Cerita Pendek: TIGA PAGI MARLIA

Ilustrasi cerpen

Muhajir Arrosyid 

Pagi pertama:

Belum sampai Ibu menyelesaikan pembicarannya, tangan Bapak menyentuh pipi Ibu. Ini adalah tamparan yang membuat pipi merah. Benar-benar bukan elusan seperti saat pengantin baru dulu.

Marlia meninggalkan pertengkaran itu. Serpihan pecahan gelas memenuhi ruang tamu. Di depan TV, ia melihat serpihan pecahan piring menyebar memenuhi lantai, bantal berpindah di atas lemari. Marlia keluar rumah melewati Bapaknya yang masih mengomel sambil menghadap pada burung-burungnya. Singlet yang dikenakan Bapaknya tersingkap memperlihatkan perut buncit dan tato bergambar ular.

Kejadian itu tepat saat para tetangga berangkat kerja, ayam betina diikuti anak-anaknya mematuk sisa makanan, anak-anak berseragam menunggu angkot di pinggir jalan, entah siapa yang memulai Bapak-Ibu Marlia bertempur lagi. “Kemarin kamu yakin nomer tembus? Kemarin kamu sangat yakin si cukung akan menang. Nomor tidak tembus juga, si cukung kalah lagi.”

Sambil ngomel Ibunya jongkok menjemur krupuk. Rambutnya ditali karet, beberapa menjuntai menutup wajah. Kausnya warna putih bergambar logo partai politik, bersarung kotak-kotak dikenakan alakadarnya. Kepada Ibunya, Marlia pamit untuk melamar kerja di pabrik plastik.

Marlia mengenakan berbahan kaos warna ungu, dari tubuhnya tercium bunga melati. Celananya putih bahan katun, pantatnya tergaris celana dalam. Kepalanya tertutup kerudung putih. Tas pungungnya coklat, berisi map lamaran pekerjaan. Bibir Marlia digaris gincu merah.

Sudah tiga pabrik ia kunjungi belum satu pun memanggil.  Marlia menatap si cukung dalam sangkar, burung kesayangan Bapaknya. Tatapan benci dan cemburu. Ingin sekali meracun burung itu, lempar ke jalan raya, remuk menjadi debu.

Pabrik yang akan Marlia dan Luluk kunjungi adalah pabrik baru, bulan kemarin diresmikan Pak Menteri. Mereka mencari peruntungan, mungkin saja pabrik yang konon milik orang Korea itu membutuhkan karyawan. Lokasinya jauh. Marlia dan Luluk, temannya harus pindah angkot dua kali, melewati lima belas lampu rambu-rambu lalu lintas, melewati dua rel kereta api, dan melewati lima jembatan penyebrangan.

Setelah beberapa menit menunggu, sebuah bus biru mempersilahkan Marlia dan Luluk masuk. Bus terus melaju, menyalip sepeda motor. Menurunkan Ibu hamil, melewati pasar, kolam renang, dan mall. Marlia berkisah. Luluk menanggapi. Mereka asyik ngobrol diselingi tawa-tawa kecil dan ludah yang melentik dari lidah.

“Hari-hari pertama setelah lulus sangat menyenangkan Luk. Aku bisa bangun agak siang, tidak lagi ada PR, tidak ada bentakan guru BP, operasi kaos kaki, kuku, dan rambut. Namun setelah dua Minggu, aku rindu sekolah, tentu saja bukan bentakan dan PR nya. Aku rindu dengan kebersamaan kita, rindu bergurau dengan sahabat-sahabat, jalan-jalan ke pantai, ke mall. Ternyata enak dulu di sekolah. Dulu aku tidak harus membantu di dapur dan di sumur. Sekarang setiap hari aku harus membantu Ibu memasak, mencuci piring, hingga menggoreng krupuk dan membungkusnya. Luluk, ini yang paling penting: saat sekolah aku tidak sesering ini melihat Bapakku ngamuk-ngamuk.” Marlia bercerita kepada Luluk pertengkaran Bapak-Ibunya semalam. Padahal piring dan gelas di rak hampir habis menjadi korban. Bantingan gelas membentur lantai bata bersaing dengan gelegar petir dan deru hujan menghujam. Suara Bapaknya menggelegar seperti letupan-letupan bom sedangkan suara Ibunya tajam seperti desingan peluru. Pada saat terjadi perang di rumahnya, Marlia memilih menyingkir ke kamar daripada piring mampir ke hidungnya. Marlia menutup telinganya dengan lagu //Kau bilang padaku, kau ingin bertemu. Ku bilang padamu oh ya nanti dulu. Aku sibuk sayang. Aku kerja sayang. Untuk mencari beras dan sebongkah berlian….// Sedangkan matanya tersumpal facebook dari Hp ungu.

“Luk, tadi malam aku terbangun karena Hp-ku meraung-raung.”

“Siapa dia?” Tanya Luluk

“Sebuah nomer tak di kenal, suara laki-laki, telepon salah sambung. Tapi Aku melayani pembicaraannya hingga larut. Gelas piring terlempar, pyar. Gaduh Bapak-Ibuku tidak aku pedulikan,” kisah Marlia.

“Telepon salah sambung kamu layani?”

“Tolong jangan menyela dulu Luluk. Lelaki dalam telepon itu bernama Andik, seorang TNI bertugas di Kalimantan. Kepada Andik, aku berkeluh kesah. Di balik hujan, di dalam gelap, aku serasa hangat dipeluk kokoh tangan tentara,” pipi Marlia merah menyemu.

Perjalanan dari rumah menuju terminal cukup menyenangkan. Marlia dan Luluk mendapatkan tempat duduk di samping pintu bus. Di depannya seorang nenek membawa plastik berisi pisang. Di sampingnya seorang ibu mengunyah sirih, di bawahnya lima ekor ayam. Mata para bapak-bapak tidak lepas dari sebuah TV empat belas inci yang tergantung di atas pak sopir. Dari layarnya tersiar seorang perempuan berbaju merah dengan paha terbuka bergoyang, berjingkrak. Lagu berjudul Sahara membahana mengisi seluruh ruang bus.

“Menjelang pukul 00.00, suara Andik masih nerocos tak mau berhenti. Aku pura-pura menguap tiga kali, mengabarkan bahwa diriku sudah mengantuk. Dan telepon berhenti pukul 00.00 tepat.” Terang Marlia.

Marlia melanjutkan. “Oh ya, katanya dalam waktu dekat dia akan mengambil cuti dan datang ke sini. Jika memungkinkan nanti aku kenalkan.”

Sesampai di terminal HP Marlia berbunyi. “Aku sedang di terminal Yang, Terimakasih pulsanya Yang…”

Pagi kedua:

Ibu Marlia telah berangkat ke pasar pagi tadi. Di bagian belakang motornya menjulang krupuk dalam plastik. Sudah berulangkali Marlia diajak Ibunya ke pasar. “Kalau ada kamu Marlia, pasti krupuk akan cepat habis” Tapi mana ada penjual krupuk lulusan SMA, pikirnya.

“Jangan salah, biar krupuk begini, ini yang menyekolahkan kamu sampai SMA, ini juga yang menghidupi keluarga kita. Berharap dari burung-burung Bapakmu itu? Bisa jadi kamu kaliren. Banyak juga itu anak-anak kuliahan bantu orang tuanya menjual bakso. Siapa tahu nanti kamu dapat jodoh di pasar” Jelas Ibunya. Marlia masih enggan. Marlia tahu di pasar ada Ruli yang membantu bapaknya membuat es teh di warung bakso, ada juga Jumi yang membantu Ibunya menjual pakaian. Tapi membantu menjual krupuk jelas sesuatu yang tidak keren, menurunkan drajat. “Bisa-bisa nanti suamiku tukang becak.” Pikir Marlia.

Makanya Marlia sangat berharap lekas diterima di pabrik, atau pacarnya yang dari sebrang itu, yang tentara itu benar-benar mempersuntingnya. Dengan begitu dia bisa lekas melepaskan diri dari ajakan Ibunya membantu atau kalau bisa menggantikan menjual krupuk di pasar. Jika nanti diterima di pabrik, Marlia ingin menyewa kamar dan hidup merdeka di sana. “Sudahlah Bu’ biar Marlia ngewangi Ibu di rumah saja, menjemur krupuk, menggorengnya, memasak nasi, dan mencuci baju” kilah Marlia.

Dan saat pagi begini Marlia di rumah sendirian. Bapaknya kerjanya tidak tentu. Mungkin kerja atau mungkin main saja, kerja lomba burung, menjual dan membeli burung bukankah seperti orang main-main. Saat mencuci piring di dapur Marlia mendengar pembicaraan bapaknya dengan teman-temannya. Mereka ngobrol di belakang rumah, burung-burung dalam sangkar itu dijemur digantung di pohon jambu.

Obrolan mereka paling sering masalah burung tapi bisa melebar sampai mana-mana, mulai dari togel sampai perempuan selingkuhan. Dari mendengar perbincangan mereka, Marlia tahu bahwa Bapaknya menginginkan anak laki-laki.

Setelah selesai mencuci piring Marlia mengambil pisau mengupas terong, Marlia mendengar pembicaraan Bapaknya bersama kawan-kawanya di antara kicau burung.

“Bukannya untung punya anak perempuan Mas Bos? Cepet punya menantu, punya cucu. Dikawin orang lepas tangungan.” Itu Suara Lek Pardi, teman Bapaknya.

“Iya kalau punya besan orang kaya enak Dhi, lha besan dan menantuku kere-kere gitu, ke sini kalau berkunjung pakai motor buntut.” Jawab Bapak. Aku adalah anak ke empat dari tiga saudara yang semuanya perempuan. Yu Kanah dapet Kang Nasir seorang tukang bagunan. Sedangkan Yu Salamah, mbakyu Marlia yang lain dapat Kang Agus kernet angkot. Dan yang selama ini menjadi kebanggaan di antara anak-anak yang lain adalah Yu Kalim, suaminya Kang Aji jadi mandor pabrik. Wah jika benar nanti Marlia bisa dapat tentara pasti Bapak Marlia bangga bukan kepalang.

Marlia dikagetkan oleh cicak kawin yang jatuh tepat di depan mukanya. Marlia senyum-senyum sendiri. Entah membayangkan keindahan masa depan bersanding dengan tentara, entah geli menyaksikan cicak keasyikan kawin dan terjatuh. Dan Marlia meletakkan pisau saat ia mendengar namanya disebut-sebut.

“Itu Marlia kan sudah prawan toh Mas Bos, sudah siap punya suami. Suruh pilih calon mantu yang kaya, apalagi dia kelihatan bening” Saya kenal suara itu, Itu suara Om Alex.

“Kamu carikanlah jodoh yang cocok untuk anakku itu, yang kaya, syukur-syukur warisannya banyak. Jadi nanti aku kemana-mana bisa naik mobil dan kalau musim hujan burung jagoanku ini tidak kehujanan.” Kata Bapak sambil menunjuk burungnya.

“Dan bisa naik haji ya Mas Bos?” pernyataan Om Alex itu menjadikan tawa berderai-derai seluruh yang hadir di tempat itu. Derai tawa itu seketika berhenti setelah terdengar lombok, bawang merah, bawang putih, tomat, dan terakhir trasi jatuh ke dalam penggorengan. Sreng

***

Setelah teman-temannya pulang, Bapaknya menuju meja makan. “Kamu sudah punya pacar belum?” tanya Bapaknya kepada Marlia. Marlia belum sempat menjawab Bapaknya sudah melanjutkan ucapannya.

“Kalau cari suami itu yang sugih! Kalau pacarmu kere tak linggis kowe. Sudah punya pacar belum?” Bapaknya bertanya lagi sedikit membentak. Baru saja Marlia menghela nafas mengumpulkan tenaga untuk menjawab, Bapaknya meneruskan ucapannya.

“Bagaimana kalau sama Om Alex, kamu kenal Om Alex toh?” Dada Marlia tak menentu. Di dapur sepasang kucing kejar-kejaran meraung-raung berebut kepala ikan.

Kakeane. Dasar anak jaran! Kamu itu ditanya tidak menjawab.”

“Bukankah dia punya istri dan anak Pak?” Akhirnya suara Marlia keluar juga.

“Itu bisa diatur. Sebentar lagi istrinya dicerai kalau kamu mau. Bagaimana?”

Marlia tidak menjawab. Ia lari menju kamar. Marlia mendengar sayur yang baru saja dia masak tumpah, kuah mengucur dari meja membasahi lantai bata. Kucing berlari kegirangan menggondol satu potong telur.

Dan Marlia tidak peduli. Ia menutup telinganya dengan lagu Kusmaningati. //Kusumaning ati, duh wong bagus, kang tak anti anti//mung tekamu, biso gawe, tentrem ning atiku// biyen nate janji, tak ugemi, ora bakal lali//tur kelingan, jroning ati, sak bedahing bumi.//

Dan pahlawan selalu datang tepat pada waktunya. Melalui HP, Marlia menyandarkan masalah kepada Andik.

“Ya sudah aku akan datang menjemput, tapi kamu pikir-pikir dulu, kamu yakinkan dulu apakah kamu kuat tinggal di Kalimantan?”

“Saya sudah bosan di sini Yang.”

Pagi ketiga:

Sudah tiga hari Marlia ada di kamar ini bersama Andik, lelaki tentara yang dia idam-idamkan. Yang dilakukannya hanya nonton TV, ngobrol, makan, dan mengulang-ngulang adegan cicak yang pernah ia lihat saat memasak. Setelah pertengkaran dengan Bapaknya, Marlia pergi. Ia hanya meninggalkan sesobek kertas di atas bantal memberi kabar kepada Ibunya bahwa dia akan baik-baik saja.

Tentu saja waktu itu hari masih gelap. Kaki Marlia berjinjit untuk tidak menghasilkan suara. Marlia tidak mau dikejar Ibunya untuk jualan krupuk di pasar. Marlia tidak ingin dikejar-kejar oleh Bapaknya untuk mau kawin dengan Om Alex, lelaki berumur dan sudah beristri. Marlia juga sudah bosan mendengar orang tuanya bertengkar hingga rumah seperti arena perang.

Di pagi yang belum mengizinkan mata untuk melihat segala sesuatu dengan sempurna itu Marlia membuka pintu dan menuju jalan raya. Celengannya sudah dia buka, ada uang tigaratus ribu semua dia bawa sebagai bekal. Ia menunggu angkot pertama yang akan memindahkannya dari trotoar menuju terminal. Meskipun belum mandi Marlia dandan secantik barbie. Kaos dan celananya warna merah sedangkan kerudungnya warna biru tua. Parfum semerbak mewangi di sekujur tubuh. Marlia ingin sang tentara itu kepincut sejak pandangan pertama. Dan di terminal lelaki tegap bercelana loreng menyambar tangannya. Semakin berdebar saat lelaki itu menyuruhnya masuk ke dalam mobil.

Mobil. Jika saja Luluk tahu, jika Ibunya tahu, jika Bapaknya tahu bahwa kekasihnya adalah orang bermobil bukan tukang becak seperti yang selama ini dia takkutkan, bukan buruh bangunan seperti suami kakaknya, bahkan melebih suami kakaknya Kalim yang mandor pabrik yang selama ini dibangga-banggakan oleh Bapaknya.

Dari dalam mobil Marlia mulai melihat matahari mulai naik. Bibirnya senyum-senyum sendiri menyaksikan laut. Sesekali melirik wajah Andik, hitam tapi macho, pikirnya. Marlia tidak sempat berpikir bahwa saat ini Ibunya ke sana ke mari, berteriak-teriak kehilangan anak perawannya. Ia tenggelam dalam limpahan kebungahan, imajinasi masa depan, dan terbuai dengan harumnya parfum dan empuknya sofa mobil.

Sudah tiga hari Marlia di kamar ini, hanya keluar sebentar untuk makan dengan muka sembunyi-sembunyi. Di kamar itu kerjaan Marlia hanya menghidupkan dan mematikan TV. Memindah-mindah chanel sesuka hati. “Nanti hari kelima kita akan menyebrang ke Kalimantan” kata Andik.

Marlia melihat jam, pukul duabelas siang. Ia bangkit berjalan menuju kamar mandi dalam. Setelah keluar dari kamar mandi, ia duduk di sofa yang terletak di samping televisi. Pintu kamar diketuk tapi Marlia seperti tidak mendengar. Ia saksikan Andik, lelakinya tidur miring dan mendengkur. Mulutnya terbuka, liurnya menetes-netes. Lelap setelah meneguk dua botol. Marlia mencari pakean dalamnya yang terlempar entah ke mana.

Tangan kanan Marlia memengang remote TV dan tangan kirinya memegang Hp. Dari TV ia saksikan sebuah berita kehilangan: seorang istri melapor ke kantor polisi bahwa suaminya telah meninggalkan rumah sejak tiga hari yang lalu. Terbayang oleh Marlia tato kala jengking di perut Andik. Marlia gamang, ia menyaksikan dompet Andik. Ingin sekali ia membuka isinya. Bukan untuk mengambil uangnya, ia ingin melihat KTP nya. Tapi Marlia urung, tangannya gemetar. Marlia mengelus-elus Hp nya. Ia bimbang antara menyalakannya atau membiarkannya mati seperti perintah Andik. Pintu kamar diketuk lebih keras, lebih keras lagi. (Demak, 28 Juni 2013)

Catatan:

Kaliren: Kelaparan

Ngewangi: Membantu

Kakeane: Umpatan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Oktober 24, 2013, in Cerita Pendek, Karya Sastra. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. nyata sekali di sekitar kita, gambaran Marlia, Bapaknya, om Alex dan Andik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: