PARANGTRITIS KAMI AKAN KEMBALI

parangtritis1Rasane kepingin nagis yen kelingan parangtritis ning ati koyo diiris. Naliko udan gerimis, Rebo bengi malem Kemis.Ora nyono ora ngiro, ora ngiro janjimu jebul mung lamis.

 

Kalimat di atas adalah lirik lagu gubahan penyanyi campursari kenamaan bernama Dedi Kempot berjudul Parangtriitis. Sore itu mendung gelap tetapi tidak seperti dalam lagu tersebut-gerimis tidak turun. Bukan hari Rabu malam Kamis melainkan hari Kamis malam Jumat, tanggal 1 Januari 2015, aku bersama Bening, anakku, Ibunya dan keluarga besar berkunjung ke pantai Parangtritis, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pantai yang menjadi favorit kunjungan wisata baik keluarga maupun muda-mudi. Macetnya minta ampun. Kami harus bersabar melawan macet yang luar biasa. Kami terjebak kemacetan sekitar satu setangah jam. Bening nangis risih karena eek di pembalut dan minta segera dibersihkan.

Tidak sedikit yang putar balik, tidak jadi sampai ke pantai yang membuat Dedi Kempot terkesan hingga membuat lagu tersebut. Perjuangan kami tidak sia-sia. Kami masih sempat menyaksikan senja yang indah. Mega yang merona di atas laut. Terpantul di ombak yang menderu-deru. Parangtritis rupanya sudah berubah. Aku terakhir ke tempat ini sekian tahun yang lalu. Kalau tidak salah kelas enam Sekolah Dasar. Sekarang parangtritis lebih tertata. Pedagangnya banyak. Kudanya besar-besar, pantainya luas dan indah. Meskipun jalan menuju ke sana masih becek dan tempat mandi dan ganti baju juga kurang bersih.

Tiket masuk di Parangtritis relatif murah. Itulah yang mengkin membuat tempat ini menjadi tujuan wisata kebanyakan orang. Satu mobil Avansa hanya diminta 30 ribu rupiah.

Kami duduk di tikar tempat ibu-ibu menjajakan jagung bakar dan kelapa muda di bibir pantai. Bening yang baru sepuluh bulan itu senangnya minta ampun bermain pasir. Ini adalah kunjungan pertamanya ke pantai. Ini adalah hari pertamanya menyaksikan laut. Mungkin ia tidak akan ingat peristiwa ini kelak kalau sudah besar karena memorinya belum mampu menangkap. Tetapi kelak kami akan menceritakannya kembali peristiwa senja merona yang indah ini kepadanya.

Anak-anak berlarian bermain ombak. Para penjaga pantai mengingatkan untuk tidak masuk ke pantai terlalu dalam karena ombak semakin sore semakin tinggi. Ibu penjual janggung bercerita. “Satu Asura kemarin ada orang hilang di pantai ini. Itu adalah peristiwa terakhir terjadinya orang meninggal di pantai ini. Jenazahnya tidak diketemukan.”

Aku berkidik. Parangtritis, laut selatan memang terkenal memiliki ombak yang ganas. Terkenal kengerianya sekaligus mitos-mitosnya.

Muda-mudi bergandengan, berangkulan bahagia, berfoto selfie tak peduli dengan orang lain. Sebagian yang lain ada yang bermain layang-layang. Ada yang naik kuda, juga kuda berkereta.

Parangtritis yang indah, pantainya luas menghampar kami akan kembali lagi ke sini suatu hari nanti. Jika Anda ingin menginap juga banyak penginapan yang murah. Maka muda-mudi yang mengikat janji, atau melanggengkan ikatan, atau ada yang sedih seperti Dedi Kempot; kecewa karena Parangtritis hanya menjadi kenangan, kenangan pahit. (Muhajir Arrosyid)

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 4, 2015, in Jalan-jalan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: