AKU BUTUH SETAN

“Aku cinta kamu.” kata Tunu di bawah pohon jambu. Matahari memang terik, tetapi hawa tetap sejuk. Di depan mereka berdua ada air terjun alami, dari atas menghujam batu-batu kemudian lari ke arus sungai.

“Aku tahu, tetapi sebelum kita jadian, harus ada yang kita selesaikan terlebih dahulu. Kita masih berbeda pendapat tentang api. Ini penting dan harus kita selesaikan dulu perdebatan kita sebelum kita jadian. Hal ini akan menentukan apakah hubungan kita lanjutkan atau putus sampai di sini.” Tya menatap Tunu serius.

Tunu diam saja. Ia tatap air terjun dengan tatapan kosong. Ia tak menyangka mendapatkan tantangan seaneh ini. Biasanya tantangan berupa ketidak setujuan orang tua atau beda agama. Padahal Tunu sudah membayangkan tentang pesta pernikahannya. Di surat undangan nanti ia ingin menerakan inisial namanya dan nama Tya menjadi TNT. Perbedaan adalah perbedaan tidak harus dipaksakan menjadi sama. Sebuah perbedaan bukan tidak mungkin untuk bersama.

Kemudian Tya bercerita tentang api: Api itu jahat Tunu sangat jahat. Ia membakar kebahagiaan kami. Kami selama ini tidak punya salah terhadap api. Tapi api membakar kios kami. Waktu itu malam hari. Kami mendapat kabar dari teman Mami. Mengabarkan bahwa pasar terbakar. Segeralah kami lari menuju pasar tempat kami mencari nafkah. Menjual buku bekas. Hanya beberapa helai buku yang terselamatkan. Api telah membakar harta kami. Sejak itu aku percaya kalau api itu setan. Setan itu terbuat dari api. Aku lebih suka pada dingin. Pada air. Ya air.

Dan Tunu bercerita tentang api: api itu semangat Tya. Kita harus memiliki api dalam diri kita. Karena api itu gairah dan tenaga. Dalam api ada dua hal yakni panas dan cahaya. Tentu saja kita butuh panas untuk menanak nasi, membuat kopi.

Tiba-tiba Tunu teringat dengan masa kecil. Waktu itu musim kemarau. Pagi dingin sekali. Tunu menyapu daun-daun mangga yang kering dibuatnya sebagai unggun. Ia duduk jongkok dipinggir unggun tersebut untuk menghangatkan badan. Darmi teman kecilnya biasanya datang menyusul. Ia juga teringat kalau dia sedang naik gunung. Di puncak biasanya ia mengumpulkan belukar untuk membuat unggun. Menepis dingin yang terlalu dingin. Kita yang cinta dingin sekalipun masih membutuhkan api.

Ada cerita lagi. Waktu itu malam-malam. Waktu kecil aku tidur di langgar. Kebetulan malam itu nyamuk banyak sekali. Kampung sedang gerimis. Di langgar tidak ada korek api. Aku dan teman-teman tersiksa oleh nyamuk. Ada obat nyamuk bakar tetapi tidak ada korek api. Dan akhirnya aku dan temanku berkeputusan pergi untuk mencari api. Di depan rumah-rumah penduduk biasanya menyalakan lampu teng. Dari sanalah kami akan mendapatkan api untuk menyalakan obat nyamuk. Silnya malam itu gerimis dan banyak lampu yang mati. Akhirnya ada juga lampu yang masih menyala. Obat nyamuk berhasil dibakar. Kami terselamatkan dari terror nyamuk. Tertidur lelap.

Di dalam api juga ada cahaya. Dari cahaya inilah waktu kecil aku belajar. Belajar membaca Al Qur’an, membaca apa saja. Itulah kenapa aku menghormati api. Tapi aku juga memahamimu yang membenci api. Kalau menurutmu api itu setan, berarti aku memang membutuhkan setan. Kita pelihara setan itu dengan baik biar bermanfaat bagi kita. Bagaimana kita jadi menikah? (Muhajir Arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on September 1, 2015, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: