Wajah Perempuan dalam Kemerdekaan

Kita biasa membahas kemerdekaan Republik Indonesia dalam dua fase, pertama perjuangan kemerdekaan, dan kedua setelah kemerdekaan yakni pascaproklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan penyerahan kedaulatan pada tahun 1949. Di manakah perempuan dalam dua fase kemerdekaan tersebut?

Dalam fase perjuangan kemerdekaan wajah perempuan memang sedikit ditampilkan. Kita bisa saksikan hal tersebut dalam patung-patung pahlawan yang berada di taman-taman kota, penamaan jalan dan gedung yang didominasi oleh para pejuang laki-laki. Kartini yang sebenarnya layak disebut sebagai pahlawan kemerdekaan perannya disempitkan hanya sebagai pendekar kaumnya saja.

Jika kita runut film tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia seperti Janur Kuning (1979), Serangan Fajar (1981), Kereta Api Terakhir (1981), Pasukan Berani Mati (1982) Lebak Membara (1982), Naga Bonar(1987), sampai yang diproduksi akhir-akhir ini seperti Sang Kyai, Soegija, sampai yang terakhir film Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto semuanya berwajah laki-laki.

Sepengetahuan penulis hanya tiga film perjuangan kemerdekaan yang berwajah perempuan yaitu RA Kartini, Tjoet Nya’Dhien (1988), dan film yang berjudul Perempuan Sektor Selatan (1971).

Film yang penulis sebut terakhir menempatkan perempuan sebagai pengkhianat, mata-mata Belanda yang merugikan pejuang republik. Dalam fotofoto perjuangan kemerdekaan wajah perempuan juga sedikit sekali yang tampak. Apakah memang benar perempuan tidak memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan?

Perempuan memiliki andil besar dalam pergerakan Indonesia merdeka. Jejak peran perempuan dalam perjuangan tersebut terekam apik dalam buku Konggres Perempuan Pertama di Indonesia (Susan Blackburn, 2007) yang dilaksanakan di Yogyakarta pada 22 Desember 1928 di mana pada tahun yang sama diselenggarakan pula Sumpah Pemuda.

Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Salah satu prakarsa lainnya adalah penetapan Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember.

Diberi Ruang

Dalam perjuangan angkat senjata kita juga mengenal pasukan Laskar Wanita Indonesia (Laswi). Dalam sebuah web, Historia.id, disebutkan bahwa Laswi dibentuk pada 12 Oktober 1945 oleh Sumarsih Subiyati biasa dipanggil Yati Aruji.

Anggota Laswi beragam, dari para gadis, ibu rumah tangga hingga janda, umumnya berusia 18 tahun ke atas. Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Laswi mengurusi urusan logistik dan dapur. Kita juga mengenal pahlawan perempuan Haji Rangkayo Rasuna Said, pejuang politik dan penulis pergerakan.

Perempuan yang dijuluki singa betina karena keberaniannya mengkritik pemerintah Hindia Belanda ini sempat dipenjara selama 13 bulan di penjara Bulu Semarang. Dia dipenjara karena pidatonya didakwa menghasut dan mengintimidasi rakyat untuk memberontak pada pemerintah Hindia Belanda. Kenapa peran perempuan dalam kemerdekaan tidak tercatat?

Faktor budaya yang hanya melihat dari sudut pandang laki-laki mungkin menjadi faktor. Kita mengenal ungkapan bahwa perempuan adalah ‘kanca wingking’. Ungkapan ini menggambarkan bahwa perempuan bukanlah makhluk yang utuh, ia bukanlah benarbenar manusia. Ia hanyalah kanca, hadir sebagai teman Adam yang kesepian di surga. Kemudian wingking berarti belakang.

Wingking membagi wilayah rumah menjadi dua bagian yaitu depan merupakan ruang tamu berfungsi sebagai ruang publik, lalu wingking atau belakang adalah dapur, kasur, sumur adalah wilayah domestik. Sayangnya sejarah kita tidak secara adil menghargai peran wilayah domestik ini. Para wartawan pada waktu itu terlalu sayang jika memotret dapur umum tempat para perempuan mengabdikan dirinya untuk perjuangan.

Jika penghargaan terhadap kedua wilayah tersebut sama besarnya, penulis yakin peran perempuan akan tampak sama besarnya dalam perjuangan kemerdekaan. Seperti diungkapkan di atas bahwa fase kedua adalah pasca-Indonesia merdeka, yaitu masa di mana rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan dan membuat Indonesia bermartabat di mata dunia. Untuk berperan mengisi kemerdekaan tersebut sebenarnya kita bisa memilih wilayah domestik atau wilayah publik.

Hal tersebut sama pentingnya. Namun ketidakadilan tatapan antara wilayah domestik dan wilayah publik masih terjadi. Orang yang bekerja di wilayah domestik masih juga dinomorduakan. Maka perempuan juga perlu berjuang di wilayah-wilayah publik dan sekarang kita diberi ruang. Kita bisa ikut serta membanggakan negeri ini melalui olahraga, seni, hukum, dan politik.

Pekerjaan perempuan di sektor publik tidak melulu sekretaris dan biduan tetapi juga politikus. Partisipasi perempuan dalam politik menjadi penting dalam fase mengisi kemerdekaan ini mengingat produk hukum dan kebijakan ditentukan melalui langkah-langkah politik. Jika tidak berpartisipasi dalam politik maka suara perempuan tidak didengar, kebijakan yang menyangkut harkat hidup perempuan terabaikan. (81)

— Tri Umi Sumartyarini, pengelola PAUD Ken Amanah Sidorejo, Karangawen, Demak

 

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 11, 2015, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: