SENI UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER

Muhajir Arrosyid

 Diskusi di panggung alit

Disampaikan dalam diskusi Sabtu Pahingan edisi ke -6, Sabtu, 23 Mei 2015 mulai pukul 19.00 WIB  di Panggung Alit Omah Langon. Tema: SENI MENGASAH NURANI, TEATER MEMBENTUK KARAKTER (Mencari sinergi masyarakat kesenian dan dunia pendidikan dalam menyiapkan pewaris bangsa).

 

(1)

Tuan-tuan dan puan-puan yang saya hormati, saya tidak akan menegaskan dan menyakinkan kepada Anda kalau seni demikian berguna untuk mengasah nurani dan teater memiliki kemampuan untuk pembentukan karakter. Saya yakin Anda sudah memiliki keyakinan seperti itu. Kita juga sudah paham jika nurani dan karakter di zaman seperti sekarang ini (sebenarnya) sangat dibutuhkan untuk membangun negeri. Namun mencari senergi antara dunia kesenian yang membentuk nurani dan karakter dengan dunia pendidikan yang (harusnya) juga demikian bukanlah perkara mudah. Mengapa demikian? Kita terhambat dengan masa lalu kita yang pernah dijajah sebagai manusia-manusia minder. Keminderan itu tercermin kepada pandangan dan imajinasi tentang masa depan oleh orang tua, guru, dan pengambil kebijakan. Bahwa anak yang menyeriusi seni dianggap sebagai kecelakaan nasib. Jika nantinya sukses dianggap keberuntungan. Disampaikan oleh Remy Sylado buku Perempuan Bernama Arjuna, Javanalogi dalam fiksi (Nuansa Cendekia, April 215) melalui tokoh Joko Darmono bahwa anak-anak yang masuk di jurusan resmi pedalangan misalnya hanyalah orang-orang terbuang yang tidak diterima masuk dalam fakultas tertentu, lantas masuk ke pendidikan seni sebagai keputusan ‘dari pada tidak kuliah’. Mahasiswa yang masuk ke pendidikan seni tidak memiliki bakat, dan kemauan selain keterpaksaan. Maka hasilnya tidak optimal.  

Menagawali diskusi kita, akan saya ketengahkan bab penutup buku Istanbul, kenangan sebuah kota karya Orhan Pamuk (Serambi, 2009). Dalam bab dengan judul “Percakapan dengan Ibu: Kesabaran Kewaspadaan, dan Seni” ini terceritakan dialog antara Orhan Pamuk (Peraih Nobel Sastra 2006) yang meminta izin kepada ibunya untuk keluar dari kuliahnya di jurusan Arsiektur untuk menekuni bidang yang ia sukai yaitu lukis. Berikut kutipan-kutipan dialog yang diucapkan oleh Ibu Orhan Pamuk:

Kau tidak dapat menghidupi diri dengan lukisan, kau harus punya pekerjaan….”

 “Ini bukan Paris, Ini Istanbul. Bahkan jika kau adalah pelukis teraik di dunia, tak ada yang akan menaruh perhatian sedikitpun. Kau akan menghabiskan waktu sendirian. Tak seorangpun dapat mengerti mengapa kau mengorbankan masa depan yang cerah demi melukis. Jika kita ini masyarakat kaya yang menghargai seni dan lukisan, yah, mengapa tidak? Tapi, bahkan di Eropa, setiap orang tahu bahwa Van Gogh dan Gauguin adalah orang gila.” (hal 540).

Masih banyak kutipan senada itu bahkan terdengar lebih menyakitkan penghinan terhadap orang yang menekuni seni yang kita yakini sebagai pengasah nurani dan karakter itu. Saya rasa Turki (setting buku ini) dengan kota-kota di Indonesia tidak jauh berbeda di mana penduduknya demikian silau dengan Eropa akibat kekalahan-kekalahan di masa lalu. Pandangan ibu Orhan Pamuk tersebut juga pendapat sebagian besar orang tua di Indonesia yang melarang atau setengah hati melepas anaknya serius di bidang seni karena ketakutan akan masa depan.

(2)

Tantangan lain adalah negara kita dibangun oleh imajinasi militeristik, heroisme perang. Bahkan kesenian seperti patung yang terdapat di pojok-pojok kota adalah pahlawan yang mengacungkan senjata, puisi yang dibuat oleh Cahiril Anwar  berjudul Dipo Negoro dalam Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan yang Putus (Dian Rakyat, 1981) maka yang muncul adalah kata “Pedang di kanan, keris di kiri” dan diakhiri dengan kata “Maju, serbu, serang, terjang.” Seolah-olah intelektualitas dan seni hanya menjadi pendukung sebuah perjuangan dan tidak berpengaruh banyak. Maka hanya sedikit orang tahu bahwa Diponegoro sebenarnya adalah juga seorang intelektual pengarang buku Babad Manado. Kita menutup mata dengan prestasi sekaliber Raden Saleh, pelukis dan intelektual yang keilmuannya diakui oleh dunia. Sejarah yang dikenalkan kepada anak cucu kita adalah sejarah angkat senjata menyisihkan peran diplomat-diplomat, negosiator-negosiator, dan pemikir-pemikir.

Akibatnya apa kedisiplinan diterjemahkan sebagai baris-berbaris. Cinta tanah air diejawantahkan dengan upacara bendera. Orang yang tidak bisa baris berbaris dianggap tidak disiplin. Dan ekstrakuler wajib di sekolah yang paling sah, yang paling dianggap membentuk karaker adalah ‘pramuka’. Disiplin adalah karakter yang juga bisa dibentuk melalui berproses di teater, tari, lukis, dan seni yang lain. Dalam berteater kita harus tepat waktu jika tidak maka akan kacau. Teater adalah sebuah seni total di sana ada seni musik, seni rupa, seni peran, sastra yang kesemuanya harus dipadukan yang memperlukan kedisiplinan tingkat dewa. Orang yang sudah terlatih disiplin di bidang seni terutama teater tersebut diharapkan bisa menerapkannya di kehidupan sehari-hari seperti saat sedang belajar di kelas, mencuci baju, sikat gigi, mandi, dll. Tidak hanya karakter disiplin yang dibentuk oleh teater tetapi juga kebersamaan, tepo seliro, memahami orang lain, sopan santun, berkomunikasi dengan baik, dan semangat menyajikan yang terbaik.

(3)

Puan-puan dan tuan-tuan yang terhormat, terakhir kita perlu merenungkan pendefinisian Manusia Indonesia oleh Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia, Sebuah Pertanggungan Jawab (Yasasan Idayu, 1978).  Menurut Mochtar Lubis bahwa ciri manusia Indonesia sesuai pengamatannya adalah hipokritis dan munafik, segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatan dan keputusannya, feodal, masih percaya tahayul, artistik, watak yang lemah karakter kurang kuat, dan tidak hemat.

Hanya artistiklah ciri manusia Indonesia yang bernilai positif dalam pendefinisian ini.  Seolah-oleh kerja-kerja artistik bisa dikerjakan sambil lalu, membuat karya seni dengan ogah-ogahan, tanpa disiplin, jadinya entah kapan menunggu ilham, sudah mendapat pesanan sebuah patung misalnya, sudah mendapat uang panjer dan jadinya entah kapan. Jika kita masih termasuk manusia Indonesia (seniman/teaterwan) yang demikian maka saatnya kita mengubah perilaku. Kita buktikan bahwa seni itu mengasah nurani dan teater membentuk karakter.

 

Muhajir Arrosyid – beralamat di tunu.wordpress.com, email karyamuhajir@gmail.com

 

Daftar Pustaka

 

Anwar, Chairil. 1981. “Kerikil Tajam, yang Terampas dan yang Putus”.  Jakarta: P.T. Dian Rakyat.

Lubis, Mochtar 1978. “Manusia Indonesia, Sebuah Pertanggungan Jawab.” Jakarta: yayasan Idayu.

Pamuk, Orhan. 2009. “Istanbul, Kenangan Sebuah Kota”. Jakarta: Serambi

Sylado, Remy. 2015. “Perempuan Bernama Arjuna, Javanalogi dalam Fiksi”. Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 25, 2015, in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: