Ancaman Sekolah Lima Hari

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo melalui Surat Edaran (SE) Nomor 420/006752/2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Jawa Tengah memberlakukan sekolah 5 hari untuk SMA/SMK negeri. Aturan itu supaya siswa mempunyai waktu lebih banyak berinteraksi dengan orang tua di rumah.

Ada beberapa yang terkena ancaman berkait penerapan kebijakan itu. Antara lain sekolah agama sore atau madrasah diniyah (madin) dan ekstrakurikuler (eskul), kesempatan anak mendapatkan keterampilan lain yang tak tersedia di sekolah, terganggunya waktu mengaji yang biasanya sore hari, dan berkurangnya kesempatan anak berinteraksi dengan lingkungannya.

Bila bertujuan memberi kesempatan kepada anak berinteraksi lebih lama dengan orang tua, yang yang biasanya hanya Minggu, kenapa hanya diberlakukan untuk SMA atau sekolah sederajat? Apakah yang butuh berkumpul lebih lama dengan orang tua hanya anak SMA/SMK? Alasan ini makin tidak logis karena banyak sekali sektor pekerjaan yang masih 6 hari kerja.

Mengingat alasannya supaya anak bisa lebih lama berkumpul dengan keluarga, ada kemungkinan aturan ini diberlakukan bagi peserta didik dari tingkat bawah, yaitu sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan yang sederajat.

Jika demikian, sekolah diniyah atau sekolah sore yang mengajarkan ilmu-ilmu agama yang banyak dijumpai di Jateng, bakal terancam.

Madin sebagai sekolah sore diselenggarakan oleh masyarakat, bahkan gedungnya dibangun dari infak/sedekah, dan kadang tidak menggaji para guru. Pengajaran diselenggarakan pukul 14.00-16.30 dengan materi antara lain tauhid, tajwid, hadis, dan tarikh. Hal kedua yang terancam atas pemberlakuan 5 hari sekolah adalah kegiatan ekstrakulikuler yang biasanya dilaksanakan sore hari. Eskul dapat menjadi tempat mengembangkan kemampuan siswa, yang tidak mereka dapatkan di kelas.

Lewat eskul, peserta didik bisa mendapatkan kemampuan berorganisasi, kepemimpinan, dan keterampilan lain sesuai eskul yang dipilihnya. Eskul teater misalnya, memungkinkan peserta didik mengembangkan kemampuannya menekuni dunia peran, yang mungkin di kelas hanya diajarkan secara global. Pelajaran di kelas mengajarkan hal-hal umum dan ekstrakurikuler memberi kesempatan untuk mendalaminya secara lebih khusus.

Contoh lain, mapel olahraga mengajarkan lari, sepak bola, atau bola voli. Semua diajarkan tapi dalam waktu ”singkat”. Sebaliknya, eskul memberi kesempatan kepada siswa untuk menekuni degan lebih mendalam. Bila jam eskul digeser hari Sabtu, lantas apa bedanya?

Peraturan Sekolah

Hal ketiga yang terancam dari kebijakan ini adalah hilangnya waktu bagi anak untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan lain yang di sekolah tidak tersedia. Misalnya bila ingin mengembangkan kemampuan bermusik dengan mengikuti kursus di luar atau bergabung dengan klub/sekolah sepak bola.

Hal keempat yang terancam adalah waktu mengaji atau belajar membaca Alquran. Di kampung di Demak dan daerah lain di Jateng, anak-anak biasa belajar mengaji di mushala sehabis magrib hingga isya. Kebijakan baru Gubernur memungkinkan anak tak bisa mengikuti karena sudah kelelahan di sekolah ditambah perjalanan pulang ke rumah.

Hal terakhir yang terancam adalah berkurangnya waktu interaksi anak dengan perkumpulan di tempat tinggalnya, seperti remaja masjid atau Karang Taruna. Anak memiliki lingkungan keluarga, teman di sekitar rumah, dan tetangga. Sekolah lima hari membuat anak harus lebih lama di sekolah, dan energinya habis, tak ada kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggal.

Padahal menurut Freire (1974), salah satu fungsi pendidikan adalah menjadikan manusia bisa menghayati dan memahami kelompok masyarakat setempat. Meski Gubernur tidak memaksakan sekolah untuk menerapkan kebijakan itu, keputusan sekolah membuat anak harus tunduk pada peraturan sekolah. (10) Dimuat Suara Merdeka edisi 7 Agustus 2015.

— Tri Umi Sumartyarini, pengelola PAUD Ken Amanah, Sidorejo, Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak, alumnus Universitas PGRI Semarang

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 8, 2015, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: