CARA MEMBUAT PARFUM

“Ceritakanlah kepadaku tentang bunga!”

Kemudian Tunu bercerita tentang bunga: Aku sebenarnya tidak suka bunga. Tetapi aku suka warna-warna cerah dan aroma wangi. Ya aku suka parfum. Waktu kecil aku mencium aroma parfum dari orang-orang dewasa. Aku ingin menaburkan aroma parfum tersebut ke dalam tubuhku. Tetapi aku tidak tahu di mana parfum-parfum itu dijual.

Aku bertanya-tanya kepada orang-orang dewasa dimana parfum dijual. Mereka menujukkanku.

Di sana, katanya. Di kota kecamtan tempat parfum dijual. Untuk menempuh perjalan ke sana harus bersepeda karena lumanyan jauh. Berangkatlah aku ke kota kecamatan, bersepeda. Di kantongku tersimpan uang beberapa ribu. Aku menyisihkan uang sakuku selama satu minggu. Dengan mengayuh sepeda aku membayangkan aroma wangi parfum menempel ditubuhku. Memang aku masih usia kencur. Sunat juga belum. Tetapi sudah gelisah kalau Tian yang berambut panjang, berhidung mancung tidak berangkat sekolah atas alasan apapun. Aku berharap, Tian akan nyaman ngobrol denganku nanti setelah aku berparfum.

Toko yang aku maksud sudah ketemu. Penjualnya seorang gadis berambut merah. Merah karena disemir, bukan merah asli. Kulitnya putih. Sebenarnya aku agak ragu untuk membeli parfum. Tidak ada pembeli sekecil aku. Aku menyestandarkan sepedaku. Dan bilang dengan kepada Mbak nya si penjual parfum. “Mbak, aku mau beli parfum.” Mbak nya tersenyum. Mungkin senyum ejekan. Mbak penjual parfum membantuku memilih parfum yang cocok untukku. Akhirnya parfum yang cocok untukku aku dapatkan, cocok dari segi aroma dan cocok untuk ukuran kantongku. Sebelum pulang aku ucapkan terimakasih kepada Mbak penjual parfum yang cantik dan baik hati. “Mbak, parfum ini terbuat dari apasih?” aku bertanya kepada Mbaknya.

Mbaknya menjawab. “Dik, aku tidak tahu parfum terbuat dari apa. Tapi parfum ini aromanya aroma bunga. Mungkin terbuat dari bunga.” Jawab Mbaknya penjual parfum. Sejak itulah aku suka dengan bunga.

Hari-hari berikutnya aku berencana membuat parfum sendiri. Aku mengumpulkan bunga-bunga yang tumbuh di kampung. Ada bunga sepatu, bunga matahari, melati, mawar, cokra-cakri, dan lain-lain. Bunga-bunga tersebut aku potong-potong dan aku campur menjadi satu. Aku ambil botol plastik bekas bungkus shampo. Aneka bunga yang sudah aku potong-potong dan aku campur tersebut aku masukkan ke dalam botol plastik tersebut. Dalam bayangan dan harapanku, satu minggu lagi bunga-bunga tersebut akan berubah menjadi parfum.

Satu minggu berikutnya aku menjenguk belakang rumah, laboratoriumku untuk membuat parfum. Hatiku berdebar-debar menunggu hasil eksperimenku tersebut. Botol berisi bunga itu aku buka dan cium. Aroma parfum yang aku harapkan tidak terium dari sana. Sebaliknya aku mencium aroma seperti buah busuk yang membuat pusing kepala. Aku muntah-muntah di laboratoriumku pada eksperimen pertama. (Muhajir Arrosyid)

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on September 2, 2015, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: