Pendapat Pengamat Budaya Ihwal Permainan Tradisional

Muhajir Arrosyid

 

Hari Sabtu sore kemarin (17/5) ponselku berdering, dari wartawan Jawa Pos-Radar Semarang. Ia meminta pendapatku perihal permainan tradisional. Pendapatku tersebut untuk dimuat di media tempatnya bekerja. Sehari setelahnya dimuatlah pedapatku itu di koran. Dalam berita tersebut aku ditulis sebagai pengamat budaya dari Universitas PGRI Semarang. Mendengarnya membuatku tersipu.

Wawancara memang sudah selesai, berita juga sudah ditanyangkan sehari setelahnya, namun aku masih terusik dengan pertanyaan-pertanyaan dan masih terpikir atas jawaban-jawabannya. “Kenapa permainan anak dari hari ke hari semakin tidak diminati dan tidak dimainkan?” Mendengar pertanyaan ini sebenarnya aku ingin balik bertanya, “Kenapa permainan tradisional harus tetap terus dimainkan dan di uri-uri?” Tapi karena ini wawancara dan bukan acara debat maka pertanyaan ini tidak saya ajukan.

Jawaban-jawaban yang sudah sering kita dengar adalah: “Permainan tradisonal adalah warisan leluhur kita yang patut kita jaga agar kita tidak kehilangan kepribadian, bla bla bla.

Banyak sekali faktornya, banyak sebabnya, dan banyak jawabannya kenapa permainan tradisonal tidak lagi populer. Ini semacam hukum alam, sebuah budaya berubah maka hal-hal lain juga berubah. “Kenapa sekarang orang-orang berkendara motor dan tidak naik kuda lagi?” Pertanyaannya mirip bukan?

Dulu masa kecil saya di kampung Cabean, Sidorejo, Karangawen Demak belum ada listrik anak-anak berkumpul setiap malam di pelataran apalagi saat bulan purnama. Kami riang gembira bermain bersama beraneka macam permainan tradisonal. Kadang bermain betangan, patelele, jitungan, tong buk, dan anaka permainan tradisonal lain. Kami bermain sambil bernyanyi, sampai larut, dengan jumlah puluhan orang. Tong buk itu adalah sebuah permainan pencarian. Pertama-tama dibagi dua kelompok, kemudian ditentukan kelompok yang mencari dan kelompok yang sembunyi. Kelompok yang bersembunyi diberi waktu untuk mencari tempat sembunyi serapat-rapatnya. Biasanya bersembunyi di tengah sawah, kebon yang waktu itu masih penuh belukar, bahkan kadang nekat sampai kuburan.

Si pencari akan berteriak-teriak “TONG” dan kelompok yang bersembunyi akan berteriak “BUUUK” jika sudah siap untuk dicari. Permainan sampai ujung-ujung kampung menembus gelap, menginjak belukar, dan mungkin juga ada ulat, ular, tikus, dan tentu saja nyamuk. Kadang di antara kami terkena sengat kalajengking.

Pertanyaannya adalah apakah orang tua sekarang mengikhlaskan anak-anaknya untuk bermain seperti itu? tidak mungkin. orang-orang tua sekarang eman terhadap anak-anaknya. Anak pergi sebentar saja sudah dicari disuruh pulang. Iya itu bentuk perhatian.

Orang tua-orang tua dulu asyik. Kelas empat Sekolah Dasar aku sudah dibelaki kasur oleh ibu ku untuk tidur di langgar bersama teman-teman. Malam-malam aku bisa cari burung, cari jangkrik di sawah yang gelap menggunakan oncor sebagai penerangan. Kadang-kadang kalau ada yang mantu nanggap layar tancap, atau video, atau dangdut, wayang kulit, ketoprak, kami nonton sampai sekitar pukul 03.00 WIB. Dulu kalau orang punya gawe seperti nikahan nanggap video, yang diputar film-film seperti warkop DKI, Beri Prima, Susana, diputar di TV berwarna.

Saya melihat perubahan pelan tetapi pasti ketika listrik masuk desa. Kemudian setiap rumah punya TV. Anak-anak sudah merasa puas berteman dengan TV, maka dia tidak perlu lagi bermain dengan teman. Dulu sebelum ada listrik memang sudah ada TV, tetapi hal itu tidak begitu berpengaruh karena yang punya TV sedikit, TV satu ditonton bareng-bareng.

Beralihnya pilihan jenis permainan bagi anak adalah beralihnya masyarakat kita dari masyarakat komunal (mandi di sumur yang sama, nonton tv bersama, menanam padi bersama, memanen jagung bersama, sholat berjamaah ketemu lagi di masjid) berubah menjadi masyarakat yang individual.

Teknologi yang berkembang saat ini memungkinkan setiap individu menjadi invidualis. Satu keluarga dalam satu ruangan tidak saling bercakap, mereka masing-masing cengar-cengir dengan Hpnya masing-masing. Watak tradisonal itu ya interaksi, bersama-sama, toleransi, adanya ruang bersama. Sedangkan zaman modern seperti sekarang ini wataknya adalah nafsi-nafsi, egois, berkutat pada kamar masing-masing. Permainan tradisional mau dihidupkan? Mau main dimana? ruang publik demikian terkikis? berapa taman yang kita miliki? Cukupkah untuk bermain anak-anak kita? Dulu orang bermain sepak bola bisa dimanapun, kapanpun, selama yang dia kuat. Sekarang orang mau footsal harus sewa lapangan.

Ini hal yang tidak aku sampaikan dalam wawancara tersebut: Kalau Indonesia, negara yang kita cintai ini menjadi negara pemenang, menjadi negara adikuasa maka permainan tradisonal seperti gebak sodor, petak umpet, akan menjadi olah raga internasional sekelas dengan basket, sepak bola, dan tinju. Mari kita menjadi negara pemenang!

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 19, 2015, in Memoar and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: