SETALAH KEMATIAN KECIL

(Pengalaman membaca buku sehimpunan puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo karya Triyanto Triwikromo)

Kematian betapapun kecilnya tetap saja membuat bulu kuduk berdiri, rasa iba, kengerian. Entah itu kematian musuh, penjahat, bahkan kamatian tikus yang dilempar ke jalan dan tergilas roda-roda.  Apalagi kematian seorang sahabat. Kartosoerjo adalah seorang sahabat negeri ini. Ia seperti dikatakan oleh Sukarno (xiii) pada mulanya memiliki mimpi yang sama tentang negeri ini.

Kematian kecil. Itu memberi kesan bahwa Kartosoerjo adalah sebuah ide, sebuah mimpi, sebuah imajinasi. Maka aku heran pada orang-orang yang merendahkan imajinasi padahal sebuah bangsa sekalipun dibangun dari sebuah imajinasi seperti dikatakan oleh Benedict Anderson; imagined communities komonitas-komonitas terbanyang.

Kematian kecil. Karena tubuh, fisik itu adalah hal kecil. Ia terbatas oleh waktu. Ia direnggut oleh masa tetapi mimpi itu abadi. Aku jadi ingat apa kata Pramoedya Ananta Toer: Bersekolahlah kau tinggi-tinggi tapi tanpa kau goreskan pena sejarah akan menggilasmu. Karena tulisan memuat ide, mimpi, imajinasi yang usianya jauh lebih panjang daripada tubuh. Tubuh ringkih dan keriput Kartosoerjo sekalipun tidak dieksekusi tetap saja akan luruh pada suatu hari. Pun orang-orang yang mengeksekusi juga sudah mati dengan alasan masing-masing. Tetapi sebagai sebuah mimpi ia timbul tenggelam dalam ingatan negeri ini.

Jejak atas ‘mimpi’ Kartosoerjo itu aku lihat di perempatan Milo Semarang sore hari. Hanya sepuluh meter dari pos polisi. Sebuah sepanduk sepanjang 1 x 7 meter bertuliskan: DEMOKRASI NO, KHILAFAH YES. Di media sosial orang-orang terang-terangan bercericit: DEMOKRASI ITU TIDAK ADA DALAM ALQUR’AN JIKA KHILAFAH JELAS. Di kesempatan lain ada juga yang ngetwit: KALAU MEMBELA AGAMA JELAS HUKUMNYA, MEMBELA NEGARA TIDAK ADA DALILNYA.

Kenapa mimpi itu timbul dan tersemai? Aku mengutip tulisan guruku, Mudjahirin Thohir dalam Multikulturalisme-agama, budaya, dan sastra. Katanya timbulnya gerakan tersebut karena mereka melihat kebobrokan yang timbul di pemerintahan dan masyarakat yang jelas berpaling dari agama. Maka timbul kebutuhan mereka untuk menjadikan agama tidak hanya sebagai landasan ideal tetapi juga landasan hukum (syar’i) dalam kehidupan bersama. Isalam sebagai agama dan negara (Innal al Islam Din wa Daulah).

Pengetahuain ini sekaligus untuk memahami kenapa sekarang banyak produk-produk syar’i seperti bank syariah, hotel syariah, salon syariah, dll.

Ada dua mimpi dari teman-teman kita, teman-teman yang dulu ikut memperjuangkan negeri ini yang dipenjarakan. Kartosoerjo adalah salah satunya, yang lain adalah komonisme (mengucapkan ini harus sambil berbisik, jika ada yang dengar bisa dianggap subversif dan dilaporkan). Ketakutan untuk yang kedua ini tampakknya lebih traumatik. Orang mau diskusi buku saja yang belum jelas ada sangkut pautnya dengan komonisme sudah ditolak, dikepung, dibubarkan, kalaupun jadi harus dijaga oleh polisi. Apalagi sampai berani memasang spanduk ajakan yang hanya berjarah 10 meter dari pos polisi dan menulis di media sosial. Tampaiknya kadar ketakutan atas mimipi yang dianggap menyimpang itu memiliki kadar yang berbeda.

Ini ide saja untuk Mas Triyanto, jika kelak kekurangan ide. Setalah buku kematian kecil ini ditunggu buku-bukunya yang lain misalnya tentang ‘Kematian kecil Aidit’ atau ‘Kematian kecil Muso’ dengan gaya serius-serius nyinyir yang menggemaskan seperti buku ini. Biar tambah rame diskusinya, sekedar mengingatkan bahwa kita pernah punya mimpi.

Kematian kecil. Proses kematian kecil diselenggarakan sedemikian rupa denganupacara segala. Dengan kematian kecil diharapkan akan terjadi kebinasaan besar, atau paling tidak terpenjaranya mimpi, ideologi. Tetapi yang sering terjadi setelah kematian kecil seorang tokoh malah membiak mimpi-mimpinya di kepala orang banyak.

Aku terganggu oleh pertanyaan ini. Jika nasionalisme adalah mimpi besar mungkinkah ia bisa binasa tanpa kematian kecil tokoh-tokohnya? Sebuah mimpi akan sirna jika ia lapuk dan dilupakan. Begitu pula dengan nasionalisme, ia akan mati jika hanya digambar-gemborkan di mulut, di baju untuk menutupi kerakusan di hati yang juga dilakukan secara berjamaah meski tanpa imam tentara dan pemimpin besar. Kerakusan atas kekuasaan, kerakusan atas harta benda, keinginan untuk terlihat besar dan kuat, dan kelompok lain yang tidak satu lingkaran dituduh ‘penumpang gelap’. Di situ kadang aku merasa sedih. (Muhajir Arrosyid)

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 4, 2015, in Kritik Sastra. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: