BURUNG TIDAK MENCURI KENAPA DIPENJARA?

“Itu namanya burung sayang.”

“Di mana aku bisa melihat burung ibu?”

            Esok harinya Umi mengajak Arum, anaknya ke sawah. Ia ingin menunjukkan burung kepada anaknya yang sedang mengenal benda-benda itu. Ya, Arum memang sedang masa belajar. Apa saja yang ia lihat digambar ia tanyakan kepada ibunya. Kebetulan Arum melihat lukisan hasil karyanya waktu SMP dulu. Tugas pelajaran kesenian dari Pak Budi. Ia menggambar sebuah burung srigunting yang setiap pagi bertengger di pohon kering di depan rumahnya. Kebetulan depan rumah Umi adalah hamparan sawah yang kadang ditanami padi, kadang kacang, dan sayuran. Di kanvas itu hanya ada langit warna biru, hamparan sawah, dan srigunting yang bertengger. Burung itu tergambar kecil saja. Sebuah gambar yang tidak detil. Tapi khas sriguntung tetap terlihat. Warnanya hitam dan ekornya yang menyilang seperti gunting.

            “Arum, burung itu kalau ngoceh bunginya, cekitut teng-cekitut teng. Sehingga orang-orang menyebutnya burung cekituut teng.”

            “Tapi mana ibu burung itu sekarang.”

            Sudah satu jam Umi dan Arum duduk di bawah pohon waru menghadap ke sawah menunggu burung srigunting itu hadir. Tetapi burung tersebut belum hadir juga. Umi mengajak Arum untuk pulang. Ia menjanjikan untuk kembali lagi ke wasah untuk melihat burung tersebut suatu saat nanti. Umi baru menyadari bukan hanya burung srigunting yang tidak ia lihat. Burung-burung lain seperti deruk yang suaranya merdu bisanya bertengger di pucuk-pucuk kelapa, burung sikatan yang ekornya megrok indah terbang naik turun, burung bentet, burung prenjak, semua tidak hadir. “Arum, mungkin burung-burung sedang melakukan rapat di hutan. Jadi mereka tidak muncul.”

            Umi dan Arum pulang. Sejenak Arum lupa dengan burung tetapi ingat lagi kalau membuka-buka buku atau koran dan mendapati gambar burung. Ia nonton TV melihat lagi gambar burung. Ia kembali merengek kepada ibunya untuk pergi ke kebon ke sawah tempat burung bersarang. Umi dan Arum tidak mendapatkan burung-burung tersebut. Akhirnya Umi mendapatkan ide untuk mengajak Arum ke pasar burung. Dituntunlah Arum masuk pasar burung. Melewati orang-orang berjualan pakan burung. Arum menyaksikan banyak burung di dalam sangkar-sangkar yang indah. Namun burung srigunting tidak ada di pasar burung.

            “Pak Ada burung Srigunting?” Tanya Umi kepada pedagang burung.

            “Susah carinya sekarang Bu. Kalaupun ada harganya sangat mahal.”

            Umi dan Arum pulang ke rumah. Meskupun tidak berhasil melihat sriguntung secara langsung tetapi Arum sudah puas. Setidaknya ia sudah melihat bermacam burung.

            Tantangan untuk Umi masih terus terjadi seiring dengan semakin tumbuh berkembangnya Arum. Apa saja ditanyakan. Suatu ketika Arum ingin melihat kupu-kupu. Sekian lama akhirnya Umi dapat menunjukkan kupu-kupu secara langsung. Suatu ketika Arum ingin melihat kunang-kunang. Di mana sekarang kunang-kunang dapat dilihat dan ditemukan? Umi hanya dapat menjanjikan pada suatu saat nanti akan memperlihatkan kunang-kunang.

            Saat menonton TV secara kebetulan Arum melihat berita seseorang dipenjara karena mencuri. Dan Arum bertanya kepada ibunya. “Ibu, apakah burung-burung itu jahat. Apakah mereka pencuri sehingga dipenjara seperti itu?”

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 31, 2015, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: