YANG BEDA DI LEBARAN INI

Acara halal bi halal keluarga

Acara halal bi halal keluarga

Lebaran ini sebenarnya seperti lebaran biasanya. Pagi-pagi saya datang dari rumah menuju rumah orang tua. Kemudian seluruh keluarga kumpul, dari Om dan dan Tante beserta anak-anaknya. Kemudian Kakak dan Adik juga beserta keluarganya. Semua riuh saat mulai membagi-bagi uang ampau.

Ada yang beda. Saya dan istri menyambut lebaran ini tanpa gairah seperti lebaran sebelumnya. Biasa saja seperti tidak lebaran. Istri yang biasanya ribut membelikan baju anaknya, pada lebaran ini tidak lagi karena anak sudah diminta lagi sama yang punya.

Ada lagi yang beda. Sesampai di rumah orang tua biasanya kami disambut dengan berbagai hidangan makanan. Kali ini tidak ada. Agak kikuk memang. Ibu yang biasanya menyiapkan ini-itu, beberapa hari sebelum lebaran jatuh sakit. Menjelang magrib saat 100 hari kepergian Ken, tiba-tiba ibu tidak bisa jalan. Kata dokter ada syaraf yang terjepit. Akhirnya kami para penggemar masakan ibu hanya menyantap makanan masakan istri yang kami bawa sendiri dari rumah.

Acara halal bi halal di mulai. Seperti biasa Bapak memberi pengantar, memberi wejangan kepada kami anak-anaknya dan cucu-cucunya untuk menjalani hidup dengan baik, menjalankan sholat dengan tertib, syukur kepada Allah, dan hal-hal baik lainnya. Pada saat begini biasanya ada beberapa anggota keluarga yang nangis. Bahkan ada yang pergi ke kamar agar nangisnya tidak kelihatan.

Nangis bisanya di latar belakangi masalah berat yang terjadi pada tahun ini. Kemarin salah satu Bu Lik nangis karena anaknya yang baru lulus bandelnya minta ampun. Dulu saat kami masih sekolah, masih belajar di kampus wejangan Bapak seputar, rajinlah belajar, belajar yang benar, yang tekun, dll. Pada saat Bapak ngendikan seperti itu biasanya aku yang nangis. Aku merasa sebagai anak yang prestasinya paling jeblok dibanding anak-anak bapak yang lain. Wejangan Bapak itu seperti menohok langsung ke ulu hatiku. Apalagi saat aku tidak lulus-lulus menyelesaikan kuliah S1 dulu.

Pagi itu ibu yang nangis. Sesungggukan dan tak bisa dihentikan saat menyampaikan permintaan maaf kepada Bapak. Ini juga sesuatu yang membedakannya dari tahun-tahun lalu. Ibu biasanya menyambut kami anak dan cucunya dengan suka cita, membuka-buka toples, bergantian menimang cucunya yang masih kecil, mengelus rambut cucunya yang agak besar, menanyakan kabar sekolah, menanyakan jurus Tae Kwon Do yang sudah dikuasai oleh Fikri cucunya yang tertua, dan hal-hal kecil lain yang seolah tidak begitu penting tetapi sangat berarti. Entah kenapa pagi itu air mata ibu tumpah ruah, mungkin karena sakit yang sedang mendera. Atau yang lain aku tidak tahu. Setelah acara kumpul itu biasanya kami keliling ke rumah Pak De dan Bude, dan lebaran ini Bapak Ibu tidak turut serta.

Selalu saja ada yang lair setiap tahun. Sekarang yang terkecil namanya Afif.

Selalu saja ada yang lair setiap tahun. Sekarang yang terkecil namanya Afif.

Saat ibu masih sakit begini. Setiap hari saya usahakan mampir atau kalau tidak bisa ya telphon.  “Jir, aku pengin HP sing iso kanggo ngrungokke Al Qur’an.” Kata Ibu kemarin. Siang kemarin ibu sambil tiduran cerita banyak hal. Cerita yang sudah dia ceritakan di waktu-waktu kemarin. Beliau tanya, “Ini sudah tak ceritakan kamu belum?” Aku memang anak yang tinggalnya paling jauh meskipun masih satu kabupaten. “Belum Bu” dan beliau mengulang cerita. Mas Nur, kakak pertamaku dan Nia, adikku berumah tinggal di kanan kiri rumah orang tua kami. Sedangkan Mas Pik, kakakku yang kedua tinggal di desa sebelahnya. Mereka setiap hari bisa mengunjungi ibu, bahkan bisa sepanjang hari. Kepada anaknya yang paling jarang ketemu ini mungkin beliau ingin bercerita banyak. Mumpung ketemu.

Di acara itu aku dan istri tidak nangis. Ada sedikit kesedian memang, mengingat tahun lalu melihat Ken berlarian ke sana-ke mari bermain bersama sepupu-sepupunya. Tapi pagi itu aku cukup bahagia dengan Wida yang manja, dan keponakan-keponakan yang selalu ingin menghibur Om dan tantenya.

Toples ini berisi makanan ringan. Dulu Ibu membuatnya sendiri.

Toples ini berisi makanan ringan. Dulu Ibu membuatnya sendiri.

Di acara sukem dengan kakak-kakak juga terasa sangat beda dari tahun-tahun yang lalu. Aku cium tangan Mas Nur aku tatap wajah beliau. Sekarang ini dia sedang didera masalah berat, kemarin harus menemaniku merawat Ken, sekarang mertuanya juga sakit yang membutuhkan perawatan ekstra. Aku cium tangan Mas Topik dengan kesungguhan, aku salami Nia. Dengan ciuman itu aku menunjukan baktiku yang sungguh-sungguh. Mereka telah menunjukkan cintanya kepadaku, kepada keluargaku, kepada anak kami, kemarin saat kami menghadapi masalah. Ciuman itu adalah ucapan terimakasih dari seorang anak yang nakal, Bapak dan Ibu. Dari adik yang bandel, Mas Pik dan Mas Nur. Dari seorang kakak yang selama ini cuek, Nia. Selamat berlebaran, semua kejadian pasti berarti. (muhajir arrosyid).

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 15, 2013, in buku harian and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. ada saja dalam hidup. setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri. kata bapak orang hidup itu ibarat sekolah yang tidak henti. ada masalah berarti ada yang harus diselesaikan untuk mendapat predikat lulus atau tidak. kalau lulus pasti ada masalah lagi. lagi begitu seterusnya.
    hanya saja kita berharap bisa menyelesaikan masalah dengan baik dan bisa naik tingkat. begitu kata bapak setiap memberi wejangan. sabar dan pasti ada hikmahnya (imbuhnya).
    semoga bisa menjadi pelajaran hidup yang berharga pada waktu yang tepat pula.
    (nugz)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: