Kondisi Penjara Indonesia (Analisis Cerpen ‘Bui’ Agus Vrisaba 1)

IMG00778-20130730-0824Banyaknya dugaan adanya penjara mewah di negeri ini menggelitik saya untuk menyajikan bagaimana bui atau penjara disajikan dalam karya sastra. Kali ini saya akan menyajikan karya sastra karya Agus Vrisaba yang berjudul Bui. Cerpen Bui adalah cerita yang bersetting sebuah kehidupan panjara. Cerita dimulai dari tokoh aku yang masuk penjara. Tak diceritakan sebab kenapa tokoh aku dimasukkan penjara. Mula-mula adalah buku-bukunya  dan dua bungkus rokoknya dirampas di pos penjagaan. Kemudian ia digiring melewati lapangan tennis yang disediakan untuk sipir.

            Dalam cerpen ini terdapat dua kelompok solidaritas identitas. Pertama adalah kelompok sipir, dan kedua adalah kelompok tahanan. Kelompok tahanan adalah kelompok inferior dan kelompok  sipir adalah kelompok dominan.

            Ideologi yang muncul adalah ideologi feodalisme, kapitalisme, dan humanisme. Hal yang menandai feodalisme adalah hubungan superior-inferior antara sipir kepada tahanan dan tahanan terhadap tahanan. Eleman materialnya adalah perlakuan superior dalam hal ini sipir kepada tahanan yang memperlakukan tidak selayaknya manusia. Sedangkan eleman kesadarannya adalah sipir menganggap bahwa tahanan adalah sampah masyarakat maka layak diperlakukan asal-asalan seperti memberi makan nasi yang seperti ampas tahu, sayur kakung yang hanya direbus tanpa dikasih bumbu, piring untuk menyajikan yang tidak pernah dicuci dan lain sebagainya.

Kualihkan pandanganku ke tembok. Kurungan itu bertembok tebal dan tinggi. Banyak slogan ditulis dengan arang pada keempat sisi tembok yang kotor itu. Di antaranya: Hidup serasa mati — Mana tempat kencing? — Ya, Tuhan, lihatlah umatMu ini! — Mohon dikasihani! — Oh, Ibu, mengapa nasib anakmu ini? — Bagaimanapun aku tetap masih seorang manusia!

                                                                                    (Agus,2004:2)

Piring-piring disorong masuk lewat lubang kecil di sudut pintu. Barusan kulihat seorang penghuni sel kencing di situ. Piring-piring itu kotor, seperti tak pernah dicuci. Segenggam nasi macam ampas tahu ditaruh di atasnya. Lalu mangkok-mangkok sayur dari alumunium juga disorong masuk lewat lubang yang sama.

                                                                                    (Agus,2004:3)

Tiga pak rokok yang sampai kepadaku cuma satu pak saja. Dua mandek di pos penjagaan, kata Cak Aris.

                                                                                    (Agus,2004:8)

Pada hari Minggu anak-anak pegawai penjara yang tinggal di lingkungan penjara berdatangan menonton kami. Barangkali dalam khayal mereka seperti nonton beraneka macam monyet di kebun binatang. Cak Aris melotot kepada mereka dan mereka lari serabutan, sambil tertawa-tawa. Tapi kemudian datang merubung lagi.

                                                                                    (Agus,2004:7-8)

Perampasan buku dari tokoh aku tanpa penjelasan menunjukkan bahwa sipir menganggap tidak perlu adanya penjelasan kepada tahanan. Tahanan adalah orang yang telah kehilangan haknya untuk berpendapat, membaca buku, hingga mendapatkan penjelasan. Tahanan diposisikan sebagai makhluk-makhluk hina yang tak boleh menuntut.

Kalimat-kalimat yang tertulis di tembok itu adalah suara hati para tahanan. Di salah satu sisi tembok terdapat tulisan ”Mana tempat kencing?” memberi gambaran bahwa tempat penjara tersebut minim fasilitas termasuk tempat kencing. Para tahanan melakukan kencing di pojok ruangan tempat piring untuk makan di sorongkan. Tulisan di dinding yang berbunyi ”Bagaimanapun aku tetap manusia!” adalah ungkapan para tahanan untuk tetap diperlakukan selayaknya manusia. Penggunaan kata ’bagaimanapun’ menunjukan bahwa sebenarnya mereka merasa bersalah, namun bagaimanapun mereka masih manusia dan selayaknya diperlakukan selayaknya manusia. Perlakuan-perlakuan tak layak lain misalnya memberikan makanan dengan piring kotor. Sayur yang disajikan tanpa rasa. Hingga muncul lontaran kalimat dari tahanan, ’bahkan garampun dikorupsi di dapur’. Setiap hari yang disajikan segenggam nasi seperti ampas tahu dan sayur kangkung hanya direbus tanpa garam dan cabe. (Bersambung Ke Analisis 2, Analisis 3.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 30, 2013, in Kritik Sastra and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: