Superioritas dalam Penjara (Analisis Cerpen ‘Bui’ Agus Vrisaba 2)

IMG00778-20130730-0824Kabar adanya banyaknya pungli kalau mau masuk ke penjara juga muncul dalam cerpen. Entah benar entah salah saya tidak tahu. Saya hanya membaca di cerpen. Kiriman dari pengunjung seperti rokok juga sering berhenti di pos penjagaan. Rokok yang sebenarnya tiga bungkus hanya satu bungkus yang sampai di dalam terali. Oleh keluarga sipir, tahanan juga diperlakukan seperti binatang. Setiap hari libur anak-anak berjalan-jalan sambil bergurau di depan sel dan menonton tahanan seperti menonton hewan di kebon binatang. Anak-anak itu berlarian sambil bertawa saat salah seorang tahanan menyerangai dan tidak lama kembali berkerumun di depan sel.

Ideologi feodalisme juga muncul antar sesama tahanan. Superioritas muncul atas dasar lamanya di dalam sel, besar kecilnya fisik dan sebagainya.

“Kau masuk kamar orang tanpa permisi lebih dulu, hah?” bentaknya.

Lo, ini ‘kan bukan kemauanku sendiri. Aku diseret dari rumah dengan paksa dan didepak masuk ke sini tanpa hak untuk melawan.

Bungkusan pakaianku dirampas, isi sakuku digeledah. Dalam rimba yang pekat itu aku seorang diri dan tak berdaya.

(Agus. 2004,2-3)

“Berikan cabe itu kepadaku, Harja!” bentak orang itu yang tadi terus-cerusan menatapku.

“Tapi, Mas, ini bagianku yang dulu,” kata Harja mohon dikasihani.

“Berikan!”

Harja menyerahkan. Orang itu membagi cabe yang cuma sebutir itu menjadi dua dan menyerahkan yang separuhnya kepada yang berkumis melintang. “Semuanya!” hardik yang berkumis melintang.

“Jangan begitu Cak, biar sama-sama merasakan.”

“Kubilang, semuanya ya semuanya!”

Dengan nyengir kecewa potongan cabe kering yang satunya dia serahkan.

(Agus. 2004, 3)

Sudah menjadi tugas Harja, katanya. Di dalam sel kami memang Harja paling lemah posisinya. Tapi kulihat dia tidak tertekan diperlakukan begitu.

(Agus. 2004, 7)

Tokoh aku sebagai orang yang paling baru masuk tahanan adalah orang yang paling mendapat penganiayaan oleh sesama tahanan. Masuk tahanan enam pasang mata melototinya. Rangsum bagiannya juga dirampas. Pakaiannya digledah. Rokoknya dirampas dan dinikmati rame-rame.

Tokoh Harja adalah orang yang paling lemah di cerpen tersebut. Rupanya ia memeliki badan yang paling kecil. Harja adalah orang yang bertugas untuk membersihkan tempat dan tidak ada yang boleh orang lain membantu. Cabe yang dia simpan di bawah tikar untuk menyorong nasi dan sayur tanpa bumbu ke dalam perut dirampas oleh Cak Aris adalah orang yang paling berkuasa di dalam sel.  Marto yang pegawai kantor penerangan galak kepada yang lain, tapi tunduk pada Cak Aris. Analisis sebelumnya silahkan klik: Analisis 1, dan berikutnya klik Analisis 3.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 30, 2013, in Kritik Sastra and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: