MENYOAL ‘DEMAK RELIGIOUS EDUCATION PARK’

Sebagai warga Demak saya senang mendengar akan dibangunnya sebuah tempat wisata baru di Kabupaten Demak yang akan diberi nama ‘Demak Religious Education Park’ (DREP). Itu artinya destinasi wisata di Kabupaten Demak akan bertambah dari yang selama ini sudah kita kenal antara lain Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Makam Sultan Fatah, dan Masjid Agung Demak. Namun, saya menyayangkan, kenapa penggunaan namanya mesti rebet menggunakan bahasa asing.

Seperti diberitakan oleh Suara Merdeka (4 April 2015) menurut Bupati Dachirin, destinasi wisata yang akan dibangun tersebut adalah destinasi wisata religi yang memiliki setting sejarah kebudayaan Islam. Pembangunan ini merupakan tindak lanjut dari gagasan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakemenag), M Thobiq.

Adakah yang salah dengan pembangunan tempat wisata baru tersebut? Tidak ada yang salah. Apalagi menurut Bupati tujuan pembangunan ini antara lain untuk wahana  mencari ketenangan jiwa di tengah kondisi penuh dengan problematika hidup serta degradasi nilai agama dan moral.

M.Thobiq, sang penggagas mengungkapkan bahwa latar belakang pembangunan DREP ini adalah untuk meningkatkan lama kunjungan wisatawan. Menurutnya selama ini wisatawan berkunjung di tempat wisata Demak hanya dalam hitungan jam, dengan adanya wisata baru ini diharapkan wisatawan akan madek  di Demak lebih lama. Ia menambahkan destinasi ini menghadirkan visualisasi secara menyeluruh mengenai peradaban Islam di Demak. Mulai zaman masyarakat masih menyakini paham animisme dinamisme hingga masuknya ajaran dan syiar Islam.

Menyoal Nama

Sebuah tujuan yang mulia, namun penggunaan nama dengan bahasa asing terdengar janggal, latah, dan tidak berkepribadian. Tujuan wisata ini seperti diungkapkan penggagasnya adalah agar generasi sekarang tidak lupa sejarah syiar Islam. Penggunaan nama yang susah di lafalkan oleh lidah orang Demak, apalagi dipahami itu menunjukkan bahwa sang penggagas tidak menerapkan ajaran leluhur, para wali.

Demi keberhasilan dakwahnya para wali menyederhanakan hal-hal yang susah di pelajari agar umat mudah memahaminya. Baik itu melalui tembang, wayang, gambar, atau penamaan-penamaan barang atau benda. Contoh saja untuk tempat ibadah diberi nama langgar. Menurut sejarawan Agus Sunyoto yang juga pernah diundang dalam saresehan di pendopo Kabupaten Demak pada HUT Demak tahun 2014 menyatakan kata langgar berawal dari kata ‘sanggar’. Sanggar adalah sebuah tempat ibadah agama Kapitayan, agama orang Jawa sebelum Islam masuk. Para wali itu mengubah nama dari sanggar menjadi langgar sekaligus mengubah fungsinya dari tempat ibadah agama Kapitayan untuk ibadah umat Islam. Penggunaan istilah lokal oleh para wali tersebut bertujuan agar Islam yang baru masuk tersebut tidak menjadi ‘liyan’ dan ditolak. Islam hadir sebagai sesuatu yang dekat dengan kebudayaan yang ada sebelumnya.

Contoh lain, untuk menyebut nama ibadah tidak menggunakan ‘sholat’ pada awalnya tetapi ‘sembangyang’, menyembah sang hiyang raya. Sembahyang adalah juga penamaan ibadah agama kapitayam. Ibadah puasa pada mulanya tidak menggunakan bahasa Arab ‘Sahum’ tetapi puasa dari asal kata ‘upayasa’, sebuah sebuah ibadah menahan nafsu agama Kapitayan. Seperti diungkapkan oleh Agus Sunyoto pula bahwa jawa sebelum agama Islam masuk terbagi menjadi dua kelompok masyarakat pertama kelompok masyarakat gusti terdiri dari raja dan para pembantunya yang memeluk agama Hindu dan kelompok kawulo, abdi yang memeluk agama Kapitayan. Contoh lain agar sebuah pesan dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat maka para wali menggunakan tembang. Kita kenal gundul-gundul pacul, ajaran kepada pemimpin agar menjaga amanat, menjaga tanggung jawab sebaik mungkin karena kalau dia gembelengan maka bukan hanya dia yang celaka tetapi juga rakyatnya. Ada juga lagu Lir-ilir ajaran tentang iman dan menggunakan waktu sebaik mungkin. Kenapa sekarang kita ribet membuat nama? Masjid agung Demak namanya tidak diganti dengan Demak Great Mosque, toh pengunjungnya masih saja banyak.

Jangan remehkan bahasa. Bahasa adalah cara untuk merangkul. Bahasa Walisongo disesuaikan dengan kebutuhan, dengan siapa dia bicara. Maka munculah bentuk menara seperti Pure seperti dapat kita saksikan pada masjid menara di Kabupaten Kudus. Bahasa juga memperlihatkan minder tidaknya sebuah kebudayaan, menunjukkan status, bahkan bahasa menunjukkan menang atau kalah sebuah kebudayaan.

Kebudayan kita dikenal kecanggihannya dalam merangkul dan meredam budaya asing yang masuk. Budaya-budaya dari luar boleh masuk tetapi kemudian hadir kembali dengan sesuatu yang baru yang tidak sama persis dengan budaya asalnya. Wayang, cerita Mahabarata, Ramayana masuk dari kebudayaan India namun hadir punokawan yang lahir dari perut kebudayaan Indonesia, lahir lakon Dewa Ruci dari kebudayaan kita.

Tujuan nama dengan menggunakan Bahasa Inggris mungkin agar tempat wisata ini tidak terdengar kuno dan dapat menjangkau pengunjung anak muda. Bahasa asing dianggap bahasa modern dan lebih dekat dengan anak muda sedangkan bahasa bahasa Jawa dianggap bahasa tradisional. Namun patut juga direnungkan bahwa yang kono dan tradisional ternyata memiliki sifat awet dan tahan lama. Berapa umur lagu ilir-ilir, gundul-gundul pacul tetapi hingga hari ini masih dapat kita dengarkan. Bandingkan saja dengan lagu-lagu modern yang umurnya tak lebih dari lima tahun. Dengan tulisan ini saya harap pemerintah Kabupaten Demak mempertimbangkan nama baru untuk tempat wisata yang akan dibangun, sebuah nama yang mewadahi moderenitas agar anak-anak muda tertarik mampir sekaligus nama yang menghargai lokalitas. Demikian. Muhajir Arrosyid – (Dimuat di Suara Merdeka edisi 04 April 2015).

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 4, 2015, in Opini and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: