IBU DAN PILIHAN KARIER

IBU DAN PILIHAN KARIRAda banyak cara untuk menggiring perempuan kembali masuk ke kandang (rumah). Termasuk mengutip puisi Arab yang biasanya dipahami sebagai hadits: ibu madrasah terbaik bagi buah hati. Tidak ada yang salah dari kata-kata mutiara tersebut, namun seolah perempuan bekerja adalah sebuah kesalahan. Seolah-olah tugas pengasuhan hanya menjadi tanggung jawab ibu.

Kekhawatiran terhadap ibu bekerja atau berkarier di luar rumah terungkap dalam tulisan “Dipenjara Karier” yang ditulis oleh Niswatul Khoiroh (SM 25/09/2015). Ia mengkhawatirkan ibu yang berkarir di luar rumah, tidak bisa membagi waktu yang baik antara karier dan keluarga, maka perceraian biasanya menjadi solusi seperti kasus artis Venna Melinda. Di samping itu kenakalan anak bisa jadi karena imbas dari ibu yang berkarier. Senada akan hal tersebut juga beredar sebuah meme tertulis “Duhai ukhti, sekolah tinggimu bukan untuk jadi karyawati, tapi untuk menjadi madrasah terbaik bagi si buah hati”.

Saat ini sangat banyak perempuan bekerja di luar rumah dengan latar belakang yang bermacam-macam. Ada yang karena menopang kebutuhan ekonomi keluarga karena penghasilan suami tidak cukup. Bahkan pada situasi tertentu, ibu-ibu bekerja ini adalah penopang utama ekonomi keluarga karena sudah tidak mempunyai suami. Atau mereka bekerja karena ingin mengaktualisasikan kemampuan dalam bidang yang mereka kuasai, mengingat jenjang pendidikan perempuan banyak yang sudah tinggi bahkan sampai S3. Mereka terpanggil untuk mengaktualisasikan kecakapannya untuk masyarakat. Lantas, apakah perempuan-perempuan ini tidak bisa menjadi “madrasah” terbaik bagi putra-putri mereka?

Sangat dimungkinkan, perempuan yang bekerja di luar rumah dan membaca kata-kata mutiara ini memiliki beban psikologis karena merasa bersalah meninggalkan anak di luar rumah dan tidak bisa menjadi ibu terbaik bagi mereka. Waktu mereka mengasuh buah hati tak sebanyak ibu yang bekerja total sebagai ibu rumah tangga. Beban psikologis ini menjadikan perempuan tidak bisa bekerja dengan tenang mencurahkan potensi, prestasi, dan kemampuannya di luar rumah. Padahal dalam dunia bekerja, perempuan dituntut harus mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.

Kita tahu, Islam tidak melarang perempuan bekerja. Untuk perempuan karier kita bisa menyebut Siti Khadijah r.a.. Beliau dikenal sebagai seorang perempuan pengusaha yang sukses. Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad, nabi sendiri bekerja sebagai karyawan Siti Khadijah. Jasa Khadijah sangat besar untuk perkembangan Islam, sebab dukungan beliaulah baik moral maupun material, nabi dapat berkonsentrasi melakukan dakwah Islam. Peristiwa ini menunjukkan, mereka bertemu bukan di ranah domestik atau di dalam rumah. Mereka bertemu pada suasana bekerja.

Meragukan perempuan bekerja di luar rumah tentu tidak relevan lagi mengingat kondisi sosial saat ini telah berkembang pesat dan membutuhkan peran perempuan. Ali Asghar Engineer (2007) mengungkapkan nilai-nilai yang paling fundamental dalam Islam adalah keadilan dan persamaan. Saat ini ketika perempuan memperoleh peranan yang lebih besar dalam kehidupan publik, pekerjaan dan lapangan pendidikan dalam wilayah yang produktif, maka formulasi syariat Islam yang berlaku harus dikaji ulang. Pemahaman teks keagamaan harus kontekstual atau disesuaikan dengan masalah sosial setempat. Jika tidak mau dikatakan hukum Islam itu kaku.

 

Peran Ayah

Penafsiran kata-kata mutiara ini seolah mengesampingkan peran ayah. Padahal orang tua terdiri dari ayah dan ibu. Kodrat dan peran adalah dua hal yang sangat berbeda. Kodrat perempuan adalah menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui, dan hal ini tidak bisa diingkari. Namun peran bisa dipertukarkan atau dibagi antara laki-laki dan perempuan. Tugas mendidik adalah peran yang bisa dilakukan oleh ayah.

Pada keluarga dengan ibu bekerja, peran ayah mendidik menjadi sangat penting karena meringankan beban ganda ibu (bekerja di luar rumah dan ibu rumah tangga). Kepedulian ayah sangat dibutuhkan dalam mendidik dan mengasuh anak. Hal ini bisa terealisasi dalam pembagian tugas sehari-hari. Antara ayah dan ibu harus saling memahami bahwa mereka berdua bekerja di luar rumah, sedangkan ibu masih memiliki tanggung jawab tugas-tugas di rumah. Solusinya, tugas-tugas di rumah selayaknya dibagi bersama, misal ketika ibu harus memasak dan mengasuh anak secara bersamaan, ayah harus mengambilalih salah satu tugas tersebut. Ayah bisa memilih tugas mengasuh agar ibu tidak kerepotan. Bukankah mendidik dan mengasuh anak adalah peran yang baik dan tidak keluar dari koridor agama?

Rasullullah saw adalah role model sangat baik dalam peran mendidik anak. Ada banyak sekali hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah mencontohkan sendiri adab melakukan sesuatu pada anak. Salah satu contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim, Malik, Abu Dawud dan Turmudzi dari Umar bin Salamah r.a. “Aku masih anak-anak ketika berada dalam pengawasan Rasulullah SAW, tanganku bergerak ke sana kemari di nampan makanan. Rasulullah SAW bersabda kepadaku ‘Hai anak kecil, ucapkanlah Basmallah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah apa yang ada di hadapanmu.’ Sejak itu begitulah cara makanku.” Maka, peran mendidik anak sangatlah mungkin dilakukan oleh seorang laki-laki seperti yang dilakukan Rasulullah juga.

Baik tidaknya seorang anak tidak hanya bergantung pada ibu saja. Ayah sebagai orang tua juga mempunyai tanggung jawab pendidikan dan akhlaq anaknya. Jangan ada lagi stereotype bagi perempuan karena bekerja. Perempuan bekerja di luar atau di dalam rumah sama baiknya selama masih dalam koridor agama dan tidak melanggar norma kesopanan dan kesusilaan.***

 

Tri Umi Sumartyarini, Alumnus Universitas PGRI Semarang dan pengelola PAUD Ken Amanah Sidorejo Karangawen Demak.

 

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Desember 4, 2015, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: