KAIN LAP LEBARAN

kain lap pelDua hari sebelum lebaran yang saya tetapkan sebagai hari bersih-bersih nasional saya ke toko untuk membeli alat besrsih-bersih. Kerena saya sudah masuk dalam generasi online maka cara mengepel lantai dan cara membersihkan kaca yang baik juga saya browsing di internet. Pengin tahu hasilnya? Ternyata hasilnya standar saja, dan sudah saya ketahui sebelumnya.

                Pergilah saya ke toko untuk membeli alat bersih-bersih. Sebelumnya saya meminjam dari orang tua yang rumahnya bersebelahan dengan rumah saya untuk bersih-bersih, maklum rumah baru. Sudah saya catat sebelumnya kebutuhan saya, biar ketika di toko tidak ada yang terlewat. Ada cairan untuk mengepel, cairan untuk mengelap kaca, kemudian lap kaca, dan alat untuk mengepel. Hari ini saya siap bersih-bersih. Tradisi bersih-bersih sebelum lebaran ini sudah diwariskan oleh orang tua saya dulu. Bapak dulu malah tidak hanya bersih-bersih tetapi juga memasang lampu. Waktu itu lampu masih menggunakan minyak. Dari bambu lampu dihias sedemikan rupa agar lebaran meriah. Taman juga dicat dan ditata sedemikan rupa, pagar-pagar rumah didirikan sedemikan rupa kemudian dikapur warna putih.

                Nanti setelah lebarankan bisa? Orang membangun rumah, membangun jalan selalu lebaran sebagai batas. Seolah lebaran adalah puncak dari segalanya. Lebaran menjadi target-target yang harus diselesaikan. Mengecat rumah harus segera selesai, baju harus baru, makanan harus enak. Malah ada yang bilang “Hidup setahun hanya untuk lebaran”.

                Kenapa toh saat lebaran semua harus rapi, bersih, dan bagus? Karena akan banyak tamu yang datang. Tamu itu datang dari mana-mana. Saudara jauh, mereka yang masa kecilnya pernah hidup sekampung kumpul menjadi satu. Tamu-tamu itu tidak datang setiap hari, ada yang datang malah dua atau tiga tahun sekali.

                Tidak hanya itu, makanan terbaik disajikan. Dulu saya sering diminta ibu membantu membuat makanan ringan sajian lebaran. Ibu sudah melai membuatnya sejak ramadhan masuk tanggal 15-an. Dulu ibu membuat kembang goyang, criping ketela, criping pisang, dan roti yang dibeli dari pasar. Saat lebaran tiba masakan juga seperti lomba masak. Apa saja disajikan.

                Dulu saat Bude-bude masih sehat, kami selalu dipaksa makan. Kalau tidak mau makan belum boleh pulang. “Ngasake masakane bude” begitu kata bude. Sekarang beliau sudah sepuh dan tak lagi kuat masak. Jadi kangen juga. Bahkan lebaran kemarin saya tidak merasakan masakan ibu karena ibu juga sakit. Semoga lekas sembuh.

                Kalau boleh saya menyimpulkan inti lebaran bagi tradisi Indonesia adalah tamu. Akan ada tamu yang datang ke rumah maka harus disambut meriah. Penyambutan mulai dari tampilan rumah hingga makanan. Melihat lebaran adalah melihat betapa pentingnya tamu. Karena menghargai tamu sama artinya menghargai muka sendiri.

                Kembali ke masalah alat bersih-bersih. Para tamu itu tentu tahunya tempat bersih, makanannya enak dan tidak pernah mau tahu bagaimana membersihkannya, merapikannya, menggunakan alat apa. Tapi kali ini saya mau mengangkat eksistensi alat bersih-bersih. Ia dalah kain lap dan pel. Memang tidak begitu penting karena semua kain bisa digunakan sebagai lap. Bahkan jika Anda tega pakaian dalam dan celana dalam bisa juga digunakan sebagai lap.

                Pagi itu saya membeli kain lap dan pel merek ‘Gading’. Banyak kain lap lain tapi perhatian saya tersedot oleh kain lap dengan warna biru gelap dan cukup tebal itu. Saya lihat kain lap ini paling bagus dan paling mahal di antara kain lap yang dijual di toko tersebut. Wih serius sekali, saya membatin. Dalam kain lap tersebut terdapat kertas kecil sebagai cover produk. Saya menyaksikan di pojok kertas itu ada tulisan ‘terkenal sejak 1952’. Terkenal bukan diproduk pertama kali. Untuk sebuah produk kain lap dan pal ini termasuk pruduk yang awet dan tahan banting. 1952 itu hanya beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.

                Dalam kertas kain lap itu juga terdapat gambar seorang perempuan berjarik, berkebaya merah, bergelang merah, rambutnya dikucir satu ke belakang sedang terlihat sedang mengepel. Sang model memang berperan ciamik sebagai pembantu atau mungkin memang pembantu. Sampai hari ini saya juga belum tahu siapa bintang model dalam cover kain pel tersebut.

                Sebelumnya saya juga tidak pernah menyaksikan kain pel merek ‘Gading’ ini diiklankan di TV, radio, dan koran. Tetapi walaupun tidak diiklankan produk ini dapat bertahan sejak tahun 1952. Saya jadi teringat kalimat yang diucapkan oleh pra penyampai kebaikan. Bahwa istiqomah itu lebih bernilai dari seribu karomah. Mari melakukan yang baik terus menerus, konsisten dan kita akan melihat hasilnya kelak. Selamat menghabiskan makanan sisa-sisa lebaran. (muhajir arrosyid)

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 13, 2013, in buku harian and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: