SEJARAH NAMA

Nama adalah hal yang seringkali rumit bagi orang tua. Ia kadang tidak bisa tidur untuk memutuskan nama yang dipilih.

namaSiang tadi (13/08) saya menemukan undangan Walimatut Tasmiyyah atau puput puser. Saya menemui hal unik dalam undangan itu. Nama sang anak keren sekali: Anandwika Farrael Juliano Caesar. Anak dari Sanuwar dan Siti Sopiyah ini akan di diselenggarakan upacara selamatan pada 16 Agustus 2013. Nama ini pantas sekali jika besar nanti menjadi sastrawan atau pelukis. Mungkin orangtuanya menghendaki demikian.

            Saya memperhatikan anak-anak yang lihar akhir-akhir ini di lingkungan saya (Demak) banyak sekali yang diberinama seperti ini, agak Latin, agak Eropa. Saya mengira inspirasi nama itu dari bintang-bintang senetron, atau tokoh-tokoh senetron yang disiarkan di televisi. Atau mungkin saja terinspirasi dari pemain sepakbola yang disiarkan di televisi juga. Seperti kita tahu bahwa banyak Liga sepakbola Eropa seperti Liga Inggris, Liga Spenyol, Liga Itali yang disiarkan di televisi Indonesia.

Dari nama-nama pemain sepakbola kemungkinan kosakata seperti Farrael, Julianno, Caesar muncul. Kata Anandwika kemungkinan kosakata bahasa Jawa, sedangkan Farrael kemungkinan Eropa, sedangkan Juliano kemungkinan karena lahir di bulan Juli, sedangkan Caesar kemungkinan karena proses lahirnya melalui operasi caesar. Saat ini ada juga fenomena anak-anak diberinama caesar, rupanya (bagi sebagian orang) proses kelahiran caesar juga menjadi prestis, menjadi gengsi karena bayarnya mahal.

            Dari nama sebenarnya kita dapat melacak sejarah manusia. Apa kemungkinan yang sedang terjadi di dalam masyarakat tersebut. Mari kita runut. Orang tua Anandwika Farrael Julano Caesar  bernama Sanuwar dan Siti Sopiyah. Mereka lahir sekitar tahuan 1980-an. Saya tahu karena mereka seusia saya. Menurut saya nama Sanuwar adalah bahasa Jawa, sedangkan Siti Sopiyah juga Jawa yang mendapat pengaruh Arab. Mohon maaf karena saya belum mendapat rujukan kamus dan ahli yang dapat saya mintai pendapat. Sedangkan nama saya yang lahir satu generasi dengan dia adalah Muhajir, sepupu saya yang juga lahir ditahun-tahun yang sama namanya Abdul Karim, Abdul Kholiq, Ambdul Rohman, Sugiharto, Santo, Asrori.

            Saya simpulkan bahwa orang-orang yang lahir di generasi bapaknya Anandwika yang juga generasi saya (1980) kebanyakan kalau tidak mengunakan nama dengan kosakata Jawa maka menggunakan kosakata Arab yang diambil dari penggalan Alqur’an. Kosakta Jawa diambil karena melanjutkan tradisi sebelumnya, sedangkan nama-nama Arab karena di desa saya mulai bersentuhan dengan pondok pesantren, guru ngaji, dan Kyai. Orang-orang kampung yang sholat jamaah di masjid biasanya meminta Kyai untuk memberi nama kepada anaknya. Demikian juga ketika Bapak memberi nama aku. Mulanya belaiu mau memberi nama saya Kabul karena do’anya untuk diangkat menjadi guru negeri terkabul. Nama itu tidak jadi karena Ibu tidak setuju. Akhirnya bapak meminta pendapat kepada Kyai tentang nama Muhajir, kebetulan pada masa itu ada da’i terkenal namanya Muhajir. Dan Kyai menyetujunya.

Pada generasi saya, setidaknya saya lihat dari daftar nama teman-teman SD belum tampak nama-nama dengan kosakata Eropa. Kemungkinan karena televisi belum menjamur seperti sekarang. Orang-orang desa seperti bapak saya kalaupun nonton film yang ditonton adalah film Oma Irama dan Arrafiq.

Bapak saya yang kelahiran sekitar tahun 1957 diberi nama Sudarmin, setelah kenal Pondok namanya diganti Abdul Rosyid. Pakde Saya namanya Rostam, Sudiran, Kartubi. Kemungkinan ini adalah kosakata Jawa namun saya belum tahu artinya. Ibu saya lebih muda dari bapak namanya Sanimah, Pak Lek saya namanya Maskuri, Sukri, Solikin. Sedangkan simbah saya dari lajur Bapak namanya Palimah dan Sukarno. Sedangkan dari lajur ibu namanya Margono dan Maryam. Pada generasi ini banyak juga yang menggunakan nawa wayang seperti Seno, dan lain-lain.

Nama mencerminkan budaya yang sedang berkembang dalam masyarakat dalam kurun waktu tertentu. Budaya yang dominan, yang menang, yang menghegemoni akan mendominasi penamaan anak-anak pada waktu tersebut. Melihat anak-anak sekarang diberi nama Eropa, kita dapat menyimpulkan, apa ideologi dominan yang ada di masyarakat sekarang. (muhajir arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 13, 2013, in buku harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: