PEREMPUAN DI PANGGUNG KAMPANYE

Agenda Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) serentak yang akan dilaksanakan pada 9 Desember 2015 telah dimulai. Baliho-baliho pasangan calon telah terpajang di pojok-pojok kota. Menampilkan wajah berpeci, berkerudung, penuh janji. Hari-hari ini memasuki masa kampanye. Panggung-panggung kampanye didirikan. Di manakah posisi perempuan di panggung kampanye politik tersebut? Apakah ia hadir sebagai penyampai pesan, sebagai media pengumpul massa dengan goyangan tubuhnya, sebagai isu dagangan kampanye, atau malah hanya sebagai sasaran kampanye?

Ingatan kita tentang posisi perempuan dalam panggung kampanye adalah mereka hadir sebagai pengumpul massa. Mereka dihadirkan untuk menciptakan suasana keramaian sehingga orang-orang dengan sukarela hadir berkerumun di sekitar panggung kampanye untuk menyaksikan liukan tubuh dan desahan suaranya. Setelah massa terkumpul pesan-pesan kampanye, janji-janji politik disampaikan oleh pasangan calon. Melihat kondisi ini maka perempuan dalam panggung kampanye hanya sebagai alat pengumpul massa.

Dalam sejarah perpolitikan Indonesia, perempuan bersama dengan dangdut memang selalu menjadi warna dominan panggung kampanye politik Indonesia. Bahkan di partai-partai dengan latar belakang agama sekalipun, perempuan dengan balutan baju ketat juga hadir. Tak ayal, pada masa kampanye adalah masa panen seniman dangdut terutama perempuan. Weintraub (2012) mengemukakan bahwa dangdut yang menempatkan perempuan sebagai fokus utama dalam lagu-lagunya adalah sebuah musik yang diidentifikasikan sebagai musik rakyat. Maka tokoh politik seperti Moerdiono, Menteri Sekretaris Negara era Presiden Soeharto, mendekat pada dangdut agar dianggap dekat dengan rakyat. Menghadirkan perempuan beserta dangdut dalam panggung kampanye memiliki dua keuntungan sekaligus; pengumpul massa dan media partai atau tokoh agar diidentifikasi sebagai pecinta rakyat dan musiknya.

Kehadiran perempuan dalam panggung kampanye selain sebagai pengumpul massa seperti diuraikan di atas adalah sebagai isu atau janji yang akan ditepati nanti kalau seorang calon terpilih. Alasan kenapa perempuan menjadi isu sangat logis, mengingat jumlah perempuan pemilih sebanding dengan pemilih laki-laki. Nasib perempuan yang dianggap masih kurang baik seperti tenaga kerja perempuan yang masih didiskriminasikan, pendidikan perempuan yang belum setara dengan laki-laki, masih tingginya angka kematian ibu, keterwakilan perempuan di parlemen, lapangan pekerjaan yang tidak seimbang sehingga perempuan banyak yang terpaksa menjadi buruh migran, kekerasan terhadap perempuan baik dalam ruang publik dan domestik menjadi isu yang diteriakkan dalam kampanye. Isu-isu tentang perempuan tersebut menguntungkan jika dikawal dengan baik, jika tidak hanya sekedar menjadi janji politik belaka dan akan diulang pada pemilu berikutnya.

Publik

Pemilu sebenarnya adalah kesempatan bagi perempuan untuk tampil di depan publik, berjuang sendiri atau menitipkan aspirasinya kepada calon. Namun pada kenyataannya perempuan sebagai pemilih ternyata bukan pemilih yang sunguh-sungguh. Ia seringkali tidak melihat kapasitas calon dengan cermat. Menurut Juwito dan Awaliah (2009) dalam proses komunikasi untuk mendapatkan informasi politik, sebagian besar perempuan cenderung mengalami intervensi pilihan politik. Suami merupakan pasangan komunikasi interpersonal perempuan yang sering melakukan intervensi pilihan politik. Pada proses komunikasi tersebut, sebagian besar perempuan cenderung tidak mampu menjaga independensi pilihan politiknya setelah mendapatkkan intervensi. Perempuan cenderung memilih pilihan politik yang disarankan oleh suami atau orang tua.

Sementara itu untuk menjadi orang yang dipilih perempuan mendapatkan banyak hambatan bahkan jauh sebelum mereka naik panggung kampanye. Hambatan-hambatan tersebut seperti dikemukakan oleh Lycette (1994) adalah karena perempuan memainkan peran ganda sebagai reproduktif (home maker) serta peran produktif (membantu pendapatan keluarga). Dua peran ini membatasi waktu perempuan untuk komunikasi politik. Selain itu, saat ini perempuan memiliki pendidikan yang lebih rendah. Hal ini akibat dari warisan budaya kita di masa lalu yang menomorduakan pendidikan bagi perempuan. Akibatnya peluang perempuan untuk mencerna informasi di luar tentang bisnis, kesempatan kerja, yang bisa diperjuangkan dalam lapangan politik sangat rendah.

Lalu apa yang perlu dilakukan oleh perempuan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut? Yang pertama adalah pendidikan. Pendidikan bukan berarti sekolah, kita bisa belajar dari mana saja. Kalau perlu membuat komunitas belajar dan membuat kurikulum sendiri. Dengan pendidikan tersebut maka akan tumbuh perasaan setara. Dari perasaan setara itulah maka akan tumbuh kesadaran politik. Bayang-bayang dalam diri perempuan bahwa dia lebih rendah, lebih bodoh, tidak lebih kuat akan menipis dengan ilmu pengetahuan.

Perasaan setara akan membuat perempuan merasa sama tanggung tanggungjawabnya untuk mengangkat derajat dan martabat bangsa. Ia tidak lagi menggantungkan diri. Dengan demikian pemikiran, tenaga perempuan akan memberi sumbangsih terhadap kemajuan bangsa.

Nantinya perempuan tidak hanya diposisikan sebagai wadag (fisik/tubuh) yang hanya dihargai tubuhnya belaka di panggung kampanye. Perempuan dalam panggung kampanye tidak hanya sebagai alat pengumpul massa dan isu jualan saja. Perempuan tidak sebagai orang yang melulu akan ditolong dalam pangung kampanye tersebut tetapi ia menolong selayaknya ibu yang selalu menggendong, menyuapi, dan mengasuh bangsa ini. Perempuan hadir ‘setara’ memperjuangkan martabat bangsa.

(Dimuat di Suara Merdeka Edisi 4 September 2015)

 

Tri Umi Sumartyarini, pengelola PAUD Ken Amanah, Cabean Sidorejo Karangawen Demak. 

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on September 4, 2015, in Opini and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: