BERTUMPU PADA KELAMIN

Judul               : Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang

Penulis             : Guntur Alam

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : 2015

Tebal               : 176 hlm; 20 cm

ISBN               : 978-602-03-19391

 

????????????????????????????????????

????????????????????????????????????

Kelamin menjadi pusat penceritaan dalam buku ini. Kelamin hadir sebagai ular yang menancapkan taring dan menyemprotkan bisa, juga hadir sebagai burung origami yang mematuk dada dan membuat luka, selain itu kelamin juga hadir sebagai alu yang setiap saat menghantam lesung. Apa akibat intimidasi dari satu jenis kelamin terhadap jenis kelamin lainnya?

Ada tujuh dari 21 cerita pendek yang dihadirkan oleh Guntur Alam dalam buku kumpulan cerita pendek berjudul Perempuan Magi dan Malam Kunang-Kunang yang menempatkan kelamin sebagai pendulum, titik tumpu seorang tokoh menjadi hitam atau putih. Tepatnya seorang tokoh hadir sebagai pelaku kejahatan atau sebagai korban kejahatan.

Guntur Alam melalui buku ini semacam ingin melanjutkan ‘pesan’ Nawal El Saadawi dalam novel Perempuan di Titik Nol,  atau Linda Christanty dalam kumpulan cerpen Rahasia Salma dimana laki-laki selalu hadir sebagai penjahat, pemerkosa, penipu dan perempuan dan anak selalu hadir sebagai korban.

Kelamin sebagai ular muncul dalam cerpen “Tem Ketetem”. Seorang perempuan cantik dari desa yang diperkosa hingga mati karena selalu menolak lamaran pemuda kampung. “Pun perihal ular siapa saja yang menghujamkan taringnya menyemprotkan bisa hingga Ketetem menemui ajal….” (hal:24).

Lain lagi dengan cerita berjudul “Malam Hujan Bulan Desember”, berkisah tentang sepasang mahasiswa bernama Joe dan Maria. Mereka berpacaran hingga berhubungan badan. Joe berjanji akan menikahi Maria nanti setalah kuliahnya lulus dengan syarat jangan ada yang tumbuh dalam perut Maria sebelum mereka lulus. Meski sudah meminum pil untuk pencegah kehamilan, Maria akhirnya hamil. Joe berang dan membunuh Maria dan anaknya yang berusia beberapa bulan. Joe melakukannya karena ketakutan akan karir, norma, dan orang tua. Penyalahgunaan kelamin berakibat fatal, kematian.

Demikian pula dengan “Boneka Air Mata Hantu” menceritakan tentang penderitaan yang ditanggung oleh perempuan akibat ditinggal lari oleh pacar yang menghamilinya. Ia hidup menderita bersama anak perempuannya. Ia tampak lebih tua dibanding usia sesungguhnya. Seorang anak hasil hubungan sebelum menikah dalam cerepn ini disebut ‘boneka air mata’ menandakan kehadirannya menimbulkan air mata. Cerpen ditutup dengan tragis, anak perempuannya mengalami nasib serupa, dihamili dan ditinggal lari pacarnya. Dari dua cerita di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan seksual sebelum menikah merupakan tindakan kekerasan.

Orang-orang dewasa yang tak mampu menahan hasrat kelamin adalah monster bagi anak-anak. Hal ini terceritakan dengan fasih dalam cerpen “Tentang Sebatang Pohon yang Tumbuh di Dadaku”. Cerpen ini memberi tahu kita untuk mengawasi sungguh anak-anak kita karena pelaku kejahatan seksual terhadap anak seringkali orang-orang dekat dan tidak terduga, paman misalnya. “Ini nggak sakit kok. Dulu, waktu kecil aku juga sering begini.” (hal:70). Kutipan ini juga memberi pembenaran bahwa pelaku kekerasan seksual terhadap anak adalah mantan korban. Akibat dari kejadian ini adalah trauma yang berkepanjangan dialami oleh anak.

Cerpen dengan tema serupa juga muncul lagi dengan judul “Tiga Penghuni dalam Kepalaku.” Berkisah tentang anak jalanan laki-laki penjual asongan yang oleh orang tuanya sendiri selalu dirampas uangnya. Kekerasan seksual yang dialaminya dilakukan oleh pemilik toko tempat dia mengambil barang-barang dagangan yang juga laki-laki.

Anak perempuan tunawicara juga menjadi korban amuk kelamin. Ia melahirkan di kandang ayam dan tidak diketahui siapa yang menghamili. Ketika ditanya dia hanya mampu menjawab ah uh. Guntur Alam dalam cerpen “Almah Melahirkan Nabi” menceritakannya seperti Akutagawa Ryunosuke dalam cerpen “Di dalam Belukar”. Jika Akutagawa mengurai cerpennya dengan kesaksian untuk mencari pembunuh, Guntur melakukannya untuk mencari siapa yang menghamili Almah. Dalam cerpen inilah istilah alu untuk mengganti penis dan lesung untuk vagina muncul. “Namun laki-laki tetaplah lelaki, kan? Dia punya alu dan Almah punya lesung. Jadi semua bisa terjadi.” (hal:91).

Demikianlah akibat dari penyalahgunaan kelamin, trauma mental, dikucilkan, masa depan hancur, hingga kematian. Maka Djenar Mahesa Ayu mengingatkan kita “Jangan main-main dengan kelaminmu!”

Kembali pada dongeng

Cerpen-cerpen dalam buku ini dikisahkan dalam bentuk dongeng biasanya dari sudut pandang anak. Anak-anak yang mendengar dongeng dari orang-orang dewasa dan mereka penasaran ingin membuktikannya.  Selain cerita-cerita yang bertumpu pada kelamin, cerita-cerita tentang dunia gotik, misteri juga banyak mencuri perhatian,  misalnya pada cerpen Tamu ketiga Lord Byron, Dongeng Nostradamus, Kastil Walpole, Lola, dan lain-lain.

Jika ada yang perlu disayangkan dalam buku ini adalah hadirnya gambar sampul karya Pramoe Aga yang tampil berulang-ulang dalam setiap cerita yang membosankan dan mengganggu.

 

Muhajir Arrosyid, dosen Universitas PGRI Semarang

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on November 2, 2015, in Buku, Resensi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: