Mualim Syafi’i

 

Oleh Abdurrahman Wahid (Tempo 5 Oktober 1985)

gus durKaum muslimin Betawi memang lebih dekat dengan budaya Arab, dibanding dengan kawasan-kawasan lain. Bukan hanya habib dan sayidnya, semuanya keturunan Nabi Muhammad yang harus dimuliakan dan disegani, yang menjadi sebab; juga bukan karena di Jakarta sudah ada Kampung Pekojan yang penuh orang Arab. Ada yang lebih dalam dari itu.

Para ulama Betawi umumnya dididik di Timur Tengah – dulu di Mekkah, dan Sekarang kebanyakan di Mesir. Dengan demikian budaya Arab bukan sesuatu yang terasa asing. Ane dan Ente sudah menjadi kata ganti diri yang umum dipakai, seperti kula dan sampeyan di kalangan “Jawa kowek”. Orang asli Tegalparang di mampang Prapatan lebih mudah menyebut “nyahi” daripada mengatakan “minum teh ”, diambil dari istilah Arab “syahi” untuk “teh”.

Karena itu tidak mengherankan kalau ulama Betawi disebut mualim. Bukan lantaran mampu mengemudikan kapal, melainkan karena kerjanya mengajar. Dalam bahasa Arab, arti kata muallim adalah mengajar, dan taklim berarti pengajaran. Bukan sembarang mengajar, melainkan mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam. Kalau sekadar guru, panggilannya mudarriss, sering juga ustad. Ini adalah sebuah istilah yang tidak hanya benar menurut bahasa Arab, tetapi sudah diberi arti khusus “dari sononye”. Orang Jawa memanggil guru agamanya kyai, orang minang lebai, di Iran dan Irak disebut mulla, di Syria, Libanon, dan Mesir dipanggil Muallim.

Mualim Syafi’i yang diacarakan kali ini adalah Kiai Haji Abdullah Syafi’I, yang wafat beberapa hari setelah usianya hari Raya Idul Adha lalu. Saya memanggilnya demikian karena memang ia disebut demikian ketika saya masih kecil. Gelar kyai baru datang belakangan, ketika berlangsung proses Jawanisasi, yang datang ke Jakarta secara merayap.

Sebagai mualim, Syafi’I telah memberikan segala-galanya kepada profesi pilihannya itu. Mengajar di surau pada mulanya, lalu membuat madrasah dekat Gudang Peluru di Bali Matraman, ketika jalan beraspal belum menjangkau daerah itu. Tidak cukup mengajar di madrasah,  dengan tekun dijalannya tugas memberikan pengajian umum rutin di hampir semua kampung Jakarta Selatan dan Timur. Pengajian berkala yang membawanya ke kampung yang berbeda-beda, sekarang memperoleh predikat mentereng majelis taklim. Juga tidak lupa tempat sendiri, pengajian diselenggarakan seminggu sekali. Setelah sekian lama, apa yang diselenggarakannya itu ternyata menjadi monumen tersendiri bagi ibu kota tercinta ini.

Melalui pengajaran dasar-dasar agama kepada orang awam, sang mualim mampu membuat sesuatu yang sangat berarti di jantung kota metropolitan Jakarta. Apa yang dicapainya? Menumpulkan dampak negatif dari proses modernisasi. Spiritualitas yang dijajakannya mampu mengatasi kekeringan jiwa manusia, yang terhimpit oleh kehidupan berorientasi serba benda. Solidaritas kuat sesama warga pengajian merupakan penangkal terhadap rasa keterasingan, akibat terurainya ikatan-ikatan sosial lama dalam kehidupan berumah tangga dan bertetangga. Di saat nilai-nilai mulai memudar, ajakannya kepada penghayatan dan pengalaman agama secara tuntas merupakan paduan jelas bagi pengikut.

Tetapi, semua itu bukan sesuatu yang menjadi monopoli Mualim Syafi’i belaka. Hal itu juga diperankan oleh para mualim Betawi dan kiai non-Betawi di Jakarta. Kemuliaan Kiai Abdullah Syafi’I baru tampak jelas jika dilihat pola sikapnya terhadap “tantangan dari luar”. Tantangan yang secara fundamental berlawanan dengan ajaran agama yang diyakininya.

Ketika Ali Sadikin masih menjabat gubernur DKI Jakarta, Mualim Syafi’I adalah pelopor yang dengan gigih menentang kebijaksanaan mencari dana melalui perjudian. Begitu juga kebijaksanaan penggusuran pekuburan, dari Karet ke Tanah Kusir. Semua sanggahannya berdasar pada ajaran agama, sehingga terasa mencekam.

Mengapa ia justru bergaul erat dengan Ali Sadikin, walaupun sang gubernur tetap saja mengizinkan perjudian? Apakah sang mualim telah melupakan perjuangan, karena status sosialnya mencapai ketinggian baru? Apakah sudah terbuai dengan penghormatan sang gubernur kepadanya?

Ternyata tidak demikian. Sebabnya sederhana saja: ia tahu batas peranan yang harus dimainkannya. Sekadar mengajarkan pendirian agama. Bukan menentang pemerintah. Juga bukan menyusun kekuatan (machtvorming) untuk memaksakan pendirian. Kalau pendirian  agama sudah dirasa cukup disampaikan, sudah cukup tugas dilaksanakan. Tak perlu rusak pergaulan karenanya, dan tak harus bersitegang leher akibat perbedaan pandangan.

Sikap inilah yang memancarkan kebesaran Mualim Syafi’i karena dari kiai kampung yang kemudian menjadi ulama besar ini muncul keteladanan cemerlang akan  perlunya kesadaran peranan sendiri dalam kehidupan. Memang untuk jangka pendek ia tidak dapat memberantas perjudian. Namun, dalam jangka panjang ia memelihara sesuatu yang sangat berharga: budaya politik yang matang, karena ia menggunakan hak untuk berbicara dalam ukuran yang tepat. Bukankah ini hakekat demokrasi?

Lebih penting lagi, siapakah yang tadinya menduga bahwa impuls demokratik itu muncul justru dari garis batas yang diletakkan agama sendiri, yaitu dalam tugas mengajar selaku mualim?

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Desember 29, 2015, in Kliping and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: