LINGKARAN KAMI PAGI INI


Tradisi di tempat kami bekerja (IKIP PGRI Semarang) adalah menyelenggarakan do’a bersama setiap hari Senin pukul 07.30. WIB di lobi Gedung Pusat. Acara dimulai dengan cerita, satu di antara kami secara bergiliran menyampaikan sebuah cerita. Dari cerita tersebut para hadirin diharapkan dapat menyerap hikmah di balik cerita tersebut.

Hal-hal yang diceritakan sederhana. Parnah pada suatu ketika Bu Suci (Dra. Sri Suciati, M.Hum, Wakil Rektor I IKIP PGRI Semarang) bercerita tentang sepasang kuda. Satu kuda bekerja rajin dan satu kuda yang lain bekerja malas suka mengerutu. Kuda yang rajin bertanya kepada kuda yang malas. “He kenapa kamu sukanya menggerutu?” tanya sang kuda yang rajin.

“Aku tidak suka dengan petani. Petani itu tidak pandai, tidak adil, makanya aku malas menuruti perintahnya.” Jawab Sang kuda malas. Sikap ogah-ogahan sang kuda malas tersebut juga terlihat saat ia ditunggangi atau menarik gerobak. Orang yang menaikinya tidak mendapatkkan kenyamanan.

Sang kuda rajin bertanya kembali. “Kalau kamu tidak nyaman bekerja disini kenapa kamu tidak lari saja pergi ke hutan atau mencari petani lain yang menurutmu lebih baik?”

“Mana bisa begitu? Siapa petani lain yang mau memperkerjakanku dan menyediakan rumput seperti di sini?” jawab sang kuda malas.

“Kalau kamu tidak bisa bekerja di tempat lain dan tidak yakin ada petani lain yang lebih baik dari petani yang sekarang memperkerjakan kita maka bekerjalah sebaik mungkin di tempat ini.” jelas kuda yang rajin. Sejak saat itu kuda yang tadinya malas menjadi rajin.

Ibu Yuyun (Ismaryuningsih) pada kesempatan yang lain bercerita tentang semut. Menurutnya kita dapat belajar dari hewan, makhluk Tuhan yang kecil itu. Menurutnya semut memiliki unggah-ungguh yang baik. Mereka memiliki sikap saling membantu satu sama lain. Setiap kali bertemu mereka bertegur sapa dan bersalaman. Sikap demikian juga bisa diterapkan di dunia kerja kita. “Apa salahnya belajar dari semut? Jika hal tersebut memang baik?” katanya.

Pagi ini (24/03/2014) yang mendapat giliran bercerita adalah Bu Wiwik (Dra. Wiwik Kusdaryani, S.Pd, Wakil Rektor II IKIP PGRI Semarang) dan yang mendapat giliran memimpin do’a adalah Mas Teddy. Pagi ini Bu Wiwik bercerita tentang orang Cina dan alasan-alasan kenapa mereka sekarang menjadi negara yang besar dengan ekonomi yang perkasa dan ditakuti oleh negara-negara Adikuasa. Menurut Bu Wiwik, orang Cina memiliki falsafah hidup yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Falsafah hidup tersebut yang pertama adalah menepati janji. Datang tepat waktu saat bekerja termasuk menepati janji. Kedua adalah kesalahan kecil adalah awal dari kesalahan besar. Falsafah ini mengajarkan kepada kita untuk bekerja sebaik mungkin dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan kesalahan.

Ketiga adalah rendah hati. Sikap rendah hati adalah terbuka atas masukan dari orang lain karena untuk maju seseorang harus mendengar masukan dari orang-orang yang lebih berpengalaman. Pagi itu Mas Teddy memimpin do’a dengan khusuk meminta agar lembaga ini semakin berkah. Sampai ketemu di renungan Senin mendatang. Semoga kembali mendapat inspirasi. (Muhajir).

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Maret 24, 2014, in Berita. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. terima kasih atas ceritanya, mas. sangat menginspirasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: