INTERTEKSTUALITAS EKA KURNIAWAN

Buku Eka Kurniawan

Buku Eka Kurniawan

Judul Buku      : Perempuan Patah Hati yang kembali menemukan Cinta Melalui Mimpi

Penulis             : Eka Kurniawan

Penerbit           : Penerbit Bentang

Cetakan           : Cetakan Pertama, Maret 2016

Tebal               : vi + 170 halaman

 

Buku Perempuan Patah Hati yang kembali menemukan Cinta Melalui Mimpi adalah buku kumpulan cerita pendek yang memuat 15 cerita. Hal yang menarik dalam buku ini adalah adanya intertekstualitas terhadap cerita pendek klasik dunia. Cerita klasik tersebut dijungkirbalikkan sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah cerita baru yang unik.

 

oleh Muhajir Arrosyid

 

Cerita berjudul Gincu Ini Merah Sayang (hal 15) mengingatkan saya pada cerpen berjudul The Gift of The Magi karya O. Henry. Cerpen ini diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin dengan judul Pemberian Sang Magi dalam buku Fiksi Lotus, Kumpulan Cerita Pendek Klasik Dunia Vol. 1 (2012)

            Cerita pendek berjudul Pemberian Sang Magi bercerita tentang sepasang suami-istri yang satu sama lain berkeinginan memberi hadiah natal. Sang suami bernama Jim memiliki jam tangan emas yang tidak ada rantainya. Itu adalah satu-satunya harta kekayaannya yang ia banggakan. Sedangkan sang istri bernama Della memiliki rambut yang indah, rambut itulah harta kekayannya yang ia banggakan. Akibat kegagalan komunikasi karena mereka berdua ingin memberikan kejutan di hari natal maka Jim menjual jam tangan emasnya demi membelikan sepaket sisir untuk segala keperluan untuk Della. Sebaliknya Della memotong rambut dan menjualnya untuk membelikan rantai jam tangan bagi si Jim. Sebuah cerita tragis tetapi romantis.

            Cerita berjudul Gincu Ini Merah, Sayang juga bercerita tentang sepasang suami istri. Mereka adalah Marni dan Rahmat Nurjaman. Sebelumnya mereka adalah pelanggan dan pelayan bar. Konflik dalam cerpen ini juga tentang kegagalan komunikasi antara keduanya. Mula-mula tentang gincu. Sang istri selalu menggunakan gincu saat di rumah, ia beranggapan kalau suaminya senang. Sedangkan sang suami tidak senang kalau istrinya menggunakan gincu saat di rumah karena mengingatkannya pada pelacur, profesi istrinya sebelum menikah dengannya. Hanya saja ketidak sukaan suami tersebut tidak pernah diuangkapkan kepada sang istri karena takut menyinggung hati istri. Timpul kecurigaan sang suami kalau istrinya masih pergi ke bar dan menjalani profesi awalnya saat Rahmat Nurjaman tidak di rumah, juga timbul kecurigaan bagi Marni kepada Rahmat Nurjatun bahwa kalau suaminya kembali ke bar untuk mencari perempuan yang lebih muda. Pada puncaknya demi membuktikan kecurigaanya terhadap suami Marni pergi ke bar. Sialnya bertepatan dengan diadakannya operasi oleh polisi dan Marni ditangkap. Setelah suaminya tahu, ia diceraikan oleh suaminya karena beranggapan Marni memang kembali pada profesi awalnya. Sebuah akhir cerita yang lebih tragis dari cerita O. Henry.

            Membaca cerpen berjudul Perempuan Patah Hati yang kembali menemukan Cinta Melalui Mimpi (hal 25) mengingatkan saya pada cerita dari kisah dari timur Seribu Satu Malam. Dan diakui oleh Eka dalam catatan (hal 168) bahwa cerita ini berhutang kepada kisah The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream, bagian dari The Arabian Nights atau seribu satu malam.

            Dikisahkan seorang pedagang dari Bangdad yang tinggal di rumah berhalaman marmer abu-abu. Ia bermimpi disuruh untuk berangkat ke Kairo untuk mencari peruntungan. Sesampai di Kairo dia tertidur di masjid dan dituduh mendobrak rumah di sebelah masjid. Ia dipenjarakan. Kepada polisi ia mengaku hanya menuruti mimpi. Sang polisi bilang: “Bodoh kamu mimpi saja dituruti. Aku mimpi tiga kali tidak pernah aku laksanakan. Mimpiku menyuruhku ke Bagdad. Di sana aku akan menemukan rumah dengan halaman marmer abu-abu. Di dekat marmer ada air mancur dan di bawah air mancur tersebut ada harta karun. Yang digambarkan oleh polisi tersebut adalah halaman rumah sang pedagang, maka dia segera pulang dan menggali air mancur. Ia menemukan harta karun.

            Cerita yang bertumpu mimpi juga terdapat dalam buku ini dalam cerpen berjudul Perempuan Patah Hati yang kembali menemukan Cinta Melalui Mimpi. Adalah Maya, seorang perempuan di Jakarta yang gagal menikah yang dihinggapi mimpi. Mimpinya tentang ada seorang laki-laki tampan yang mencintainya di Pangandaran. Maka pergilah Maya ke Pangandaran, ke sana-kemari hampir putus asa hinnga menceburkan diri ke laut tetapi dia tidak mati. Dia ditolong oleh seorang nenek bernama Sayuri. Maya bercerita kepada Sayuri tentang mimpinya. Sang nenek bercerita: Sayuri memiliki seorang cucu bernama Rana. Sang cucu juga ditinggal pergi oleh kekasihnya. Rana bermimpi bahwa di Jakarta ada seorang gadis yang mencintainya dan akan memberinya kebahagiaan. “Kalian orang-orang tolol yang percaya pada mimpi. Ia pergi ke Jakarta seminggu yang lalu.” Kata Sayuri kepada Maya. Maya bahagia karena sudah menemukan Rana, pemuda yang diimpikannya. Ia sudah menyaksikan anjing peliharaan Rana yang ia lihat juga dalam mimpinya.

            Menurut Eka Kurniawan dalam wawancaranya di AlineaTV sebuah cerita yang baik adalah cerita yang bergerak. Tidak menetap pada satu bentuk. Tak heran jika cerita-cerita Eka dalam buku ini sangat variatif. Bentuk lain dari cerpen di buku ini adalah bercerita dengan setting di Amerika yaitu cerita dengan judul grimis yang Sederhana, Penafsir kebahagiaan, La Cage aux Folles. Dua cerita yang saya sebut terakhir bercerita tentang mahasiswa Indonesia yang membaca ‘pembantu’ yang bisa diajak kencan.

            Membaca cerita Eka seperti mendengarkan dongeng Hans Christian Andersen. Betapa menyedihkannya membayangkan kejenakaan anak-anak yang ingin membahagiakan seekor gajah dalam cerpen Membuat Senang Seekor Gajah. Sebuah dongeng untuk direnungkan oleh orang dewasa.

 

Muhajir Arrosyidmengajar di FPBS Universitas PGRI Semarang.  

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 26, 2015, in Buku, Resensi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: