PADA INE, SAYA MELIHAT CUT NYAK DIEN

Pementasan Cut Nyak Dien oleh Sha Ine Febrianti

Pementasan Cut Nyak Dien oleh Sha Ine Febrianti

Tulisan ini semacam kesaksian saya menonton pementasan monolog oleh Sha Ine Febrianti yang mementaskan lakon berjudul “Cut Nyak Dien” di Balairung Universitas PGRI Semarang pada Selasa 18 Agustus 2015, pukul 19.00 WIB. sehari setelah peringatan proklamasi kemerdekaan diselenggarakan.

Saya mungkin sama dengan teman-teman penonton yang lain, yang  tidak begitu mengenal sosok Cut Nyak dari Aceh ini. Tentu saja kami lebih mengenal Suoerman, Spederman, dan tokoh-tokoh yang lain yang lebih sering wara-wiri di layar kaca. Cut Nyak Dien memang kami kenal sejak Sekolah Dasar. Gambarnya terpasang di dinding-dinding kelas. Kisahnya diceritakan (teramat singkat) di buku pelajaran. Dan sebuah kesempatan itu datang, Ine dengan baik hati, gratis lagi menghadirkan sosok Cut Nyak Dien yang gagah berani, keras hati di hadapan saya dan seluruh penonton yang lain.

Saya bersama isteri menonton di balkon harapannya bisa melihat suasana panggung secara utuh. Sebelum acara dimulai dipanggung terdapat gambar simbol dan tulisan larangan menggunakan kamera dengan cahaya. Sekali lagi pembawa acara mengingatkan untuk menjaga ketertiban selama pementasan. (Meskipun pada kenyataannya masih saja ada yang memotret dengan kamera Hp dan bercahaya). Kemudian lampu dimatikan terjadilah peristiwa itu.

Seorang perempuan renta, buta, duduk di sebuah kursi panjang. Ia adalah Cut Nyak Dien. Ia kangen dengan Nangro sebuah tanah yang teramat ia sayangi seperti ibu, bapak atau anaknya sendiri. Ia kangen dengan lautnya, dengan pohonnya yang akarnya menghujam dalam ke tanah dan batangnya tinggi menjulang ke langit. Rindu dengan suara anak-anak melantunkan Al Qur’an.

Panggung memang didominasi suasana gelap. Hanya sedikit cahaya yang mencul. Di layar menampakkan hutan, laut, dan darah. Ya saat peperangan terjadi dan tidak terelakkan pertumpahan darah tak dapat dihindarkan. Sungai menjadi merah.

Berikutnya secara cepat-lamban, naik-turun, keras-pelan Cut menarasikan perjalanan hidupnya mulai dari datangnya bangsa Kape untuk menyebut Belanda sang penjajah, kemudian peristiwa penyerangan pertama, hingga kecemasannya melepas suaminya yang pergi berperang. Suami pertamanya itu mati tertembak di kepala. Kepiluan ini disuguhkan teramat mengharukan. Terikan, hentakan, nyayian, dan musik yang menggelegar teramat mencekam.  Bulu keduk saya berdiri, jiwa saya terhentak. Saya mersakan betapa pilunya dijajah, dirampok, dirampas. Kematian suami pertama itu, dan kematian teman-teman seperjuangannya memdamkan semangat pasukannya. Tengku Umar melamarnya. Mulanya ia menolak, namun karena Tengku mampu menyakinkannya akan meneruskan perjuangan suami pertama. Perjuangan bergelora lagi setelah perkawinan kedua. Hingga ia kehilangan suami untuk kedua kali. “Sebaik-baiknya mati adalah syahid.” Sampai kemudian ia dikhianati dan diasingkan di tanah pasundan.

Pementasan selesai. Saya menghela nafas. Ada sesak yang masih tersisa di dalam dada. Ada udara yang enggan berpindah di paru-paru sana. Cut Nyak Dien mengajari kita tentang keberanian, memegang prinsip, dan perlawanan sekuat-kuatnya. Dari Cut Nyak Dien, Diponegoro, dan pahlawan-pahlawan yang lain kita bisa belajar betapa kejahatan terhadap negara semacam korupsi, bukan hanya mencuri tetapi adalah sebuah pengkhianatan kepada bangsa.

Bagi saya menonton pementasan teater itu seperti ibadah sholat, harus khusuk. Maka betapa jengkelnya ketika banyak penonton lain terlihat dari atas masih enggan mematikan Hpnya. Cahayanya teramat menggaggu. Setelah pementasan usai saya langsung pulang, sebenarnya masih ada diskusi bertajuk ‘Pertanggungjawaban proses Kreatif’. Saya dan isteri memilih pulang, bagi saya pementasan itu sudah teramat bagus, tidak dibutuhkan penjelasan tambahan. Terimakasih Ine, penyelenggara, spnsor. Sebuah pementasan yang prima dari tata cahaya dan tata suara yang aduhay.  [Muhajir Arrosyid]

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 20, 2015, in Berita and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: