KEMBALI KE UBI

Presiden Joko Widodo memerintahkan untuk menyajikan makanan tradisional seperti sigkong, ubi, dan kacang rebus di kantor-kantor pemerintahan. Anjuran ini tidak hanya bermakna penghematan tetapi memiliki makna kultural yang mendalam.

Makanan-makanan yang saya sebutkan di atas selama ini telah tersingkir dari meja-meja kantor. Meja kantor terlalu terhormat disajikan makanan-makanan tersebut. Antara kantor dengan singkong seperti bertolak belakang, dua hal yang saling berjauhan. Singkong, ubi, dan kacang rasanya lebih layak dimasak dengan kayu bakar di dapur yang hitam dihidangkan kepada Pak Tani sehabis lelah mencangkul.

Benarkah ubi dan teman-temannya tersebut tidak layak singgah di meja kantor? Apakah gizinya kalah dibanding buah dan makanan yang selama ini disajikan di kantor? Dalam laman www.carakhasiatmanfaat.com disebutkan bahwa ubi jalar mengandung vitamin A, C dan E, beta karoten, magnesium, kalium dan juga kaya oksidan. Sedangkan singkong atau ubi jalar menyediakan energi sebesar 160 kcal, jumlah karbohidrat 38.06 g, protein 1,36 g 2,5, total lemak 0.28 g, kolesterol 0 mg, dan serat 1,8 g. Artinya makanan yang sering digunakan sebagai ‘olok-olok’ ini memang layak diangkat derajatnya.

Singkong atau ketela atau disebut ‘tela’ memang sering digunakan sebagai simbol kebodohan dan kemiskinan. Orang yang bodoh dituduh karena kemiskinan dan hanya mampu mengonsumsi ketela. Maka jika seorang murid tak mampu menjawab soal maka sering diperolak ‘Ooo telo!’. Hingga Arie Wibowo membuat sebuah lau berjudul Singkong dan Keju.

Segala hal yang melekat pada diri kita adalah mengomunikasikan sesuatu. Pakaian yang kita kenakan, musik yang kita dengarkan, kendaran yang kita kendarai, dan makanan yang kita konsumsi semua mengomunikasikan sesuatu. Antara singkong dan keju adalah menampilkan kontras yang demikian jelas. Dalam lagu yang dipopulerkan oleh Arie Wibowo tersebut keju berteman dengan parfum dari paris, sepatu dari itali, disko, dan gengsi tinggi. Sedangkan singkong berteman dengan musik jaipong, dan kesederhanaan. Tjahja Gunawan Diredja menyusun buku berjudul Chairul Tanjung Si Anak Singkong menceritakan kisah hidup Choirul Tanjung, seorang pengusaha papan atas Indonesia yang berasal dari kampung. Singkong dipertegas dalam buku ini melekat dengan kampung.

Menengok kebun

            Perintah presiden tersebut memaksa kita untuk kembali menengok kebun dan pekarangan kita. Tempat dimana ubi-ubi tersebut tumbuh. Di pekarangan itu selain memanen ubi kita juga bisa ramban yaitu memetik sayuran, mengambil cabe secukupnya, mengambil obat kalau kita masuk angin, sakit perut, dll.

Kita tilik kembali apakah ubi-ubi masih tumbuh di saat sedikit orang yang berprofesi murni menjadi petani. Karena profesi petani sekarang biasanya disambi dengan bekerja di proyek bangunan, dan pekerjaan serabutan yang lain. Atau malah justru timbul pertanyaan “di manakah pekarangan kita?”

Di Pulau Jawa terdapat pekarangan seluas kurang lebih 1,5 juta ha, atau hampir mencapai luas 20%-nya dari seluruh luas tanah pertanian. Luas pekarangan seluruh Indonesia mencapai sekitar 2.256.266 ha atau 16,88% dari seluruh luas tanah pertanian rakyat. (Agus Wariyanto, 2012). Harus kita akui bahwa lahan pekarangan kita tempat tumbuh ubi-ubian itu semakin sempit. Pekarangan sudah berdiri rumah-rumah atau dijual kemudian berdiri pabrik. Maka kita perlu pengetahuan untuk mengantisipasi lahan yang kian sempit itu. Agar kita tidak kelabakan saat harga pangan melambung tinggi. Kita bisa memetiknya di halaman rumah kita sendiri.

Jangan pesimis karena kehilangan pekarangan. Kita adalah negara yang kaya, Tuhan menganugrahi kita tanah yang subur, matahari yang rajin memancar, dan air yang masih mengucur dari langit. Percumbuan antara tanah, biji tanaman, air, dan matahari akan menghasilkan buah yang manis. Mari kita hitung. Untuk tanaman ubi atau cabe satu tanaman kita membutuhkan lahan dengan jarak tanam 40 x 60 cm, artinya kalau kita memiliki halaman seluas 40 kali 360 cm maka kita bisa memiliki 12 tanaman dengan syarat lahan tersebut terkena sinar matahari. Kita bisa menggunakan pot atau botol-botol bekas sebagai tempat, asal kita siram setiap pagi dan sore pasti tanaman tersebut tumbuh dan berbuah. Bahkan kalau kita tidak punya lahan jika kita punya dinding asal itu terkena sinar matahari maka pot-pot juga bisa digantung di dinding-dinding tersebut. Tahan 40 kali 360 bisa digunakan untuk menanam lebih banyak tananman kalau cara menanamnya mengunakan sistem rak, bertingkat.

Tanah kita adalah tanah yang subur, benar kata Koes Plus dalam lagunya Kolam Susu. Kita beli singkong tanah kemudian kita tanam di tanah maka ia akan tumbuh sendiri. Biji-biji cabe sisa kita memasak kita lemper ke tanah maka ia akan tumbuh sendiri. 12 tamanan cabe dari lahan 40 kali 360 cm tersebut cukup membuat bibir kita kepedasan dan badan kita berkeringat seusai makan. Dari 12 ubi juga cukup membuat perut kita kenyang untuk nyamikan membaca koran Suara Merdeka ini.

Selain indah dan menghasilkan, tumbuhan di halaman kita juga baik untuk lingkungan. Pada siang hari tumbuhan berfotosintersis dengan mengambil CO2 dari udara dan melepaskan O2 ke udara. Menanam di pekarangan membuat kualitas udara di sekitar rumah kita menjadi baik.

Mari menanam dan memakan ubi (lagi). Melalui politik ubi, Jokowi mengingatkan asal-usul kita-nenek moyang kita; seorang petani. Toh mitos tentang singkong sebagai sebab kebodohan sudah dipatahkan, salah satu buktinya Chorul Tanjung si anak singkong itu telah menjadi milyader. Muhajir Arrosyid

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Desember 28, 2014, in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: