SENYUM ANAK ADALAH SURGA

hafidzMuhamad Sayid Hafidz, bocah itu terbaring. Tubuhnya ditutupi kain warna biru alakadarnya.  Terdapat selang-selang di atas kepalanya. Hitam matanya milirik tajam dibalik kelopak mata yang terbuka sedikit saja. Bocah ini seperti diberitakan oleh Jawa Pos 28 Februari 2014 baru saja mendapat perawatan karena transplantasi hati. Hal yang baru pertama kali dilaksanakan di Indonesia.

Di tempat terpisah Sugeng Kartika, sang Bapak yang menjadi pendonor juga dalam tahap pemulihan. Ia terbaring mengenakan baju warna krem dengan kaca mata menempel. Menyaksikan dua foto itu saya terbawa kenangan pada bilik-bilik rumah sakit, tangisan anak, dan aroma obat. Dan satu lagi cinta orang tua kepada anaknya.

Kepada Sugeng, kita tidak perlu mendengar pengakuannya tentang cintanya kepada Hafidz. Ia yang sebelumnya sehat merelakan diri untuk berbagi sakit dengan buah cintanya. Lunglai tubuhnya seakan ingin berkata. “Kehidupan anak harus diperjuangkan. Pada saat dalam kandungan hingga lahir istrilah yang berjuang bertaruh nyawa. Sekarang saatnya akulah yang harus rela pula bertaruh nyawa.”

Anak bagi kebanyakan orang tua adalah belahan jiwa, belahan hati. Maka jika pun harus ditukar nyawa ikhlas-rela saja. Segeng benar-benar merelakan membelah hatinya untuk Hafidz sang buah hati. Tahukah kamu wahai para anak, cinta orang tuamu kepadamu.

Jika Anda ada waktu berkunjunglah ke Rumah Sakit dan tengoklah bangsal anak. Jangan yang kelas satu, berkunjunglah yang dikelas tiga. Maka kamu akan mengaksikan cinta, cinta, dan cinta. Cinta-cinta yang menggerakkan para orang tua untuk tergigit nyamuk sepanjang malam berbulan-bulan. Cinta itu pula yang memberi kekuatan bagi orang tua untuk kuat tidur beralaskan tikar di tempat terbuka dengan hanya beralaskan tikar. Meneguk air teh melahap nasi bungkus yang dijajakan ibu penjual setiap pagi, sore, dan malam.

Karena cinta itu para orang tua menguatkan hati, mengaksikan darah, selang bergelantung pada tubuh anaknya, menyanyi sepanjang hari. “Meletus balon hijau Der!! Hatiku sangat kacau.” Demi mengemis senyum sang anak. Setitik senyum saja, kebungahan yang tiada tara. Jika kamu tahu wahai para anak.

Namun kenapa juga sering kita dengar kekejaman orang tua menjual anaknya, tega menelantarkannya, menyuruhnya bekerja di bawah lampu rambu-rambu lalu lintas, menyuruhnya mengemis dan ia enak saja menunggu hasilnya?

Namun kenapa ada seseorang yang seenak udelnya membunuh hanya kerena ingin memiliki beberpa rupiah sedangkan hati  dan kehidupan Hafidz dibayar lebih dari satu miliar. Kenapa ada orang yang tega mencuri anak?

Namun kita juga sering mendengar orang tua yang membunuh anaknya sendiri entah alasannya apa. Bapak yang memperkosa dan menghamili anak perempuannya sendiri demi membuaskan tongkat yang menonjol di slangkanggannya.

Apakah ia tidak menyadari di tempat lain banyak orang mengikhlaskan apa saja yang ia punya demi kehidupan anaknya. Sedangkan ia yang diberi karunia kesehatan malah menyia-nyiakan dan bahkan mencampakkannya?

Sembrono. Alasannya adalah kembronoan terhadap kehidupan. Saya teringat sebuah puisi yang dibacakan oleh Emha Ainun Najib bahwa Tuhan mengurus segala sesuatu dari yang paling remeh temeh, dari mulai tetes air embun. Tetapi kenapa kita begitu sembrono mempermainkan hudup? Semoga kita termasuk orang-orang yang dipelihara Allah untuk terus memiliki cinta.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Maret 3, 2014, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: