Presiden dan Burungnya

presiden melepas burungDi pucuk pohon cempaka, burung kutilang berbunyi, bersiul-siul sepanjang hari, dengan tak jemu-jemu, mengangguk-angguk sambil berseru, tri li li, li li li li. (Ibu Sud).       Bait di atas adalah penggalan lagu berjudul Burung Kutilang gubahan Ibu Sud.  Lagu tersebut sampai hari ini masih dinyanyikan di PAUD dan TK di seluruh Indonesia. Namun, suasana yang digambarkan oleh lagu itu sudah sangat susah ditemukan: burung yang bertengger di atas pohon, karena burungnya ditangkap dan pohonnya ditebang.

Dalam khasanah lagu anak-anak, burung menjadi primadona, banyak lagu anak yang mengangkat tema burung. Pak Dal menciptakan lagu dengan judul Kenari dan Nyanyian Burungku, sedangkan Slamet Rahardjo membuat lagu berjudul Burung Gelatik. Tidak seperti lagu Kenari dan Nyanyian Burung yang berisi kekaguman terhadap suara, keindahan bulu, hingga kelincahan gerak burung, dalam lagu Burung Gelatik ini terdapat – kritik. Dalam lagu tersebut juga terkicau kalimat “Kau langka di dunia karena ulah manusia”.

Ulah manusia. Manusialah yang menjadikan burung sulit ditemukan. Anak-anak kita saat ini tidak dapat menyaksikan burung srigunting bertengger di atas pohon ketela dengan memamerkan ekornya yang menyilang. Anak dan cucu kita juga hanya dapat menyaksikan burung gelatik di sampul buku tulis.  

Presiden dan burungnya            Sebagaimana akik, burung menjadi barang dagangan yang dapat membuat dompet pedangangnya berkicau. Jika dulu burung yang dipelihara hanya burung-burung tertentu seperti perkutut, saat ini burung emprit, prenjak, ciblek, semua tidak luput dari intaian para pemburu.

Dulu, di Jawa saja, menurut catatan Raffles (2008) terdapat 200 jenis burung. Sekarang ini entah tinggal berapa jenis burung yang masih ada.

Memang dari zaman dulu burung sudah menjadi komoditi, menurut catatan Raffles juga, bulu burung bangau dan burung sandang lawe yang lebar dan putih dimanfaatkan sebagai kipas. Sedangkan bulu burung elang dimanfaatkan sebagai penghias anak panah.

Peminat burung dari pelbagai kalangan, sesuai dengan kelas sosial. Ya, kepemilikan burung menunjukkan kelas sosial. Orang-orang yang kaya akan mengoleksi  Kenari, Kacer, Jalak Suren. Saksikan saja siapa yang datang ikut lomba burung berkicau. Saat diselenggarakan lomba, parkir pasar burung dipenuhi mobil-mobil mewah.

Keterikatan masyarakat Indonesia terhadap burung memang sudah mengakar sejak ratusan tahun yang lalu. Setidaknya hal itu bisa ditengok dari koleksi kartu pos Olivier Johannes Raap  dalam tiga bukunya tentang Jawa tempo dulu. Dalam Soeka Doeka Di Djawa Tempo Doeloe (2013), Oliver menampilkan foto seorang laki-laki mengerek sangkar berisi burung. Foto tersebut dibuat pada sekitar tahun 1910 dengan judul Si Perkutut Suci. Dalam buku tersebut diterangkan kelengkapan lelaki Jawa, bisa dikatakan sebagai lelaki sejati jika dia telah memiliki rumah, senjata, kendaraan, istri, dan burung perkutut. Di buku yang lain berjudul Kota di Djawa Tempo Doeloe (2015) menampilkan foto berjudul Gang Kampung. Dalam foto yang dibuat sekitar tahun 1900 ini menampilkan sangkar burung yang digantung di halaman rumah.

Kata Remy Sylado (2015) burung perkutut memiliki kekuatan buruk dan kekuatan baik. Sisik burung tersebut harus disesuaikan dengan weton calon pemilik. Burung bagi orang Jawa juga sebagai petanda, jika burung gagak lewat maka prediksi ada yang meninggal, jika malam hari ada burung bence bunyi, prediksi ada maling yang kelayapan, dalam Serat Centini yang disusun pada tahun 1850 terkatakan bahwa bunyi burung prenjak menandakan akan terjadinya sesuatu.

Terdapat pergeseran makna burung pada masyarakat kita, jika dulu dipelihara atas dasar kepercayaan adanya kekuatan gaib yang menyertainya, tetapi saat ini atas dasar ekonomi, gengsi, dan sekedar hobi.

Tidak hanya faktor itu saja yang mengakibatkan jenis burung menjadi langka. Kata Slemet Rahardjo karena ulah manuisa, saya setuju.  Burung dimanapun diintai, dibedil sebagai santapan dan ditangkap untuk dilelang di pasar burung. Faktor lain adalah habitatnya yang terdesak. Kebun-kebun dibangun perumahan yang tidak menyisakan sejengkalpun tanah untuk tumbuhnya pohon, rumah para burung. Tidak ada tempat bernaung yang aman untuk burung. Sebagai kritik selayaknya diketengahkan kutipan Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad: “Seorang muslim yang menanam satu tanaman, maka apa yang termakan akan menjadi sedekah, apa yang dicuri akan menjadi sedekah, apa yang termakan oleh burung akan menjadi sedekah…..” karena tanaman adalah masa depan kehidupan.

Di tengah ramainya orang tawar-menawar burung, ramainya lomba berkicau burung, tiba-tiba Presiden Jokowi menyela. Ia membeli 190 ekor burung di Pasar Burung, Jalan Pramuka (2/1). Burung-burung tersebut kemudian dilepas di Istana Bogor. Apa pesan yang ingin disampaikan oleh presiden bersama dengan burung-burungnya?

Mungkin presiden ingin menyatakan bahwa tugas sekaligus fungsi manusia pemimpin di muka bumi itu tidak hanya Hamengku Negara, Hamengku Bumi, tetapi juga Hamengku Buwono: memelihara alam semesta bersama isinya termasuk burung. Karena burung adalah putaran ekosistem. Satu rantai ekosistem terputus maka ibarat roda jalannya oleng. Pesan ini sangat penting karena tahun lalu kita direcoki asab, tahun ini kita masih diancam banjir. Ini adalah ajakan. Mari tumbuhkan jiwa memelihara.

 

Muhajir Arrosyid – dosen Universitas PGRI Semarang.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 28, 2016, in Opini. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: