FOTO DAN SEJARAH

????????????????????????????????????

Fotogrfer pilihan Nikonia 2006

FOTO DAN SEJARAH. Di obrolan goup bbm, seorang teman yang masih jomblo mengaku nonton konser musik bersama teman perempuannya. Teman saya yang lain tidak percaya, ia menulis komentar: “No pict: hoax”. Peristiwa ini mengingatkan saya pada kliping saya atas kolom yang ditulis Tubagus P. Svarajati berjudul “Sejarah” di Nikonia edisi #6/2006 halaman 69.

Dalam kolomnya tersebut Pak Tubagus menyampaikan bahwa foto  diyakini sebagai represntasi yang sahih, dan foto dalam praktik jurnalistik dihadirkan secara objektif alias apadanya. Meski, sekarang muncul teknologi fotografi yang menyediakan ruang manipulasi yang ‘culas’.

Atas objektifitas itulah, foto ditasbihkan sebagai alat bukti historis. Seseorang hadir pada sebuah peristiwa yang kemudian menjadi sajarah dapat dilacak dari foto. Dalam sebuah perhelatan kunjungan wisata saya pernah mendapat tugas dokumentasi. Usai wisata, teman-teman melihat foto yang saya hasilkan. Sebagian dari mereka protes karena wajahnya tidak muncul pada foto. “Wah Mas Hajir tidak adil, yang di foto itu-itu saja, teman-teman dekatnya saja.” Begitu kata mereka.

Ketika waktu semakin mundur nilai sebuah foto semakin berharga. Mari kita membuka-buka album foto, kita saksikan rupa-rupa kita, siapa saja yang ada di sana, ada kejadian apa saja saat itu, dan lain sebagainya. Itulah yang oleh Pak Tubagus dinamakan “relik memori kolektif” ingatan bersama dan “kaca benggala personal”. Maka jangan sombong, pelit, dan angkuh sama yang pegang kamera saat kunjungan wisata, bisa-bisa kelak kamu dilupakan dari ingatan kolektif karena tak terjepret kamera.

Sejarah(1)            Foto menghadirkan sekaligus menghilangkan. Foto mampu menghadirkan maupun menghilangkan peran seseorang dalam sebuah peristiwa. Diceritakan oleh Pak Tubagus tentang penghadiran sebuah foto proklamasi kemerdekaan yang hanya menampilkan Bung Hatta dan meng ‘crop’ gambar yang menampilkan Bung Karno, ditengarai upaya sengaja untuk menghilangkan peran Bung Karno.

Foto juga menunjukkan cara memandang, hal itu saya renungi setelah membaca tiga buku karya Oliver Johannes Raap tentang Jawa Tempo Doeloe, yang ditampilkan adalh foto-foto pekerjan-pekerjan yang ada di Jawa yang di Eropa tidak ada, kenapa? Karena foto itu dijual sebagai kartu pos, dan orang Eropa (lebih) ingin menyaksikan ‘keudikan’ kita (itu menurut saya).

No pict=hoak. Apa yang dikatakan teman saya itu adalah bukti bahwa foto merupakan bukti sebuah peristiwa terjadi. Jika tidak ada foto maka sebuah informasi diragukan kebenarannya. Dalam bahasa teman saya itu, “Kalau kamu tidak dapat menunjukkan foto maka saya tidak percaya dan menganggap informasi yang kamu sampaikan itu adalah bohong.

Setahu saya kosakata ‘hoak’ muncul di zaman digital, tepatnya di zaman media sosial, saat orang mudah sekali menyebar berita bohong. Kebohongan itu ditunjang oleh foto baik yang dimanipulasi menggunakan aplikasi koreksi foto maupun manipulasi setting peristiwa. Para penyebar kebecian mengolah foto sedemikian rupa untuk menfitnah seseorang. Contoh kasus yang kedua, seorang anak pejabat negera ikut lari maraton tetapi datang telat, panitia disuruh masang lagi untuknya berfoto.

Beberapa hari sebelum saya menulis ulasan ini, koran-koran memberitakan, sekelompok muda-mudi foto di tengah sungai, tiba-tiba air bah datang dan mnyeret mereka. Melihat peristiwa ini saya masih terngiang-ngiang yang diucapkan Pak Tubagus diakhir tulisannya: fotografi adalah life style dan sejarah adalah citraan, the imagenary future. (Muhajir Arrosyid)

 

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Maret 6, 2016, in Kliping. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: