MUSUMNYA FILM POLITIK

RESENSI FILM A COPY OF MY MIND. Asrul Sani berpendapat bahwa film Indonesia tidak menunjukkan perkembangan akibat kompromi yang terus menerus. Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Asrul Sani. Kompromi itu dilakukan dengan dunia industri karena film jatuh di tangan para pedagang. Film juga takhluk di bawah rezim kekuasaan sehingga terbata-bata ketika melafalkan kritik terhadap kekuasaan. Selama sekian dekade film-film kita hanya berucap tentang lelucon, seks, percintaan dan tidak mampu bercakap-cakap perihal politik. Paling pol pembahasan tentang sejarah, itupun sejarah di bawah tekanan.

Namun, beberapa minggu terakhir ini film-film yang mengangkat tema politik diputar di bioskup. Mulai Surat dari Praha yang bercerita tentang orang-orang aksil yang terpinggir selama rezim Soeharto. Ada film Siti, pemenang FFI tahun 2015 ini adalah film Indonesia pertama yang saya lihat yang berani mempertontonkan sisi lain dari polisi. Dalam film tersebut terdapat sebuah adegan tiga anggota polisi yang mabuk karena minum-minuman keras di tempat karoke. Terakhir adalah film berjudul A Copy of My Mind garapan sutradara Joko Anwar, produksi Lo-Fi Flicks, CJ Entertainment.

Film yang saya sebutkan terakhir ini menjawab keraguan Asrul Sani di atas, bahwa film kita adalah hewan yang jinak. Penelanjangan kebobrokan dunia politik itu diceritakan secara jancuk melalui dua tokoh dari kalangan kelas bawah bernama Sari (Tara Basro)  seorang karyawan salon kecantikan dan Alex (Chicco Jerikho), seorang penerjemah VCD film bajakan. Melalui dua tokoh yang hot ini cerita mengalir enteng bagai kayu kering terbawa arus sungai, tapi tetapi berbobot.

Salah satu orisinalitas film ini adalah menunjukkan kepada penonton, “Oh ternyata ada ya profesi penerjemah VCD film bajakan. Oh gitu ya cara kerja film bajakan diproduksi hingga dijajakan.”

Dua tokoh kita ini adalah orang-orang pinggir di tengah-tengah hiruk pikuk kota. Sari menyewa kamar kos di rumah kecil di bawah gedung yang menjulang. Ia pulang pergi dari kos ke tempat kerja naik angkot.  Alex tinggal di kos pada orang tua Tionghoa yang tidak diurus oleh anak-anaknya. Segala pernik-pernik budaya urban diketengahkan seperti balapan motor liar, tinggal satu kos walaupun belum menikah, hingga budaya nyalon (berkunjung ke salon) dan menonton film (meski bajakan), menikmati film bokep, dll.

Cerita dibawa dari dua tokoh kita yang akhirnya menjadi sepasang kekasih ini. Mereka dipertemukan di toko film bajakan. Sari adalah penggemar film, namun ia hanya bisa menikmati film-film bajakan. Sari protes kepada pedagang karena film yang ia beli kemarin terjemahannya jelek. Kemudian mereka berkenalan, akrab, dan pacaran. Pacaran gaya manusia urban yang khas juga dipertontonkan, tinggal satu kamar meski belum menikah, sesekali berhubungan badan.

Sari pindah kerja di salon kecantikan yang lebih bagus. Bosnya mengirimnya untuk melakukan facial ke penjara. Dari sinilah persingungan antara dua tokoh ini dengan politik dimulai.  Sari dikirim oleh salonnya untuk memfacial Bu Mirna (Maera Panigoro), seorang makelar politik yang dipenjara di sel yang mewah. Sel penjara Ibu Mirna seperti kamar hotel, terdapat TV Flat, sekaligus kepingan-kepingan VCD, kamar mandi dalam dan segala fasilitas hotel yang lain.

Saat di dalam sel Bu Mirna yang bagaikan kamar hotel itu, Sari kepencut melihat deretan kepingan VCD. Sari mengambil satu. Kepingan VCD yang diambil oleh Sari menjerumuskannya pada konflik politik yang teramat pelik. Alasannya, isi CD yang diambil oleh Sari ternyata bukan film seperti yang ia duga sebelumnya, kepingan itu berisi rekaman video saat Bu Mirna melakukan lobi, mempertemukan antara pengusaha dengan anggota DPR untuk menggolkan sebuah proyek. Sari tidak hanya dihajar oleh bosnya tetapi juga diburu oleh orang suruhan Bu Mirna. Alex ditangkap oleh orang suruahan Bu Mirna saat pergi ke kos Sari untuk mengabil baju. Alek disiksa namun tetap tidak mau menunjukkan dimana Sari berada.

Setting film ini adalah Jakarta saat kampanye presiden. Tokoh-tokoh nyemplung dalam suasana kampanye presiden. Ia berada di di tengah-tengah jalan di mana orang-orang sedang melakukan kampanye, senayan yang penuh sesak oleh pendukung calon presiden tertentu.

Diksi-diski dalam pertemuan antara Bu Mirna, pengusaha, dan DPR seperti apel sebagai pengganti uang juga muncul dalam pertemuan rahasia itu. Dialognya mengingatkan kita pada rekaman bukti KPK beberapa waktu yang lalu.

Saat menonton berita kampanye di televisi, Sari menyaksikan orang-orang yang dia lihat dalam video (rekaman lobi antara Bu Mirna, pengusaha, dan DPR) yang ia curi. Sutradara mengajak penonton untuk berpendapat, ternyata para pelaku suap itu juga bergabung sebagai pendukung dua calon presiden yang sedang bertanding.

Jika ada yang patut disayangkan dalam film ini adalah logika penceritaan yang agak keslio. Misalkan, ketika Alex ditangkap kemudian disiksa demi mencari Sari, mengapa si penangkap ini tidak melepas Alex saja dan membuntutinya hingga ke lokasi tempat Sari bersembunyi? Logika lain yang dilanggar adalah, ketika Bu Mirna yang terpenjara karena kasus suap malah menyimpan barang bukti berupa video rekaman saat ia melakukan tindak penyuapan di dalam selnya.

Meskipun begitu, film ini mampu mengetengahkan masalah yang rumit, pelik, dan berat, tanpa mengernyitkan dahi, mungkin karena dibumbuhi kemacoan si Chicco dan kekaleman tetapi nakal Tara Basro.

 

Muhajir Arrpsyid – dosen Universitas PGRI Semarang

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Maret 25, 2016, in Film/Sinetron. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: