Anty, ia yang hadir setelah ditinggalkan

AntyPagi ini Tuhan memberi kesempatan kepada saya untuk bertemu dengan sebuah tulisan berjudul Anty Perempuan dari titik Nol di Kompas Minggu 15 September 2013 yang ditulis oleh Myrna Ratna. Judulnya mirip dengan sebuah novel Karya Nawal El Sadawi Perempuan di Titik Nol.
Sebuah kisah haru, seorang anak perempuan umur sepuluh tahun harus ditinggalkan oleh ibunya karena kangker, tiga tahun sebelumnya sang ayah juga dijemput oleh yang maha kuasa. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya dalam keadaan seperti itu. Kehilangan, ditinggalkan adalah hal-hal yang menyakitkan. Ibu dan bapak adalah dua orang yang sangat penting dalam hidup kita. Apalagi kalau kita masih dalam usia anak-anak, masih belum memiliki penghasilan, masih butuh sekolah, bimbingan.
Hal itulah yang dialami oleh Anty. Hari-hari berikutnya dijalani oleh Anty di panti asuhan. Saudaranya yang semula ia kira akan mengadopsinya ternyata mengirimnya di panti asuhan. Ia yang sebelumnya hidup di rumah bagus, pakaiannya banyak, tidur di ranjang yang empuk harus menerima kenyataan makan susah, pakaian terbatas, dan tidur tanpa ranjang.
Membaca ini berulangkali saya menghela nafas. Menyaksikan fotonya yang berkacamata dan mengenakan baju warna hitam dengan belang-belang warna putih. Saya tidak menyaksikan sisa raut sedih dimukanya.
Anty. Di panti asuhan itu ia mengubur kenangan indah masa lalu. Bercengrama bersama ibunya, bersama bapaknya, dan bersama kakaknya yang di adopsi orang entah siapa. Ia melangkah belajar untuk melanjutkan lukisan mimpi yang pernah ia bangun bersama ibunya dulu.
“Nanti kamu sekolah di luar negeri” kata ibunya waktu itu. Dan Anty sujud syukur saat mendarat di bandara Narita (Jepang) untuk melanjutkan studi di sana atas biasiswa yang telah diraihnya. Betapa indahnya sebuah impian menjadi kenyataan, sebuah perjuangan yang terbayar. Ia seperti melihat ibunya tersenyum.
Seusai pulang dari Jepang, Anty melanjutkan sekolah di Sekolah Tinggi Telkom Jurusan Tekhnik Industri. Ia memilih jurusan itu karena ingin lekas dapat kerja. Lagi-lagi ia menjawab tantangan dengan menjadi lulusan terbaik, tercepat, dan termuda.
“Saya tidak menyesali kejadian itu, saya juga tidak tahu akan seperti apa jika cobaan itu tidak datang” kata Anty. Anty setelah melakukan perjalanan jauh dengan laka-liku kehidupan. Mengalami hidup rukun berkecukupan, kemudian hancur berkeping-keping mengantarkannya ke panti asuhan, dan pelan-pelan membangunnya kembali sampai ke puncak kesuksesan. Menengok ke belakang ia berpendapat bahwa uang dan kekayaan bukanlah segala-galanya.
Meskipun tidak seberat Anty, saya pernah ditinggalkan dan membuat diri saya sekian saat tak mampu berbuat apa-apa dan menganggap segalanya tidak penting. Saya anggap dunia sudah berhenti. Saya kehilangan orang yang paling saya sayangi dalam sejarah hidup saya. Ia adalah anak. Tapi setelah itu Tuhan mempertemukan saya dengan kisah-kisah. Kisah Ibrahim yang betapa ikhlas melepas Ismail karena Allah. Kisah Muhammad yang juga pernah ditinggal oleh putra kesayangannya. Muhammad menangis meski tidak tersedu. Kata Muhammad waktu itu kira-kira begini “Anakku, jika Tuhan membolehkanku untuk turut serta denganmu, aku akan ikut. Tapi ini kehendak Tuhan.”
Saya Muhajir, saya pengikut Rosul. Saya ikut saja yang telah dicontohkan olehnya dengan menerima takdirNya. Sampai siang ini aku syukuri pula. Tuhan mempertemukan saya pada kisah mengharukan. Kisah Anty yang ditinggalkan kemudian mampu hadir. Dan kehadirannya sangat berarti bagi ketiga anaknya. Selamat pagi Anty. Kisahmu betapa berarti. (Muhajir Arrosyid, @muhajir81)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on September 16, 2013, in buku harian and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: