DENGAN GELAP, TERANG MENJADI BERARTI

“Tolong ceritakan kepadaku tentang kegelapan!”

Kemudian berceritalah Tunu tentang kegelapan. Ia mengingat-ingat kenangannya, pengetahuannya yang ia dapat dari membaca buku, yang diterangkan oleh Bu Hana, guru Fisikanya yang bertampang murung waktu SMA, dari Pak Rohmad, guru bahasanya di SMP.

Kegelapan menurut guru bahasanya itu adalah lawan dari terang. Jika ada cahaya maka tereang maka kalau tidak ada cahaya maka terjadilah yang namanya gelap.  Tentu saja Tunu tidak akan lupa dengan kata-kata mutiara yang paling mashur dari seorang pahlawan dari Jepara. R.A Kartini. Katanya: “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Gelap dalam peribahasa ini adalah sebuah masa atau zaman kemuraman. Zaman yang ingin segera dilalui. Gelap dalam konteks Kartini adalah masa di mana perempuan masih dikekang oleh sistem feodalisme yang geraknya dibatasi, jodohnya dipilihkan, tidak boleh sekolah tinggi-tinggi. Gelap dalam konteks ini adalah masa kolonialisme, kita sebagai bangsa dijajah. Diperintah dan dipaksa hormat pada bangsa lain. Bekerja untuk kepentingan mereka. Dan terang adalah hal yang didamba-dambakan.

Tunu belum berbenti. Ia masih merangkai-rangkai kata untuk diceritakan. Gelap itu misteri. Gelap pada mulanya hanya dihubungkan dengan panca indra mata. Jika mata terpejam maka terjadilah gelap. Atau pada malam hari tidak ada sinar bulan maupun lampu listrik, maka itulah gelap. Tunu pernah masuk ke dalam rumah yang gelap karena tidak ada lampunya. Ia meraba-raba mengenali benda-benda yang ada di ruangan itu. Ia menebak-nebak. Jika kita masuk ke dalam sebuah ruang atau kota yang baru, kita masih belum tahu arah jalannya, belum kenal budayanya. Itu artinya masih gelap. Di masa kecil Tunu, banyak permainan yang memanfatkan gelap. Ada permainan yang namnaya umpetan, tong buk dan lain sebagainya. Tunu bersama teman-temannya sering menembus gelap, pergi ke sawah hanya dengan menggunakan senter untuk mencari jangkrik atau belalang. Ia sebenarnya takut juga apalagi kalau dekat kuburan rasanya mrinding. Berjalan kaki melalui jalan persawahan, menyebrang sungai malam menjelang pagi ia bersama-teman-temannya pulang dari nonton dangdut, atau film video, atau layar tancep.

Masa-masa kecil Tunu adalah masa-masa yang gelap. Kebetulan memang belum ada listrik pada waktu itu. Listrik baru masuk ke kampungnya saat ia kelas enam Sekolah Dasar. Di kampung juga masih banyak kebonnya yang menghutan. Jarak antara satu rumah dan rumah yang lain masih jarang. Maka saat beralihnya waktu dari siang menuju malam terjadilah gelap yang sesungguhnya. Penerangan hanya dari api-api kecil, itupun habis isak mati tertiup angin. Apalagi saat musim hujan. Kegelapan sungguh sempurna.

Masa kecil bagi Tunu adalah masa gelap. Jalan di kampunya becek. Ia tak mampu mengikuti pelajaran di kelas sehingga ia sering kena marah. PR seperti teror saja. Apalagi pelajaran matematika. Di sekolah sore ada hafalan entah hadist entah namdoman. Ia tak mampu menghapalnya. Ia dipermalukan oleh guru lari mengitari lapangan atau berdiri di depan kelas. Meskipun gelap disingkir-singkirkan, gelap tetap saja dibutuhkan, untuk merefleksi diri. Dengan gelap maka terang menjadi berarti. Dengan gelap maka terjadilah bayangan yang sangat dibutuhkan oleh pementasan wayang.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 31, 2015, in buku harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: