PENELITIAN ILMU ALAM VS ILMU SOSIAL

Kenapa penelitan itu identik dengan ilmu-ilmu alam? Dulu waktu saya masuk Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) kegiatan yang banyak dilakukan adalah penelitian ilmu alam. Saat kuliah di kampus ada Kajian Ilmiah dan Penelitian Mahasiswa (KIPM) yang banyak dilakukan adalah penelitian ilmu alam. Ilmu sosial seperti tidak ada daya tarik untuk diteliti.

Diakui atau tidak bahwa saat SMA, orang tua akan lebih bangga kalau anaknya masuk jurusan IPA. Banyak sekali anak yang terpaksa masuk jurusan IPS sedihnya luar biasa. Ia yang masuk jurusan IPS kemudian merasa menjadi manusia tingkat ke kedua.

Saya merasa bahwa penelitian masalah sosial tidak kalah menariknya dibanding masalah ilmu alam. Dari dulu saya sering bertanya-tanya tentang keunikan-keunikan yang saya dengar dalam musik dangdut, saya melihat keunikan pada nama-nama orang zaman dulu yang saya lihat di nisan-nisan di kuburan. Saya pernah bertanya kepada Mbah Kakung saya tentang salah satu leluhur saya yang namanya ‘Kromo Gong’. Saya semakin terkaget setelah beliau memberi tahu bahwa di makam yang setiap tahun kami kunjungi ini sebenarnya tidak ada jasad leluhur saya itu. “Mbah Kromo Gong ini meninggal di Makkah” kata Simbah.

Tempat pemakaman itu diadakan dalam rangka untuk mengenang beliau. Jadi kalau mau nyekar ada tempat untuk dituju. “Kita tidak mungkin setiap tahun ke Makkah bukan?” lanjut Simbah. Bagi saya informasi yang sekelumit dari Simbah saya mengelitik saya untuk mengetahui lebih lanjut tentang hubungan orang hidup dan orang mati di kampung kami. Orang di kampung kami saat saya masih kecil hanya terikat oleh tiga hal yang membentuk segitiga yaitu sawah, rumah, dan kuburan.

Bukti kalau masalah sosial di sekeliling kita sangat menarik untuk diteliti adalah banyaknya peneliti dari Eropa yang datang untuk meneliti seegala hal tentang sejarah, budaya, asal-usul, rumah, makanan orang Indonesia. Masalah pintu belakang yang kita anggap hal sepele juga menjadi penelitian yang menarik dengan judul Back Door Java: Negara, Rumah Tangga, dan Kampaung di Keluarga Jawa. Janice Newberry jauh-jauh datang ke Indonesia selama bertahun-tahun untuk meneliti pintu belakakng pada rumah orang Jawa.

Kemudian ada buku The History of Java yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles dan diterbitkan pada tahun 1817. Dalam buku ini, Raffles yang memerintah sebagai Gubernur-Jendral di Hindia-Belanda dari tahun 1811-1816 menuliskan mengenai keadaan penduduk di pulau Jawa, adat-istiadat, keadaan geografi, sistem pertanian, sistem perdagangan, bahasa dan agama yang ada di pulau Jawa.

Ada juga buku yang berjudul Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia yang ditulis oleh Andrew N. Weintraub. Buku ini bercerita tentang asal mula dangdut dan perkembangan musik tersebut. Dari musik yang dipinggirkan dan kemudian diagungkan pada tahun 1990-an. Masih banyak penelitian menarik prihal sosial budaya kita yang malah dilakukan oleh orang luar.

Akibatnya

Keengganan melakukan penelitian budaya sendiri, memahami budaya sendiri berakibat pada kebutaan budaya oleh generasi muda. Apalagi pelajaran Bahasa daerah atau lebih tepatnya bahasa Ibu tidak masuk dalam kurikulum 2013 ini. Akibatnya generasi yang tidak memahami budaya ini sangat mudah menuduh dan menyalah-nyalahkan apa yang dilakukan orang tua.

“Untuk apa membuat kupat dan lepet saat lebaran, bukankah itu tidak ada dalam ajaran agama?” Hal tersebut sampai keluar dari mulut generasi sekarang karena mereka tidak paham bahwa kupat dan lepet adalah simbol pengakuan kesalahan dan permohonan maaf.

“Nikah tinggal nikah saja, kenapa ada cengkir, ada janur, dan lain-lain di gerbang ketika resepsi?” Anak-anak itu menyemooh karena tidak tahu jika cengking adalah simbul kencenge mikir dan janur adalah menjadi terang. Karena ‘Nur’ artinya cahaya. Dengan penelitian ilmu sosial dan budaya maka akan tercapai pemahaman terhadap budaya sendiri sehingga meminimalkan konflik.

Kita seringkali meremehkan apa-apa yang dilakukan orang tua. Mereka kita tuduh irasional, tidak masuk akal dan karena kita tidak memahaminya. Orang tua kita dulu sering mengembunkan air melalui kendi, dan ini ternyata banyak manfaatnya. Akhir-akhir ini jurnal Kedokteran Indonesia menyajikan penelitian Arijanto Jonosewojo, Widayat Sastrowardoyo, Nadia Monita, dan Nafdsu M Muna dari Poli Obat Tradisional Indonesia RS Umum Dr Soetomo. Mereka mengkaji secara ilmiah manfaat air embun sebagai ajuvan dislipedemia. Air embun ternyata memiliki khasiat menyembuhkan yang luar biasa, yang bahkan bisa menurunkan kolesterol LDL, yang menjadi masalah bagi sebagian besar orang dewasa. Air embun juga Sebab dari kajian keempat dokter itu, mereka menemukan air embun mempunyai khasiat menurunkan lemak jahat dan meningkatkan kadar lemak baik. PAHAMIDULU DAN JANGAN CEPAT MENYALAHKAN. (muhajir arrosyid).

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 19, 2013, in Opini and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: