MAULID NABI DAN ISLAM NUSANTARA

Islam Nusantara

Jika kita membuka lembar-lembar sejarah maka kita akan menemukan jejak-jejak peringatan maulid Nabi adalah sebuah upacara besar yang selalu diselenggarakan di Indonesia. Bentuk dan cara peringatan tersebut menunjukan corak keberagamaan kita sejak masa lalu.

Jejak-jejak tersebut tercecer dalam kartu pos – kartu pos, manuskrip-manuskrip, dan kitab-kitab. Olivier Johannes Raap dalam tiga bukunya yang berisi kumpulan kartu pos koleksinya yang ia kumpulkan dari pasar-pasar loak, pameran kartu pos di seluruh dunia itu membantu kita menganali Indonesia masa lalu.

Dalam bukunya yang pertama tentang Jawa berjudul Pekerdja di Jawa Tempo Doeloe (2013) terdapat sebuah foto dengan judul “Prajurit”. Foto tersebut menunjukkan iring-iringan prajurit yang berbaris rapi memanggul senjata, sebagian dari mereka membunyikan alat musik perkusi. Masyarakat di pinggir lapangan berkerumun menonton. Foto oleh fotografer Kassian Cephas yang diambil sebelum tahun 1906 dan diterbitkan oleh J. Sigrist, Djocja ini menunjukkan suasana barisan pasukan kraton Yogyakarta Hadiningrat yang sedang berparade dalam peringatan grebeg. Dalam setahun dilaksanakan tiga kali grebeg (Maulid, Idul Fitri, dan hari Raya Idul Adha).

Perayan tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan Jawa pada masa lalu menjunjung tinggi ajaran Islam, dari sana kita juga dapat menyaksikan bagaimana corak keislaman yang menyatu dengan budaya setempat. Rasa syukur diungkapkan dengan bahasa-bahasa lokal dengan menghadirkan hasil bumi berupa buah-buhan, sayur-sayuran dan beraneka ragam makanan yang diolah dari hasil bumi.

Keseriusan memperingati maulid tampak pada foto berjudul “Fair at Djocja/Sekaten Djocja” dalam buku Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (2015). Dalam foto yang diambil sekitar tahun 1920 ini menampakkan sebuah rumah joglo, di depannya orang-orang bersarung dan berpeci melakukan jual beli.  Dalam keterangan foto tersebut dijelaskan bahwa peringatan sekaten adalah perayaan yang diselenggarakan dalam rangka peringatan maulid nabi. Pesta dimulai pada tanggal lima dan dipuncaki pada tanggal 12 Maulid, hari keliharan Nabi Mohammad SAW. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa peringatan ini dimulai sejak Kerajaan Demak. Sekaten berasal dari kata sekati, sebuah gamelan besar bernama Kanjeng Kyai Sekati yang dimainkan di pesta tersebut. Foto yang menunjukkan grebeg sebegai peringatan tiga hari besar juga tampak dalam kartu pos “Kratonfeest Djokja” yang diambil pada tahun 1910, yang menunjukkan Sultan Hamengku Buwono VII berdampingan dengan Residen C.M. Ketting Oliver. Ada juga di foto berjudul Grebeg Soerakarta yang menujukkan iring-ringan gunungan yang nantinya diperebutkan oleh rakyat karena grebeg adalah perjamuan antara raja dan rakyat.

Diutarakan oleh Sri Mulyono via Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2014) gamelan Sekati diciptakan oleh Sultan Fatah. Pada kerajaan Demak periangatan yang dirayakan adalah Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi, yang terakhir adalah yang paling diutamakan. Gamelan tersebut dibunyikan di serambi masjid untuk menarik perhatian masyarakat sampai mereka rela mengucampkan syahadat dua, syahadatain.

Ungkapan peringatan maulid nabi tidak hanya diekspresikan oleh kalangan kerajaan, masyarakat kampung juga melaksanakannya. Hal tersebut tersaji dalam buku yang kedua Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (2015). Pada foto dengan judul “Acara tahunan” menunjukkan masyarakat yang keliling kampung membawa hasil bumi sebagai peringatan maulid nabi. Peringatan hari kelahiran Nabi tidak hanya dilakukan setahun sekali, setiap Kamis malam hal tersebut juga dilakukan dengan membaca puisi-puisi, syair-syair berbahasa Arab dan Jawa. Hal tersebut tampak dalam sebuah foto yang diambil di Semarang dari kartu pos yang dikirim tahun 1912. Di sana digambarkan delapan orang yang duduk melingkar, tujuh orang memegang alat musik rebana dan satu orang membaca sebuah kitab. Pada saat ini acara terebut disebut bezanji.

Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa acara keagamaan kita sangat lekat dengan kesenian dan kebudayaan? Hal ini tidak menjadi kerisauan jika kita menilik sejarah kebudayaan Islam. Islam hadir merespon budaya. Tradisi berpuisi di Arab sebelum Islam masuk sudah sangat marak, kemudian Al Qur’an turun dengan sangat estetis sebagai respon atas budaya Arab waktu itu. Diutarakan oleh Aguk Irawan MN dalam buku Pesan Al Qur’an untuk Sastrawan (2013) bahwa keindahan Al Quran membuat para penyair pada waktu itu banyak yang cemburu. Seorang penyair bernama Musilama dan al-Qois sampai membuat tandingan Al Quran. Seorang penyair jahiliah bernama Kaab bin Zubair mulanya membuat puisi penghinaan beralih membuat puisi kecintaan kepada Nabi karena rasa hormatnya. Puisi-puisi kekaguman kepada Nabi itulah yang sekarang dilantunkan saat berzanji dalam rangka peringatan maulid Nabi.

Peringatan maulid pertama kali dilaksanakan pada pemerintahan Sultan Salahuddin (memerintah tahun 1174-1193) dengan menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat nabi dengan penulisan puisi. Pemenang pada waktu itu adalah Syech Ja’far Albarzanji dengan kitab puisi yang kita kenal dengan Barzanji. Setelah itu kitab-kitab semacam itu terus diciptakan oleh para penyair. Dengan mengetahui sejarah awal, latar budaya, dan maksud permulaan peringatan Maulid Nabi maka kita tidak perlu lagi meributkannya. Jika kemudian bentuknya berubah ketika sampai di nusantara maka hal tersebut karena Islam tidak hadir dalam kekosongan budaya. Budaya harus dirangkul agar tidak terjadi benturan yang signifikan sehingga terjadi pertumpahan darah. Karena Islam itu damai.

 

Penulis, Dosen FPBS Universitas PGRI Semarang, pernah mengajar di Madrasah Hidayatust Shibyan Cabean Sidorejo Karenganwen Demak.

 

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Desember 23, 2015, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: