ANCAMAN “BULLYING” DARI TELEVISI

ancaman bullyingANCAMAN “BULLYING” DARI TELEVISI. Betapa pentingnya mencegah bullying, mengingat akibat yang ditimbulkannya mengancam masa depan anak. Korban dapat mengalami ketidakpercayaan diri, murung, hingga yang paling tragis, bunuh diri. Karena akibat yang demikian membahayakan, Presiden Amerika Serikat sampai ikut melibatkan diri dalam kampanye anti bullying.

Bullyiang adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih yang mencoba menyakiti orang lain dengan cara kekerasan. Pada Oktober 2010, Presiden Obama berbagi cerita tentang pengalamannya di-bully di sekolah lewat video dalam kampanye It Gets Better. Dalam rangka misi yang sama Obama juga berbicara melalui vedio di facebook pada tanggal 9 Maret 2011, Presiden Obama dan istrinya mempromosikan kampanye anti-bully yang diluncurkan gedung putih. Demikian juga dengan pemerintah Inggris, mereka resah dengan aksi bullying di sekolah, di Inggris bullying yang paling marak adalah cyber-bullying. Cyber-bullying adalah olok-olok, penghinaan kepada orang lain melalui media sosial, bisa lontaran kata-kata, meme, dan lain-lain, maka pemerintah Inggris menetapkan peraturan untuk pihak sekolah dan orangtua murid agar bisa mendeteksi cyber-bullying.

Kampenye anti bullying juga masif dilakukan oleh memerintah Taiwan. Sejak 2011, Departemen Pendidikan Taiwan meluncurkan program anti-schoolyard bullying campaign. Mereka menghimpun poster, lagu, tarian dan kemudian diunggah di website departemen pendidikan. Lalu bagaimana dengan di Indonesia?

Di Indonesia penanganan anti-bully belum massif. Pemerintah belum mengambil peran yang signifikan. Padahal kasus bull di Indonesia cukup tinggi. Beberapa terdapat korban jiwa. Kasus bullying di Indonesia juga banyak terjadi di sekolah. Kenapa di Sekolah? Karena di tempat inilah anak-anak bersosilisasi maka kesempatan untuk saling menunjukkan eksistensi muncul. Bullying muncul karena adanya beberapa sebab (1) adanya pihak yang merasa lebih baik dengan orang lain, (2) tidak menghargai perbedaan, (3) kurangnya kesadaran akan perilaku kekerasan, melakukan kekerasan tanpa dia sadari. Untuk itu guru harus menyadari hal itu.

Bahkan bullying bisa dilakukan oleh orang tua atau anggota keluarga sendiri seperti kakak atau adik. Hal ini dikarenakan oleh ketidaktahuan mereka tentang perilaku kekerasan dan akibatnya. Mereka baru sadar akan akibat setelah perilaku yang tadinya mereka anggap ‘sederhana’ itu berakibat fatal seperti bunuh diri, atau anak melarikan diri dari rumah karena tidak nyaman.

Iklan dan bullying

            Atas ketidaksadaran itu pula tayangan televisi termasuk iklan banyak yang berpotensi mendorong perilaku bullying. Iklan produk susu, pemutih, pelangsing, penggemuk secara terbuka atau tersamar mengandung unsur bullying. Bahasa yang mereka gunakan ada yang menggunakan bahasa verbal maupun non verbal.

Sebagai contoh salah satu iklan susu melontarkan sebuah kalimat olok-olok kepada anak yang tingginya kurang, “Tibosih, tinggi boong”. Kalimat dalam iklan tersebut menghina kepada seorang anak yang secara fisik tidak memilki tubuh yang tinggi.

Kita harus memiliki kesadaran bahwa iklan tersebut ditonton oleh orang seluruh Indonesia. Penghinaan juga akan sampai kepada seluruh anak dan orang dewasa yang tidak memilki tubuh yang tinggi. Akibatnya anak yang tidak tinggi akan minder dan tidak percaya diri. Ia merasa lebih rendah, lebih hina dibanding dengan teman-temannya yang lain.

Pada kenyataanya apakah orang yang memiliki tubuh tidak tinggi lebih hina? Apakah orang yang tubuhnya tinggi akan lebih berhasil? Kenyataan tidak menunjukkan demikian, banyak orang pandai dan sukses bertubuh pendek dan tidak besar. Presiden ketiga kita B.J. Habibie seorang teknokrat handal, pembuat pesawat tubuhnya tidak tinggi. Jadi tidak ada alasan bagi kita menghina orang berdasarkan alasan apapun termasuk tubuh.

Pada iklan produk susu yang lain, yang menawarkan kecerdasan terlontar kata-kata “Begitu saja tidak bisa”, kalimat tersebut terlontar dari seorang cucu kepada neneknya dan dikesempatan yang lain disampaikan oleh seorang nenek kepada cucunya. Memang suasana dalam iklan tersebut adalah suasana bercanda dan disampaikan sambil tersenyum. Namun, akibat dari candaan seperti ini tidak bisa diprediksi, apalagi ini iklan yang ditayangkan di televisi, kalimat merendahkan “Begitu saja tidak bisa”, bisa ditiru anak-anak untuk merendahkan orang lain.

Iklan sejenis ini adalah iklan yang membujuk orang dengan cara teror untuk menakut-nakuti. Seolah mereka mengatakan “Hai awas kalau anakmu tidak menggunakan produk ini maka anakmu tidak akan cerdas, tidak akan tinggi, tubuhnya akan krempeng. Kalau kamu tidak menggunakan produk ini maka kulitmu akan hitam, tibuhmu tidak akan langsing, dll.”

Heddy Shri Ahimsa-Putra (Sumijati, 2001:38-39) membedakan kekerasan yang dialami oleh anak-anak ke dalam tiga jenis, yakni: (1) kekerasan fisik, (2) kekerasan mental, dan (3) kekerasan seksual. Iklan sejenis itu dapat mendorong kekerasan psikis dan bisa berlanjut pada kekerasan fisik.

Kepada orang tua dan guru selayaknya mendampingi dan memberi penjelasan kepada anak tentang iklan yang berpotensi mendorong perilaku kekerasan baik psikis maupun fisik, baik mengunakan bahasa verbal maupun non-verbal. Kepada pemilik produk dan kreator iklan, sadarilah bahwa iklan Anda seharusnya tidak hanya bertujuan untuk laku dan tidaknya produk Anda, tetapi juga harus mengedukasi masyarakat. Demikian.

Penulis, dosen FPBS Universitas PGRI Semarang dan pengamat iklan. (Dimuat di koran Wawasan edisi 3 Februari 2016)

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 3, 2016, in Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: