasaan yang congkak dan korup yang menghisap hingga aliran rizki yang harusnya sampai tidak lagi sampai kepadanya. Mereka berimajinasi dengan kemampuannya masing-masing, petani dengan cangkulnya, buruh bangunan dengan sekopnya, tukang kayu dengan gergajinya.

Tapi orang-orang pinggir yang memiliki imajinasi itu dan kemudian berani mewujudkan imajinasinya tersebut kemudian dianggap perusuh, penebar ketakutan, dan perusak kenyamanan, mereka adalah teroris. Mereka meneror kenyamanan penguasa untuk tetap duduk menjadi penguasa.

Burung ababil diutus oleh Tuhan untuk menghancurkan kawanan tentara pasukan raja lalim Abrahah yang menyerang kota Mekkah dan berniat menghancurkan Ka’bah. Batu-batu api dari neraka telah memporak-porandakan pasukan tersebut.

Dan orang-orang pelafal mantra yang ludahnya mengeluarkan api itu dan seperti burung ababil itu datang ke istana untuk menghancurkan kelaliman. Ia seperti kata gelandangan. Gelandangan adalah simbul dari rakyat kecil. Rakyat kecil memandang atau menganggap para penyerang istana itu bagaikan ababil yang membawa api dari negaka untuk menghancurkan kelaliman penguasa. Tiba-tiba saya ingat beberapa waktu lalu istana negara memang terbakar. (muhajir arrosyid).

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 29, 2013, in Kritik Sastra and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: