Kapitalisme dalam Penjara (Analisis Cerpen ‘Bui’ Agus Vrisaba 3)

IMG00778-20130730-0824Selain ideologi feodalisme juga muncul ideologi kapitalisme. Keadaan Bui yang serba terbatas menyebabkan terbentuknya pasar yang unik khas bui.

Dengan nyengir kecewa potongan cabe kering yang satunya dia serahkan. Dia mengomel, mengatakan setiap hari sayur kangkung, tanpa bumbu. Hanya direbus dengan air. Bahkan garam pun dikorupsi di dapur. Mereka yang di dapur gendut-gendut.

(Agus, 2004.4)

Pengurangan fasilitas oleh pengelola penjara tidak hanya sebagai tanda adanya sikap merendahkan kepada tahanan, tetapi juga sebagai upaya memperkaya diri oleh pihak-pihak tertentu. ‘Bahkan garampun dikorupsi, yang di dapur gendut-gendut’adalah ungkapan kejengkelan para tahanan terhadap pengelola yang memberikan fasilitas yang minim. Pengunaan kata ‘bahkan’ menandakan bahwa masih terdapat hal-hal lain yang dikorupsi, tidak hanya garam.

Karena kondisi seperti itu terjadi pasar yang unik. Hukum pasar berlaku, dimana barang dibutuhkan ia memiliki nilai tukar yang paling tinggi. Di dalam penjara yang paling mahal adalah rokok atau tembakau, kemudian garam, cabe. Garam yang di luar harganya sangat murah di dalam bisa sama dengan harga emas.Sistem jual beli tidak mengunakan uang tetapi barter. 

“Dia dipanggil Si Cekung. Sudah sebelas tahun dipenjara dan masih menunggu tiga tahun lagi. Dia tak dikurung karena tak mungkin minggat. Dia pabrik rokok di sini. Puntung-puntung itu dia gulung dengan kertas koran. Kalau ada yang mau boleh menukarnya dengan dis. Maksudnya dis adalah rangsum. Di sini tak berlaku mata uang. Semuanya dilakukan dengan barter. Selembar baju bisa berharga lima dis nasi atau delapan dis gerontol jagung. Tembakau paling laris untuk dijadikan barang tukaran. Sejumput tembakau bisa ditukar dengan lima butir cabe dengan orang dapur. Cabe di sini amat penting. Buat mendorong nasi yang macam ampas tahu masuk ke tenggorokan. Garam juga penting. Sayur kangkung yang disorong masuk setiap hari tak bergaram sama sekali.”

(Agus, 2004. 6)

Elemen material kapitalisme dalam cerita pendek berjudul Bui ini adalah korupsi oleh pengelola penjara dalam hal ini adalah orang dapur dan seorang tahanan sebelas tahun yang tidak dimasukkan ke terali karena tak mungkin minggat Si Cekung. Orang dapur melakukan korupsi dengan mengurangi bumbu seperti garam dan cabe. Akibatnya, barang-barang tersebut memiliki nilai tukar yang tinggi. Sejumput tembakau bisa ditukar dengan lima utir cabe dengan orang dapur. Di dalam pasar penjara orang dapur adalah pemegang kendali. Kenapa demikian? Karena mereka pemegang modal berupa barang-barang yang sangat dibutuhkan oleh tahanan. Pelaku perdagangan ala penjara selain orang dapur adalah Si Cekung. Ia adalah pabrik rokok di penjara. Si Cekung mengumpulkan puntung-puntung rokok dan digulung dengan kertas koran. Puntung rokok yang tadinya tak berharga menjadi memiliki nilai tukar. Jika ada tahanan yang menghendaki rokok produksi Si Cekung ini, mereka harus merelakan disnya, yang dimaksud dis adalah rangsum.

Selain dua ideologi yang telah dibahas di atas terdapat ideologi lagi yaitu humanisme di dalam cerpen ini. Ideologi humanisme tampak pada tokoh aku (pencerita). Hal tersebut terlihat dibanyak peristiwa, seperti ketika dia selesai digeledah oleh keenam temannya di dalam penjara. Tokoh aku memahami perbuatan tersebut bahkan merasa kasihan kepada mereka.  Istri tokoh aku mengirimi barang-barang yang dibutuhkan di dalam penjara seperti mi, kecap, cabe. Barang-barang tersebut dibagikan kepada seluruh narapidana bahkan sampai dibelakang tempat narapidana perempuan berada. Setelah keluar penjara, tokoh aku juga menyempatkan diri untuk berkunjung dan membawa barang-barang yang sangat dibutuhkan di penjara.

Biar pun bukan hari berkunjung, tapi karena aku sudah akrab dengan para sipir, aku diperkenankan masuk. Aku membawa lima kilo tembakau, sekuintal mi basah, dan tiga botol kecap manis, merica, garam, cabe, dan kertas sigaret untuk menggulung tembakau. Kuserahkan semua itu kepada Cak Aris.

Sekali sebulan aku menjenguk ke penjara, membawa ubi rebus, tembakau, atau apa saja. Aku tabu berul apa yang lebih dibutuhkan di sana. Garam yang di luar harganya sangat murah di dalam bisa sama dengan harga emas.

(Agus, 2004. 8)

Cak Aris yang mulanya bengis berubah menjadi ramah. Ini terlihat saat ia bebas dan mampir ke rumah tokoh aku. Cak Aris bilang akan kembali kepada anak bininya dan hidup baik. Cak arispun menitikkan air mata saat diantar ke bus dan diseri sangu oleh tokoh aku.

Kata Cak Aris kehadiranku telah mengubah suasana. Para sipir penjara yang tadinya galak-galak, kini terpancing suasana akrab. Bagaimana pun mereka adalah manusia yang bisa disentil hati nuraninya akan tergerak rasa harunya. Tapi bukan pujian itu yang kuinginkan. Ketika aku dipanggil Kepala Penjara dan buku-bukuku dikembalikan, aku mengucap terima kasih. Lalu aku diminta mengelola perpustakaan yang ada dalam penjara. Aku senang, karena ada kesibukan.

(Agus, 2004. 8)

Keramahan dan cinta yang ditunjukkan oleh tokoh aku rupanya berubah manis. Para sipir yang tadinya galak menjadi ramah. Mereka juga bersedia untuk membagikan barang kiriman yang diantar oleh istri tokoh aku. Tokoh aku juga diberi kesempatan untuk mengambil buku-bukunya sekaligus mengelola perpustakaan penjara. Apa yang dilakukan oleh tokoh aku adalah hegemoni. Ia mempengaruhi tokoh-tokoh berideologi lain untuk turut dengan ideologi yang ia anut tanpa kekerasan. Analisis sebelumnya. Silakan KLIK Analisis 1, Analisis 2.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 30, 2013, in Kritik Sastra and tagged , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. membaca karya”nya mengingat kembali sosok bunk Agus Vrisaba, kesederhanaan dan apa adanya mengalir begitu saja seperti air sungai menuju hulu

  1. Ping-balik: Superioritas dalam Penjara (Analisis Cerpen ‘Bui’ Agus Vrisaba 2) | KARYA ANAK KAMPUNG

  2. Ping-balik: Kondisi Penjara Indonesia (Analisis Cerpen ‘Bui’ Agus Vrisaba 1) | KARYA ANAK KAMPUNG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: