(2) Joni Diwawancarai Wartawan

bab2Pada  sore yang cemerlang naiklah seorang muda mengaku mahasiswa. Ia mengaku dari Lembaga Pers Mahasiswa , atau majalah mahasiswa salah satu perguruan tinggu swasta di Kota Semarang. Anak muda yang tubuhnya gempal, rambutnya kriting ini bermaksud wawancara. Iya benar wawancara sama Joni. Joni mula-mula tidak percaya. “Apa pentingnya seorang Joni si kernet angkot?” Tanya Joni kepada muda yang kemudian mengaku bernama Sanul ini. Maka sambil berdiri, menaik turunkan penumpang, menarik ongkos perjalanan kepada penumpang wawancara tersebut dilakukan. “Ini dalam rangka menyambut hari transportasi internasional Mas Joni, nanti wajah Mas Joni yang kharismatik itu akan muncul di majalah kami.” Dan Joni yang malu-malu itu akhirnya mau. Bahkan sempat pengambilan foto segala.

 

Mas Joni apasih asiknya menjadi kernet angkot?

Menjadi kernet angkot memberiku pangetahuan yang luas. Aku tidak perlu membaca koran, mendengar radio untuk mengetahui yang terjadi di negeri ini, para mahasiswa langgananku sering membicarakannya di angkot ini. Aku juga tidak perlu mengikuti infotainment, kelanjutan cerita sinetron, karena buruh-buruh pabrik langgananku membicarakannya di angkot ini. Aku juga mengetahui berapa harga tembakau, siapa lurah yang ketahuan selingkuh, setinggimana banjir tahun ini, dari ibu-ibu pedagang pasar. Ikutlah angkotku sehari saja, engkau akan mengetahui segala hal yang terjadi di dunia ini. Dari masalah yang terjadi di tingkat RT hingga masalah yang terjadi di luar negeri.

Tapikan kernet angkot tidak ada jenjang karirnya? Masak sampai mati mau jadi kernet angkot?

Kata siapa? Kernet angkot adalah pekerjaanku pertama. Aku mendapatkan upah pertama kali dari menjadi kernet angkot. Cita-citaku setelah menjadi kernet adalah ingin menjadi sopir angkot. Sukur-sukur bisa punya angkot sendiri. Aku memimpikian jika nanti sudah tua, sudah punya anak cucu, aku sudah punya rumah gedong tingkat tiga dengan halaman luas tempat parkir angkot-angkotku. Itulah jenjang karir yang aku impikan. Tetapi tiba-tiba aku berfikir untuk berpindah haluan dan menciptakan mimpi lain. Tapi mimpi lain tersebut sampai detik ini belum terbangun secara utuh.

Suka dukanya dong?

            Sukanya dulu. Dulu aku sangat bersemangat berangkat kerja. Itu tidak lain karena gadis-gadis cantik yang masuk angkotku. Mereka anak sekolahan SMA, ada juga anak kuliah, dan buruh pabrik. Mereka wangi-wangi, seringkali aku beruntung menyenggol tubuhnya. Kadang aku juga berkesempatan melihat sedikit yang tersingkap di bawah leher, atau tersingkap dibalik rok. Cukup membautku berdebar dan mengucap syukur. Rizki-rizki.

Kira-kira ada yang naksir kamu tidak Mas Joni?

            Saat Susi, Ari, Ani, Sita satu persatu melambaikan tangan dan naik angkotku aku sempat berfikir, apakah karena mereka ada rasa denganku? Dari kaca jendela mobil angkot aku berkaca. Patutukah wajah Joni ini dikagumi?

Mana dukanya?

Jika nenek-nenek melambaikan tangan aku tidak berkenan menghentikan mobil. Aku teriak pada nenek itu “Penuh!” Nenek-nenek bau apek.

            Tapi itu dulu-dulu. Sekarang mungkin aku kualat. Angkotku pernah mau terjebur jurang setalh aku tidak menaikkan nenek itu. Sekarang penghuni angkotku ada juga nenek-nenek berserta ayam, itik, dan pisangnya. Seringkali dengan kambingnya pula. Sekarang aku memakai masker, menahan bau yang sungguh sumpek.  (Bersambung)

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 1, 2013, in Cerbung NURUTO-NURUTO and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: