Cerita Para Perantau

Cerpen Damhuri Mohammad

Cerpen Damhuri Mohammad

Judul Buku      : Anak-anak masa lalu, kumpulan cerita pendek

Penulis             : Damhuri Muhammad

Penerbit           : Marjin Kiri

Cetakan           : Juni 2015

Tebal               : viii+121 12 x 19 cm

ISBN               : 978-979-1260-46-6

 

Membaca 14 Cerita Pendek dalam buku Anak-anak Masa Lalu karya Damhuri Muhammad, kita akan mendapatkan tema-tema tentang kekuatan gaib, keluarga, perantauan, dan falsafah hidup. Tema-tema tersebut berkelit kelindan, tumpuk menumpuk.

Terdapat enam cerpen yang bercerita tentang kekuatan gaib dan terdapat tujuh cerita yang mempersoalkan tentang perantauan. Kenapa dua tema ini muncul dan mendominasi cerita-cerita dalam buku ini patut mendapat perhatian.

Seperti diakui oleh Damhuri dalam epilog berjudul “Fosil-fosil bernyawa di kepala saya” bahwa ia adalah pengarang yang tidak pernah beranjak pada masa kecilnya. Pengalaman mendapatkan intimidasi, penghinaan, diskriminasi dari orang-orang dekatnya menjadi ingtan yang tidak pernah benar-benar ia lepaskan. Setiap kali saya hendak merancang sebuah cerita, fosil-fosil itu bagai mengepung saya, mendesak saya untuk memberi mereka nyawa, hingga akhirnya semua cerita yang saya teroka, terkepung dalam arus deras kenangan tentang kampung halaman. (hal 119).

Dari kutipan di atas maka kita bisa ambil kesimpulan sementara bahwa kekuatan-kekuatan gaib diangkat Damhuri Muhammad dari khasanah masyarakat masa kecilnya. Kekuatan gaib tersebut seperti sebuah batu dimana orang yang membawanya tak mempan ditusuk benda tajam dalam cerpen “Bandar Besi”, tentang ilmu kekebalan muncul lagi dalam cerpen “Tembiluk”, orang yang memiliki ilmu kedikdayaan hingga mampu membelah diri dalam cerpen “Bayang-Bayang Tujuh”, dan kekuatan pantangan dalam cerpen “Orang-orang Lerenjeng”

Tema tentang perantauan juga menjadi topik menarik dan muncul dibanyak cerpen. Kenapa demikian? Kemungkinan dikarenakan penulis adalah orang asal Padang, dimana merantau menjadi tradisi. Mereka adalah pengamal petuah Imam Syafi’i; air yang mengalir akan jernih dan air yang berhenti akan keruh, pergilah karena kau akan menemukan orang yang kau tinggalkan.

Namun tampaknya Damhuri tidak lantas memuji-muji para perantau. Sebaliknya ia lebih terlihat nyinyir terhadap perantau. Kita lihat saja cerpen “Rumah Amplop” dimana seorang anak yang mulanya anak baik-baik kemudian menjadi rusak. Ia dimasukkan menjadi PNS melalui uang pelicin. Dikemudian hari untuk menebus uang pelicin, ia melakukan korupsi, Sikap Damhuri terhadap perantau terwakili dalam cerpen “Lelaki Ragi dan Perempuan Santan”. Dalam cerpen tersebut  terdapat tokoh pemuda baru lulus sarjana yang memilih tinggal di kampung. Sebuah pilihan yang tidak lazim. Ia memilih menjaga orang tuanya yang sudah renta sambil mengajar mengaji di surau dan mengurusi karangtaruna.

Pandangan penulis tentang hubungan kampung dan perantauan ia jelaskan dalam epilog buku ini. Katanya; kampung yang tiada pernah menganggap saya berguna, sepanjang saya tidak pulang menghela kemewahan. (hal 119) Itulah kenapa tokoh-tokoh dalam cerpennya rela melakukan korupsi, laku klenik demi menunjukkan kesuksesan di perantauan.

Kearifan melayu

Kisah tentang kekuatan gaib, perantauan juga berkelindan dengan falsafah-falsafah hidup yang muncul melalui masakan, dan ungkapan. Cerpen “Banun” merumuskan kembali tentang profesi sebagai petani. Petani, sebuah profesi yang selama ini dihindari karena arus budaya direkontruksi oleh Damhuri melalui cerpen ini. Ia menjelaskan kata ”tani” sebagai penyempitan dari ”tahani”, yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa orang kini berarti: ”menahan diri”. Menahan diri untuk tidak membeli segala sesuatu yang dapat diperoleh dengan cara bercocok tanam. (hal 26). Falsafah dalam cerpen ini penting dan mendapatkan apresiasi banyak kalangan. Tidak heran jika Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan mamasukkan dalam buku paket Bahasa Indonesia – Ekspresi diri dan Akademik untuk SMA kelas XI semester satu. (2013).

Cerpen “Banun” menjawab kekhawatiran Renald Khasali: Kalau semua kaum produktif di desa pergi ke kota dan meninggalkan sektor pertanian, peternakan dan perikanan, maka lengkaplah sudah: Indonesia akan menghadapi bencana pangan yang menyesakkan. (Jawa Pos, 08 September 2015). Cerpen ini mengamanyekan untuk berdikari dan kembali ke desa.

Kebudayaan kita demikian kaya, hingga makanan pun memiliki makna. Kita dapat mempelajarinya dalam cerpen berjudul “Lelaki Ragi dan Perempuan Santan”, di mana gulai kentang adalah ungkapan halus orang tua yang memiliki anak perempuan yang menginginkan menantu.

Jika ada yang patut disayangkan dari buku ini adalah adanya epilog dari penulis yang menerang-jelaskan asal-usul terjadinya cerita pendek. Di satu sisi epilog dari penulis tersebut membantu tetapi di sisi lain menggu imajinasi dan interpretasi yang sebelumnya telah dibangun oleh pembaca. Demikan.

 

Muhajir Arrosyid,  dosen Universitas PGRI Semarang.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on November 2, 2015, in Buku, Resensi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: