MEMPEROLOK PAWANG HUJAN

Catatan  Cerpen Minggu (CCM) 4 Agustus 2013

Setelah dosa kita sudah habis dan tinggal nol, setelah kenyang makan opor lontong, mari kita lanjutkan mengunyah-ngunyah cerpen. Cerpen Minggu lalu baru sempat saya baca sekarang. Minggu 4 Agustus 2013, Kompas memuat sebuah cerpen karya Aba Mardjani yang berjudul Mbah Simbad Si Pawang Hujan.

            Cerpen ini bercerita tentang tokoh yang menguasai ilmu memindahkan hujan atau biasa disebut pawang hujan. Dalam kehidupan sehari-hari kemampuan pawang hujan ini antara dipercaya dan tidak dipercaya. Meskipun diragukan kemampuannya banyak orang menggunakan jasanya. Dari mulai konser musik hingga kampanye calon presiden jasa pawang hujan selalu dibutuhkan. Negeri ini memang tidak bisa lepas dari ilmu-ilmu gaib. Bahkan sekarang jasa pawang hujan ditawarkan melalui iklan dan media sosial. Bahkan ada yang memberikan diskon dan garansi segala.

            Dalam cerpen ini pawang hujan disewa oleh seorang pemborong proyek. Ia berkepentingan agar hujan tidak turun selama pengerjaan proyeknya. Jika hujan turun maka proyek garapannya akan menghabiskan biaya sekian kali lipat. Ia harus memberi upah kepada tenaga kerja dan mengeluarkan segala biaya lain terkait dengan mundurnya proyek.

            Endingnya adalah sang pawang gagal melaksanakan tugas dengan berbagai alasan setelah sekian bulan melaksanakan tugas dengan baik. Sang pawang juga kedapatan hangus disambar oleh petir.

            Pengarang memang tidak memberi gambaran apakah sang pawang benar-benar menguasai ilmu pawang atau sebenarnya adalah penipu. Apa yang ia lakukan selama ini dengan menahan hujan apakah kesengajaan apa hanya kebetulan saja.  Digambarkan di situ sang pawang dengan keseriusan dari sudut pandang tokoh lain yang ingin belajar ilmu pawang dengan penuh kekaguman. Sang tokoh yang mau nyantrik tersebut mengakui kehebatan sang pawang. Alasan kenapa ia ingin belajar ilmu pawang adalah upahnya besar.

            Ending biasanya dalah jawaban, bisa saja simpulan, atau bahkan sikap pengarang. Dalam cerpen ini mungkin saja ending adalah pandangan pengarang terhadap pawang hujan. Pawang hujan yang mengaku dan dikenal sakti dimatikan dengan cara terpanggang. Seorang pawang macan juga bisa termakan oleh macan bukan?

            Memang ilmu-ilmu yang dari dalam seriangkali diperolaok, dituduh klenik, irasional, disalah-salahkan. Segala yang dari dalam atau dari daerah adalah sesat dan yang dari luar baik agama maupun ilmu pengetahuan dianggap hebat. Olok-olok terhadap ilmu-ilmu yang berasal dari dalam tersebut terekspresikan dalam banyak hal termasuk dalam karya sastra seperti dalam cerpen ini. (muhajir arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 12, 2013, in Kritik Sastra and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: