ANATOMI KEBENCIAN DIGITAL

ANATOMI KEBENCIAN DIGITAL Mungkin Anda tidak setuju dengan Surat Edaran Kepala Kepolisian Republik Indonesia bernomor XSE/6/X/2015, ditandatangani 8 Oktober 2015 berisi tentang hate speech, ujaran kebencian. Namun, sebaran kebencian dalam literasi digital memang menyeruak. Tulisan ini mencoba mengurai anatomi kebencian yang berada dalam lini digital tersebut.

Mesin pencari yang dikembangkan oleh polri menemukan sebanyak 180 ribu akun media sosial terindikasi menyebarkan ujaran kebancian.

Untuk yang pertama akan kita urai bentuk fisik kebencian yang berkembang dalam ranah digital. Bentuk yang cukup populer adalah olahan gambar. Sekarang ini masyarakat banyak yang menguasai program pengolah gambar. Mereka mengambil gambar yang berserak di dunia maya kemudian menggabung-gabungkan untuk menyatakan kebencian terhadap seseorang atau kelompok lain. Ujaran kebencian dalam bentuk olahan gambar cukup provokatif sehingga biasanya memancing serangan balik. Serangan balik dilakukan dalam bentuk digital pula.

Bentuk yang lain dan cukup mencolok adalah berkembangnya meme. Banyak meme yang kreatif namun tidak sedikit yang digunakan sebagai penyebaran kebencian. Meme adalah gambar yang diolah kemudian dibubuhi tulisan. Meme kadang-kadang berisi olok-olok yang memancing reaksi terhadap kelompok atau individu yang diserang. Contoh dari mame semacam ini muncul saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Arab Saudi, dalam foto menunjukkan dia membungkukkan badan dengan tangan di depan dada sedangkan Raja Arab mengulurkan tangan. Gambar ini kemudian menjadi mame dengan dibubuhi tulisan yang menjukkan ketidakpahaman presiden akan tatakrama Islam. Foto yang hanya merekam sebuah peristiwa sepotong sangat rentan dijadikan menjadi mame karena pemirsa tidak melihat sebuah kejadian secara utuh.

Ada juga ujaran kebencian yang disampaikan dalam bentuk video. Jika berkesempatan membuka youtube ketiklah ‘rumangsamu penak’, maka di sana akan tersaji puluhan video yang sebagian besar berisi ujaran kebencian, olok-olok antara Tenaga Kerja Indonesia dari bebagai negara. TKI yang bekerja di negara tertentu memperolok TKI yang bekerja dari negara lain dan sebaliknya. Hinaan tersebut antara lain tentang gaji, perilaku, dll. Ujaran itu ditunjukkan dengan pilihan bahasa verbal yang kasar dan dilengkapi bahasa non verbal yang lebih kasar.

Bentuk yang paling sederhana dan dapat dilakukan oleh paling banyak orang adalah menulis status yang mengungkapkan kebencian terhadap kelompok atau individu tertentu. Kadang-kadang penulisan status ini disertai dengan tautan berita dari media online yang provokatif. Akibat dari kasus semacam ini sudah kita saksikan di Jogja beberapa tahun yang lalu ketika seorang mahasiswa menjelek-jelekkan sebuah kota melalui media sosial dan penduduk dari kota tersebut tidak terima.

Dari agama sampai dukungan pemilu

Setelah bentuk maka kita ketengahkan isi ujaran kebencian di dunia digital. Ada macam-macam jenis isi ujaran kebencian, yaitu ujaran kebencian yang terkait dengan agama, suku, suporter, pemerintahan, dukungan pemilu.

Pertama, agama. Banyak berserak ujian kebencian yang terkait agama. Misalnya olok-olok terhadap laku keagamaan tertentu, misal zarah kubur, sholawatan yang dianggap bid’ah oleh kelompok tertentu, hingga masalah sunni-syiah. Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) penyebaran paham radikal juga dilakukan di media sosial.

Ujuran kebencian ada yang mulanya mungkin dimaksudkan sebagai himbauan akan tetapi kemudian berkembang menjadi saling balas hinaan di komentar seperti himbauan mengenakan jilbab dan himbauan untuk tidak menjadi wanita karir untuk perempuan.

Kedua, kebencian yang berisi saling hina antar suporter juga banyak terjadi di dunia digital. Mereka mengunggulkan tim sepak bola yang mereka puja. Kasus terakhir yang berujung pada bentrokan adalah saat final piala presiden yang diselenggarakan di gelora Bung Karno di mana suporter PERSIB dihadang oleh suporter PERSIJA. Ketiga, ujaran kebencian juga dialamatkan kepada pemerintah. Kalau ini mungkin dapat dianggap sebagai kritik jika disampaikan dengan cara baik dan rasional. Keempat, pertengkaran sisa pemilu presiden setahun yang lalu ternyata masih berlanjut hingga sekarang dan memenuhi layar internet kita. Para pendukung masih saling hujat dan hina. Mataharitimoer dari Indonesia Center for Deradicalization and Wisdom menyatakan bahwa ujaran kebencian melonjak pada pemilu presiden tahun 2014 dan trennya tetap ada hingga kini.

Sebab dari maraknya ujaran kebencian tersebut karena masyarakat mabuk kebebasan berpendapat dan penggunaan teknologi informasi. Dalam megonsumsi informasi seringkali tidak dicermati secara tuntas, hanya dibaca judulnya saja sudah berani menyimpulkan, membagikan, dan berkomentar. Tentu kita bebas berekspresi, bebas pula berpendapat tetapi harus bertanggung jawab dengan cek ricek fakta yang akan kita beri pendapat. Ingat ada ancaman pidana di balik kebebasan berekspresi, entah itu dalam KUHP ataupun UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan Transaksi Elektronik. Mari bijak ber literasi digital.

 

Muhajir Arrosyid, dosen FPBS Universitas PGRI Semarang.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Desember 5, 2015, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: