DAPUR IBU SEPERTI MUSIUM

Muhajir Arrosyid

 

PISAU DAPUR

PISAU DAPUR

Kemarin (21/05/2015) aku berkunjung ke rumah orang tua, di dukuh Cabean, Desa Sidorejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak. Aku sebenarnya mau mencari majalah Penyebar Semangat, dulu Bapak langganan dan mengoleksi banyak sekali. Tapi sayang sekali kata ibu majalah tersebut terkena banjir. Aku masuk ke pawon atau dapur Ibu, tampat ini dulu adalah daerah kekuasaan Ibu. Meskipun sekarang Ibu tidak lagi memasak di pawonnya itu. Pawon itu sekarang sudah berubah menjadi gudang tempat diletakkannya barang-barang rumah tangga yang sudah tidak terpakai tetapi sayang kalau dibuang. Pawon, tempatnya barang sing awon atau yang buruk.

Namun memasuki tempat itu seperti memasuki sebuah musium.

Melihat dan menyentuh barang-barangnya membuat ingatanku lari kemana-mana. Ke masa lalu, ke masa kecilku. Aku mendapati pisau dapur berjajar. Ini senjata ibu yang bentuknya tidak berubah dari dulu hingga sekarang. Melihat pisau itu aku teringat masakan ibu yang dimasak pada saat aku masih kecil. Seingatku masakan pada waktu ibu variannya banyak sekali. Diramban dari kebon sebelah rumah yang memang luas. Ada sayur cengkowong, sayur deleg, waloh, terong, jantung pisang, glandir, kangkung, daun pogung (ketela), tunuman,  dll. Sebagian masakan yang aku sebutkan tersebut masih dimasak hingga sekarang seperti kangkung, glandir, jantung pisang (jentut), tetapi masakan seperti sayung cengkowong, deleg, dong singkil, sayur lompong (pelepah kimpul) sudah sangat jarang untuk dimasak dan disajikan di meja makan kampungku. Seingatku simbahku dulu sering masak lauk namanya semayi. Semayi berbahan ampas kelapa yang santannya sudah diambil,  yang sudah dikasih bumbu  tertentu. Ampas kelapa tersebut kemudian dipepes, dimasukkan ke dalam daun pisang dan dipanggang di atas api. Caranya ampas kelapa yang sudah dibungkus ke dalam daun pisang tersebut diletakkan ke dalam genteng tanah yang di bawahnya terdapat arang yang menyala. Lauk inipun sudah tidak pernah lagi disajikan.

Pernah suatu ketika aku minta Ibu untuk memasakkan semayi tersebut untuk aku tunjukkan kepada isteriku. Ibu tidak mau: “Halah, pakanan enak saiki wis akeh kok, aneh-aneh.” (Heleh makanan yang enak sekarang sudah banyak kok, aneh aneh). Masakan purba dari yang dulu juga sering dimasak Mbah rayiku dan sampai sekarang masih dimasak ibu kalau aku meminta adalah tunuman. Tunuman itu seperti garang asem tetapi menggunakan ikan laut  bukan ayam. Di dalam daun terdapat tahu, tempe, ikan tongkol atau pe, kemudian santan. Terdapat potongan-potongan tomat dan cabe. Biasanya campuran cabe rawit dan cabe hijau panjang. Selurung bahan yang ditunum dalam daun pisang direbus dengan panas tertentu. Kata isteriku masakan ini lebih enak dari garang asem. Masakan ini kemudian menjadi makanan favoritnya juga. Masakan ini adalah salah satu masakan favorit kami, anak, menantu dan cucu ibu. Kalau misalnya ibu sedang memasak ini beliau pasti telp aku. “Jir mampir.” Kalau ibu masak itu itu artinya dia sedang menyuruhku main ke rumahnya.

Zaman dulu adalah zaman susah. Aku heran ketika ada orang-orang memasang stiker: isih enak zamanku toh? Dulu kami memang punya peliharaan ayam, kambing, kerbau tetapi jarang makan daging. Kami makan daging ketika ada ternak kami yang sakit, dari pada mati sia-sia maka kami sembelih dan kami makan. Demikian juga dengan telur yang waktu itu masih menjadi masakan istimewa. Telur-telur yang keluar dari dubur ternak kami juga dijual. Kalau masak telur dicampuri gandum agar biasa dinikmati orang serumah. Di dadar dan dipotong-potong secara seimbang agar adil seluruh anggota keluarga kebagian.

Zaman dulu pangkal debok pisang saja disayur. Sehari ketika orang mau punya gawe entah itu puput puser, sunatan, nikahan, mudun lemah kami sanak saudara berkumpul untuk mempersiapkan segala sesuatu seperti mencari daun jati dan daun pisang sebagai landasan kreneng, brekat yang diberikan kepada tetamu. Sayur dalam brekat itu biasanya adalah sayur debog pisang.

Di dapur ibu menyimpan lumpang berbahan batu dan alu berbahan kayu. Lumpang dan alu ini juga penuh cerita. Di sana jagung diproses menjadi nasi, di sana proses gendar dan krupuk gendar ditumbuk. Jika ada nasi sisa (biasanya musm kondangan: bulan bodo/idul fitri dan besar/idul adha. Bulan suro dan bulan apit biasanya orang Jawa tidak menyelenggarakan gawe), maka nasi sisa tersebut diolah lagi, diberi bleng menjadi gendar. Bisa dimakan bigitu saja dicampuri parutan kelapa, pecel atau dikeringkan menjadi krupuk lalu digoreng. DI pawon itu juga ada strika arang dan lampu petromak. Kenangan akan hal ini akan aku ceritakan dijudul yang lain saja. Tunggu saja!

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 22, 2015, in Memoar. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Tulisan ini meski sudah dibuat setahun lalu, ketika membacanya membuat saya ingat masakan-masakan ibu…. Selera kita ndak jauh beda mas Muhajir, saya suka dengan tunuman, jangan mbayung+sabel klapa, dan mangut iwak pe….
    Menu itu yang biasanya saya minta dibuatkan sama ibu, kalau pas pulang kampung. Kampung saya di Tlogo, desa Pundenarum, Karangawen…. lor Cabean.

    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: