Pesan Tak Sampai Agnes Mo

Agnes Mo dalam PentasFalsafah Jawa mengatakan Ajining diri soko lathi, seseorang, ‘aji’, bermakna, memiliki nilai karena apa yang diucapkannya dan ajining sariro soko busono, seseorang dihormati karena apa yang dikenakannya. Ilmu komunikasi kontemporer menyatakan bahwa apa saja yang menempel di tubuh manusia merupakan pesan. Baju yang kita kenakan adalah pernyataan, pernyataan isi dompet, ideologi, pandangan politik, tingkat pendidikan, dll.

Maka baju yang dikenakan oleh seorang artis Agnes Mo saat dia pentas di ulang tahun sebuah stasiun televisi swasta di negeri ini juga merupakan pernyataan. Dalam acara itu Agnes Mo mengenakan sebuah pakaian warna hitam transparan yang memperlihatkan bagian paha dan sebagian dadanya. Di bagian rok terdapat tulisan berbahasa Arab.

Sontak, penampilan Agnes Mo ini menimbulkan reaksi, di media sosial diperbincangkan. Ada yang berpendapat, apa yang dilakukannya merupakan penistaan agama, ada yang berpendapat tampilan Agnes Mo itu perbuatan yang tidak sopan, dan lain sebagainya. “Menjadi perbincangan” dan itulah yang mungkin menjadi tujuan seorang artis. Dengan menjadi perbincangan, ia berkesempatan untuk dikenal, populer dan eksistensinya sebagai artis tetap menjulang.

Reaksi terhadap Agnes Mo bisa kita pahami, mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah bergama Islam. Tulisan di rok itu berbahasa Arab, sama dengan bahasa yang digunakan oleh Al Qur’an, bahasa sama dengan bahasa sholat. Sebagian masyarakat kita sudah terlanjur menganggap bahwa Arab sama dengan Islam. Di sini, Arab menjadi representasi agama, bahasa Arab digunakan hanya untuk hal-hal baik seperti sholat, berdo’a, sholawat. Kita juga mengenal istilah kalimah toyibah, kalimat-kalimat dalam bahasa Arab yang menyatakan hal-hal baik seperti; Albahmdullilah, Subhkanallah, Inalillah, Astagfirullah, dll.

Pesan Tak Sampai Agnes Mo            Ungkapan-ungkapan buruk seperti pisuan, umpatan dalam budaya kita lebih sering menggunakan bahasa daerah. Hingga ada lelucon satir, seorang Arab sedang bertengkar dengan istrinya, dan orang Indonesia yang mendengar bilang: amin amin amin. Karena persipsi orang Indonesia, bahasa Arab adalah bahasa do’a.

Meminjam bahasa Sulistyowati Iranto dalam bukunya Akses Keadilan dan Migrasi Global, Kisah Perempuan Indonesia Pekerja Domestik di Uni Emirat Arab (2011), bahwa Timur Tengah khususnya Arab adalah ‘tanah harapan’. Di sana orang Indonesia bermimpi untuk datang, menunaikan ibadah Haji. Menginjak tanah Arab, sama dengan menginjak tanah yang mungkin pernah diinjak nabi. Semoga ini untuk memahami reaksi orang Indonesia terhadap Agnes Mo dan pakeannya.

Di sisi lain, di media sosial orang Indonesia yang sudah lepas dari pemahaman bahwa Islam bukan sama dengan Arab melakukan reaksi yang berlawanan, beberapa menertawakan, membodoh-bodohkan terhadap orang Indonesia yang menggap perilaku Agnes Mo melakukan penistaan agama. Ada yang membuat meme yang menunjukkan kamar mandi di Arab Saudi yang terdapat Bahasa Arab, mereka ingin mnunjukkan bahwa bahasa arab, di Arab, tentu saja digunakan tidak hanya untuk kalimah toyibah belaka.

Kemudian, apa pernyataan yang ingin disampaikan oleh Agnes Mo dengan rok menerawang dengan bahasa Arab tersebut? Saya menuduh ia caper atau cari perhatian. Tentu saja dia dan timnya tahu reaksi yang akan ditimbulkan. Ia paham bahwa orang Indonesia reaktif terhadap hal-hal begini, apa saja gampang dihubungkan dengan agama. Reaksi itu penting untuk memelihara populeritasnya. Tetapi dia juga tidak terkena jerat hukum, mengingat apa yang dia tulis bukanlah ayat dalam Al Qur’an.

Pesan damai

Yang tertulis dalam rok Agnes Mo itu adalah  Al Muttahidah, artinya ajakan untuk persatuan, damai, tidak perang melulu. Dalam khasanah kita, memiliki istilah Bhineka Tunggal Ika, yang artinya kurang lebih sama, ada juga istilah yang telah menginternasional yaitu United. Tapi, mengapa Agnes memilih menggunakan bahasa Arab? Mungkin pesan ini ditujukan kepada dunia Arab, sekarang ini beberapa negara Arab terlibat konflik, yang terakhir adalah konflik antara Arab Saudi dengan Iran. Sayang sekali pesan ‘persatuan’ Agnes tak sampai di Arab dan tidak memiliki efek di sana. Orang Arab yang menontonya hanya orang Arab Johar dan Pekalongan. Pesan Agnes yang artinya persatuan itu justru menjadi kegaduhan, saling cemooh, ejekan, penghinaan, antara kita di sini.

 

Muhajir Arrosyid, dosen FPBS Universitas PGRI Semarang.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 28, 2016, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: