MENULIS DIALOG DALAM FIKSI

MENULIS DIALOGDialog merupakan bagian penting untuk menjaga pembaca untuk tetap membaca cerita kita. Dengan dialog maka pembaca seolah-olah terlibat dalam cerita yang sedang mereka baca. Maka dari itu kalau Anda ingin menjadi penulis fiksi yang baik maka Anda harus belajar menulis dialog. Berikut ini adalah cara menulis dialog yang dibagi menjadi beberapa bagian. Kali ini kita bagikan untuk bagian  pertama.

 

Dialog tags

Dialog tags adalah dialog yang digunakan setelah tokoh selesai biara, seperti. “katanya,” “keluhnya”. Berikut ini contohnya: “Saya menghabiskan dua piring nasi” Kata Bima. “Kata Bima” adalah tag dialog.

Kata-kata yang lazim digunakan adalah ‘katanya’, namun kita perlu berfikir untuk menggunakan kata-kata lain biar bervariasi, biar tidak terdengar membosankan karena digunakan berulang-ulang.

Tag dialog ini sangatlah penting karena dapat membantu menunjukkan siapa tokoh yang berbicara. Dalam sebuah percakapan biasanya terdapat beberapa tokoh. Tag ini akan membantu pembaca untuk menentukan sebenarnya siapa yang sedang berbicara.

Contoh:

“Saya menyesal dengan apa yang sudah kita lakukan.” Kata Purbo

“Kenapa harus menyesal?” Agus balik bertanya.

“Iya, bukankah hal itu sudah kita sepakati sebelumnya” tambah Rita.

Tags begini terdengar membosankan dan tidak bervariasi. Berikut saya beri contoh yang lebih bervariasi.

“Saya menyesal dengan apa yang sudah kita lakukan” Kata Purbo.

Agus menggelengkan kepalanya. “Kenapa harus menyesal?”

“Bukankah hal tersebut sudah kita sepakati terlebih dahulu?” Rita mematikan rokok, bangkit dan meninggalkan tempat.

Dengan cara begitu dialog akan sedikit lebih hidup. Percakapan tersebut akan memberikan gambaran tentang apa yang sedang terjadi. Untuk dialog yang diucapkan oleh satu orang tapi dialognya panjang agar tidak membosankan ada baiknya diberikan tags disela-selanya.

Contoh:

“Kata siapa?” Mata Joni melotot. “Kernet angkot adalah pekerjaanku pertama. Aku mendapatkan upah pertama kali dari menjadi kernet angkot. Cita-citaku setelah menjadi kernet adalah ingin menjadi sopir angkot. Sukur-sukur bisa punya angkot sendiri.” Joni menawari rokok sebelum melanjutkan perkataannya. “Aku memimpikian jika nanti sudah tua, sudah punya anak cucu, aku sudah punya rumah gedong tingkat tiga dengan halaman luas tempat parkir angkot-angkotku. Itulah jenjang karir yang aku impikan.” Joni menyeka keringat di dahi.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 4, 2013, in Tips and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: