Merayakan Kesepian

  • prahaResensi film: Surat dari Praha
  • Sutradarai :Angga Dwimas Sasongko
  • Penulis Naskah: Irfan Ramli
  • Pemain:Tio Pakusadewo, Julie Estelle, Widyawati dan juga Rio Dewanto
  • Produksi: Visinema Pictures

    Manusia diciptakan dari tanah, setan diciptakan dari api, malaikat diciptakan dari cahaya, lalu diciptakan dari apakah kesepian itu? Kesepian diciptakan dari situasi, dipisahkan, ditinggalkan, dan kalah membela idiologi yang diyakini.

“Saat saya pamit dengan Sulastri ke Praha, aku mengatakan dua hal kepada dirinya: pertama, akan segera pulang dan menikahinya. Kedua, akan mencintainya selama-lamanya. Dan nasib hanya memberi kesempatan padaku untuk yang kedua.” Penggalan itu diucapkan oleh Jaya, lengkapnya Jayasri (Tio Kapusadewo) seorang eksil di Praha dengan Larasati, gadis belia yang beberapa hari ditinggal mati Sulastri, ibunya.

Larasati (Julia Estelle) adalah seorang gadis yang ditinggal mati oleh orang tuanya, namun sebelum warisan menjadi hak miliknya, ia harus terlebih dahulu pergi ke Praha, mengantar surat dari mendiang ibunya itu kepada Jaya, lelaki tua yang satu kakinya pincang, tetapi masih gagah. Jaya adalah pacar Sulastri (Widyawati) di masa muda dan harus terpisah karena geger politik dan budaya mengakibatkan peralihan kekuasaan dari Sukarno ke Suharto.

merayakan kesepian   Jayasri atau Jaya yang berangkat ke Praha dengan tujuan kuliah dan menjadi sarjana nuklir terpaksa menjadi tukang bersih-bersih di sebuah gedung pertunjukan. Karena memegang idiologi yang diyakininya, kewarganegaraanya dicabut. Dari sinilah jalan sepi Jaya dimulai. Menjadi manusia buangan, tidak memiliki kewarganegaraan, bekerja apa saja mulai dari pembuang sampah hingga tukang bersih-bersih.

“Hidup di negara sosialis pada waktu itu harus bekerja, apa saja ya dikerjakan. Jika tidak bekerja akan ditangkap dan dipenjarakan, karena dianggap melanggar hukum.” Begitu kata Jaya.

Namun Jaya tidak pernah menyesal atas pilihannya. Satu yang ia sesali, gagal menikah dengan Sulastri.

Rezim Suharto menyingkirkan lawan-lawan politiknya dengan cara menuduh komunis. Istilahnya di-PKI-kan. Orang-orang kritis, bersuara lantang, dan menolak kebijakan Orde Baru, bahkan hanya bersebrangan pendapat maka ia akan di-PKI-kan. Di cap PKI sama artinya disingkirkan, dihukum tanpa pengadilan.

Jaya menolak disebut komunis. “Saya bukan komunis, saya nasionalis. Saya pendukung Sukarno.” Dalam sebuah diskusi pada pertemuan para eksil mereka mengatakan bahwa semua yang menolak pemerintahan Suharto kebanyakan bukan orang komunis, “Memang ada, tapi sebagian besar mereka adalah nasionalis.”

Rentang waktu yang teramat lama itu membuat Jaya kesepian. Ia mendengar kabar meninggalnya bapak dan ibunya hanya melalui dua kata, “Bapak sedo”, dan “Ibu sedo.” Film garapan sutradara Angga Dwimas dan naskahnya ditulis oleh Irfan Ramli ini seperti hendak merayakan kesepian para eksil ini, diwarnai suasana Praha yang gemerlap, gedung-gedung dengan arsitektur lawas, kereta sebagai angkutan umum, dan teriakan hermonika yang melengking-lengking, dentingan piano yang membabi buta mengisi sudut-sudut jiwa.

//Belahan jiwa dekatlah kepadaku//Ku ingin engkau tahu ku mengagumimu//Engkau dan Aku bagaikan doa yang mengikat//Dalam setiap langkahku namamu kusebut//. Lagu Nyali Terakhir yang dibawakan oleh Julie Estelle ini menggambarkan sebuah cinta antara Jaya dan Sulastri yang tidak bisa bersatu.

Kenapa Jaya tidak menghubungi Sulastri, dan baru mengirim surat setelah 20 tahun? Setelah Sulastri menikah dan punya anak? Dan surat tersebut dikirim terus hingga lebih dari 100 lembar?

Pertanyaan ini yang diajukan Laras kepada Jaya. “Saya tidak ingin Sulastri tidak bersih.” Jawab Jaya. Pada waktu itu, orang-orang yang dianggap bersinggungan dengan komunis, bahkan kenal dengan orang komunis, akan bernasib celaka, dan membahayakan dirinya. Jaya tidak mau Sulastri yang dicantainya itu menanggung beban pilihan politiknya. Meskipun akibatnya ia harus menanggung rindu hingga bertahun-tahun.

Kenapa Suliastri tidak menjawab surat-surat dari Jaya? Karena sekali Sulastri menjawab dan mengatakan jika dirinya sudah menikah dan punya anak, maka surat itu tidak akan hadir lagi, padahal Sulastri ingin terus membaca surat itu.

Tio teramat ciamik memerankan tokoh Jaya, keunikan muncul ketika idiom-idiom Jawa seperti “Asu”, “Sedo” bersandingan dengan eksotisme kota Praha yang gemerlap. Kesempurnaan akting Tio menutupi beberapa kejanggalan yang ada di film tersebut. Misal, pilihan Laras untuk tidak membaca surat-surat yang dititipkan kepadanya untuk diserahkan kepada Jaya. Dan Laras baru membacanya sesampai di Praha. Untuk mendapatkan jawaban, kenapa ibunya menyuruhnya jauh-jauh pergi ke Praha, kenapa dia tidak segera membacanya saat masih di Jakarta. Laras juga berusaha menyuap notaris dengan mendapatkan bonus dari penjualan rumah, sikap yang egois.

Ada juga adegan yang tidak perlu yang menganggu kekhusukan perayaan kesepian ini. Adegan itu adalah tidur dengan posisi pelukan antara Jaya dan Laras di Sofa. Mereka tertidur setelah semalaman bermain piano bersama.

Terlepas mengecewakannya sikap Glenn Fredly sebagai produser yang tidak mengakui bahwa film ini terinspirasi dari sebuah cerita pendek dengan judul yang sama karya Ysri Fajar.  Tidak bisa dihindari mengingat judul dan setting cerita yang sama. Jika judul satu kata mungkin Glenn bisa mengelak, tetapi tiga kata persis sangat tidak wajar jika tidak terinspirasi.

Namun, terlepas dari ketengilan sikap Glen, kita perlu berterimakasih kepada film ini, karena setidaknya memberikan gambaran lain, ada orang-orang yang terbuang, kesepian karena sejarah. Kesepian yang teramat dalam, di negeri orang, hilang kontak dengan akarnya. Film ini membantu menjelaskan kepada kita bahwa tidak semua yang menentang Suharto itu adalah komunis seperti yang diyakini sebagian besar orang Indonesia selama ini.  (dimuat di koran Rakyat Jateng, 17/Feb/2016)

 

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 16, 2016, in Film/Sinetron. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: