PUISI NISAN BAGI PENYAIR

nyanyian akar rumput WIJI THUKUL

Nyanyian akar rumput WIJI THUKUL

Nyanyain Akar Rumput, Kumpulan Lengkap Puisi Wiji Thukul adalah buku yang tepat dibaca di hari buruh internasional di bulan Mei ini. Apa pasal? Buruh adalah profesi yang dihormati dan diperjuangkan oleh Wiji. Alasan lain, tangal 21 Mei 1998 adalah hari di mana razim yang digugat oleh Thukul yaitu Soeharto tumbang.

Buku terbitan Gramedia ini memuat 172 puisi karya Wiji Thukul dari tahun 1980-an hingga menjelang lengsernya Soeharto di tahun 1998. Membaca puisi-puisi Wiji Thukul maka kita akan melihat kegelisahannya tentang realitas sosial yang timpang dari mula ia terjun ke dunia kepenyairan. Lihat saja puisi berjudul Monumen Bambu Runcing yang ia tulis pada tahun 1986: /Monumen bambu runcing/di tengah kota/ menuding dan berteriak merdeka/di kakinya tak jemu juga/pedagang kaki lima berderet-deret/walau berulang-ulang/dihalau petugas ketertiban/. Puisi tersebut memang belum menunjukkan perlawanan namun sudah menunjukkan realitas sosial yang timpang. Selanjutnya puisi-puisi Wiji Tukul tidak hanya berbicara tentang realitas sosial tetapi berani lebih terbuka mengkritik presiden, jendral, polisi. Nama-nama yang muncul dalam puisi-puisi tersebut antara lain Si Kuncung, Pak Karto, Si Bejo, Mbok Sukiyem, Si Selamet, Bangong. Mereka adalah budak pembangunan yang diperas tenaganya tetapi dihargai murah.

Jika dirunut dari profesi-profesi yang muncul dalam puisi-puisi Wiji Tukul antara lain petani, buruh, pedandang kaki lima, tukang becak, kuli, penyair, tentara, presiden. Merunut dari profesi-profesi yang muncul sangat menarik karena profesi-profesi dalam puisi tersebut saling dihadap-hadapkan. Buruh, kuli, tukang becak, pedagang kaki lima. Di kelompok profesi yang lain adalah jendral, presiden, dengan alat-alat kekuasaannya. Kita lihat dalam puisi berjudul nyanyain akar rumput di halaman 25, /ayu bergabung ke kami/biar menjadi mimpi buruk presiden. Dalam penggalan puisi di atas dapat kita lihat presiden di letakkan sebagai orang luar, sebagai ‘kalian’ yang tidak satu golongan dengan si aku, kami, kita. Di puisi lain berjudul jalan slamet riyadi solo ditutup dengan kalimat /cepat menepi ada polisi/banmu digembos lagi nanti/. Dalam puisi tersebut jalas bahwa polisi adalah pihak lain, tidak satu kelompok. Puisi serupa yang menempatkan polisi sebagai musuh juga muncul dalam puisi berjudul biarkanlah jiwamu berlibur, hai penyair, di sana ada kalimat: /barangkali masih kau temukan polisi lalulintas yang seperti malaing.

Banda-benda yang menjadi pemisah antara kelompok aku, kita, kami, dengan kelompok di sebrangnya yaitu kalian, kau adalah benda-benda seperti senapan dalam puisi berjudul tetangga sebelah rumahku, dan puisi yang berjudul satu mimpi satu barisan. Berikut penggalan puisinya: /tak bisa dibungkam kodim/tak bisa dibungkam popor senapan/.

Puisi Wiji Thukul banyak berkisah tentang nasib buruk buruh. Buruh yang diperlakukan sewenang-wenang seperti dalam puisi berjudul edan. Berikut penggalan puisinya: sudah diperas dituduh maling pula, karena istirahat gaji dipotong. Ada 17 puisi yang membicarakan tentang nasib buruh antara lain berjudul sajak kepada bung dadi, kuburan purwoloyo, lumut, dll. Hal itu menunjukkan bahwa perhatian Wiji Thukul terhadap buruh teramat besar. Hal itu kemungkinan karena dia berlatar belang buruh, istrinya Sipon juga seorang buruh, dan dia hidup di lingkungan buruh.

Pembelaan Wiji terhadap buruh tak hanya melalui puisi tetapi juga menggalangan massa untuk demo besar-besaran di pabrik Sritek, 15 ribu buruh mogok kerja. Thukul ditangkap dan dihajar hingga setengah tuli dan nyaris tidak bisa melihat. Hal tersebut tertera dalam majalah Tempo edisi khusus Tragedi Mei 1998-2013: Teka-Teki Wiji Thukul. Dampak dari demo tersebut harus dibayar mahal oleh Wiji, ia menjadi buron penguasa dan hidup berpendah-pindah dari daerah-satu ke daerah lain sampai kemudian dinyatakan hilang dan tidak ditemukan hingga sekarang. Selain buruh banyak juga puisi tentang becak, hal ini kemungkinan karena bapaknya adalah tukang becak.

Tidak hanya tentara, penguasa, polisi saja yang mendapat kritik dari Wiji, tetapi juga ilmuan yang ia olok-olok sebagai ilmuan bayaran dalam bab para jendral marah-marah “ …omongan penguasa, nonton tivi – omongan penipu – presiden marah-marah – jendral-jendral marah-marah – intelektual bayaran  ikut-ikutan…..”

Dalam banyak puisi juga menampakkan sisi relijius Wiji dan sayangnya Wiji kepada istri dan anaknya. Di awal-awal kepenyairannya Wiji pernah memberi pernyataan dalam sebuah wawancara bahwa berpuisi sama saja dengan pergi ke gereja atau ke masjid untuk beribadah. Puisi yang di buat oleh Wiji dalam pelariannya berjudul Baju Loak Sobek Pundaknya bercerita tentang Wiji yang membelikan baju Loak untuk istrinya yang ternyata sobek bagian pundak. Dalam puisi berjudul catatan di halaman 164 mengisahkan ketika Wiji pamit kepada isterinya untuk melakukan pelarian. Puisi tersebut tertanggal 15 Januari 97,  namun peristiwa pamit Thukul kepada isterinya adalah Agustus 1996, enam bulan setelah pelarian. Berikut penggalan puisi tersebut: tak sempat mencium anak-anak khawatir membangunkan tidurnya.

Diksi flora dan fauna

Apa saja digunakan oleh Wiji untuk mengkontaskan kalian (penguasa, presiden, kodim, polisi) dengan kami, kita, (buruh, tani, kuli) termasuk penggunaan diksi flora dan fauna. Diksi flora misalnya rumput, lumut, ilalang, bunga, ubi, biji, sebagai sibul rakyat kecil yang dihadapkan dengan tembok sebagai simbol kekuasaan yang harus ditumbangkan. Begitu pulang dengan penggunaan diksi fauna. Dalam buku puisi tersebut muncul hewan-hewan seperti tikus, gajah, kucing, katak, anjing, ikan, harimau. Hewan-hewan kecil mewakili orang kecil dan hewan buas seperti harimau sebagai perumpamaan kebuasan kekuasaan.

Dari Wiji Thukul kita belajar bahwa menuis adalah cara melawan yang elegan meskipun mengandung resiko yang mematikan. Hingga hari ini Wiji Thukul belum diketahui rimbanya. Ada yang yakin ia masih hidup, ada pula yang percaya dia sudah meninggal. Jika ia sudah meninggal, biarlah puisi-puisinya menjadi nisan baginya. Nisan yang hidup dan berakar di kepala para pembaca. (Muhajir Arrosyid)

Dimuat di Suara Merdeka edisi 03 Mei 2015.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 4, 2015, in Kritik Sastra. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: