Perempuan-Perempuan Damhuri Mohammad

Judul Buku      : Anak-anak masa lalu, kumpulan cerita penddek

Penulis             : Damhuri Muhammad

Penerbit           : Marjin Kiri

Cetakan           : Juni 2015

Tebal               : viii+121 12 x 19 cm

ISBN               : 978-979-1260-46-6

 

Cerpen Damhuri Mohammad

Cerpen Damhuri Mohammad

Selain mengangkat isu-isu tentang kearifan lokal, kekuatan gaib, perantauan, buku kumpulan cerita pendek Anak-Anak Masa Lalu karya Damhuri Muhammad juga menyentuh persoalan perempuan. Dimanakah perempuan diposisikan oleh penulis dalam cerpen-cerpennya? Mari kita simak.

Dari empat belas cerita pendek yang ditampilkan di buku ini, terdapat delapan cerpen yang terdapat tokoh perempuannya. Dalam delapan cerpen tersebut, ada yang cukup dominan dan memegang kendali penceritaan, namun juga ada yang hanya tipis saja, hanya menjadi objek penceritaan.

Pertama-tama akan saya bahas cerpen berjudul “Rumah Amplop.” Dalam cerpen ini perempuan berada dalam pusaran kekuasaan. Ia adalah istri seorang pejabat yang memegang proyek jalan. Setiap suaminya memegang proyek maka ia meminta satu mobil baru. Baca saja penggalan berikut ini: Setiap kali papa terlibat dalam proyek pembangunan jalan, mama akan merengek-rengek manja minta hadiah mobil mewah keluaran terbaru. Dan, atas nama cintanya, diam-diam papa akan memerintahkan pemborong untuk menipiskan aspal yang mestinya tebal, memendekkan jalan yang seharusnya panjang, merapuhkan yang semestinya kokoh, dan semua hasil penyunatan anggaran itu ia gunakan untuk membeli mobil mewah permintaan mama. (hal 96). Dalam konteks ini perempuan hadir sebagai benalu, sebagai sebab atau pendorong seorang suami melakukan korupsi.  Perempuan sebagai malapetaka suami merujuk kepada keyakinan kebergamaan (Yahudi, Nasrani, dan Islam) di mana Adam dilempar dari surga karena bujukan dan rayuan Hawa untuk memetik buah terlarang.

Dalam cerpen ini ada perempuan lain yang hadir.  Ia bernama Nurjannah. Ia adalah istri kedua dari sang suami. Untuk mengetahui posisi Nurjannah ada baiknya membaca penggalan ini. Agar predikat papa sebagai putra daerah semakin sempurna, hingga dapat menangguk sebanyak-banyaknya suara. Maka, tanpa ragu-ragu, papa mempersunting gadis desa bernama Nurjannah, seusia anaknya. Berbuih-buih mulut papa meyakinkan mama bahwa pernikahan itu tak lebih dari pernikahan sandiwara demi mendulang suara, agar ia memenangkan pemilihan Walikota. (hal 100).

Kehadiran perempuan benama Nurjannah menggantikan istri pertama hanyalah sebagai alat, demi kepetingan politik semata. Dengan demikian perempuan tidak hadir secara utuh sebagai manusia. Ia semacam baliho alat peraga kampanye yang dipasang di pinggir-pinggir jalan, dihadirkan sebagai pengumpul suara. Mengantarkan sang suami menjadi kepala daerah.

Hadirnya perempuan macam Nurjannah ini juga atas keyakinan keberagamaan. Keyakinan tersebut adalah Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. Itulah kena perempuan selalu hanya menjadi bagian. Meskipun menurut Dzuhayatin (2003) keyakian tentang Hawa sebagai penyebab dilemparkannya Adam dan  Hawa berasal dari tulang rusuk Adam tidak tercantum di Al Qur’an.

Dalam cerpen berjudul “Reuni Dua Sejoli” menceritakan nasib seorang perempuan yang tidak memberikan keturunan. Ia harus ikhlas diceraikan oleh suaminya karena dianggap kemandulan ada dipihaknya. Keluarga suaminya juga mengggap bahwa ia tidak meiliki persyaratan lengkap sebagai seorang ibu. Bukan bercerai, mungkin lebih tepatnya; diceraikan, karena aku tidak bisa memberikan keturunan untuknya. Aku menghormati keputusannya untuk mencari perempuan subur yang selekasnya bisa memberinya seorang bayi. Aku bisa mengerti betapa martabat kelelakiannya akan cacat bila ia terus mempertahankan aku. Kurelakan kepergiannya sebagaimana dulu aku merelakan kau mempersunting perempuan pilihan orang tuamu itu. ”Mungkin kemandulan itu ada di pihakmu. Menurutku tak ada salahnya kau mencoba pengobatan alternatif. Itu bila kau masih ingin punya suami lagi,” (hal 6).

Jika dalam cerpen “Rumah Amplop” seorang perempuan pasrah dan maklum ketika diceraikan suaminya dengan alasan suaminya akan menikah lagi sebagai strategi mendulang suara pada pemilihan kepala daerah, perempuan dalam cepen “Reuni dua sejoli” tidak demikian. Perempuan yang dalam cerpen tersebut diceraikan oleh suaminya karena dianggap mandul sebenarnya melakuakan penolakan. Meskipun hal tersebut tidak terkatakan. Penggunaan bahasa nyinyir semacam ‘martabat kelelakiannya’ menandakan kemarahannya meskipun tidak sampai terucap apalagi melakukan perlawanan. Perempuan-perempuan dalam buku kumpulan cerpen ini posisinya teramat lemah, mereka pasrah tanpa melakuan upaya perlawanan terhadap ketidak adilan yang menerpa dirinya.

 

Muhajir Arrosyid, dosen Universitas PGRI Semarang.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on November 2, 2015, in Buku, Resensi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: