NEGARA DAN KESADARAN DOKUMENTASI

Menata Dokumen

Menata Dokumen

SEJARAH. KENAPA SANG PROKLAMATOR MENGINGATKAN, “JANGAN LUPAKAN SEJARAH”? Sabda Bung Karno ini kemudian menjadi kutipan ‘sejuta umat’. Entah karena pesan ini dinggap penting, atau karena tidak membaca tulisan-tulisan Bung Karno yang lain. Di telinga saya pesan Bung Karno ini terdengar sama dengan sebuah pepatah “Hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama.” Bung Karno menyelamatkan kita agar tidak bernasib sama dengan keledai.

Dari sejarah kita tahu apa penyebab kegagalan-kegagalan kita. Inilah mungkin yang membuat esais seperti Bandung Mawardi, Muhidin M Dahlan kerap mengajak kita menoleh ke masa lampau melalui referensi-referensinya yang jadul. Sebagai contoh, dalam artikelnya yang berjudul “Pendidikan dan Adab”, lelaki Solo yang di rumahnya dipenuhi dengan buku dan majalah-majalah berwarna coklat ini mengutip artikel Ki Hajar Dewantara di majalah Wisata, No 1, Oktober 1928. Demikian pula dengan Muhidin, segepok kliping tulisan-tulisan Tirto Adhi Soerjo, ia ketik ulang dan diterbitkan dengan judul Karya-Karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo, Pers Pergerakan dan Kebangsaan dengan tebal 1060 halaman. Membaca karya-karya mereka, saya sering geleng-geleng sendiri, kok orang ini pinter sekali ya? Apa saja tahu.  

????????????????????????????????????

Majalah Tempo edisi 16 Juni 1984 dan Buku karya-Karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo

            Sepulang dari rumah Bandung Mawardi bulan lalu saya membuka-buka dokumen. Untung dokumen saya tersebut belum semuanya diloakkan. Sebagian yang lain tercecar karena sering pindah tempat tinggal. Dari rumah orang tua, kontrak, sekarang rumah sendiri. Ratusan bendel majalah Penyebar Semangat malah kebanjiran. Huft. Saya tidak memiliki kesadaran dokumentasi. Saat menata barang-barang berdebu itu, saya menemukan majalah Playboy Indonesia edisi April 2006 yang menyajikan wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer. Dalam wawancara tersebut Pram mengatakan: setiap terpelajar mulailah mendokumentasikan sejarah. Supaya setiap saat punya bahan yang bisa dipakai. Tanpa dokumentasi grayangan saja. Dan mendokumentasi itu belum merupakan tradisi Indonesia. Benar kata Pram, kita kurang belajar dari Barat, hingga hal-hal remeh tentang kita, yang nulis orang Barat.

Majalah bekas yang tadinya tak terurus dan teronggok di kardus itu kemudian saya pilah-pilah per nama. Majalah Tempo, saya kelompokkan sendiri, demikian juga majalah Intisari, Basis, Prisma, sampai Femina, dan Kartini. Dua majalah yang terakhir ini akhirnya saya sumbangkan di perpustakaan PAUD, tempat istri mengajar, biar dibaca oleh ibu-ibu yang menungui anaknya yang sedang sekolah.

Pram            Majalah yang tadinya berserak, karena sudah tertata saya sebut ‘koleksi’. Majalah terbanyak yang saya miliki adalah Majalah Tempo, Intisari. Koleksi majalah lain hanya hitungan jari.

Majalah tempo dan intisari kemudian saya urutkan dari edisi paling lama ke edisi yang paling baru. Tentu saja jauh dari lengkap.        Mengurutkan majalah dari edisi paling jauh ke edisi paling baru memberiku pelajaran, beginilah seharusnya anak-anak kita belajar sejarah. Dengan membuka-buka majalah kita dapat belajar sejarah dengan mudah dan enak. Tidak ribet dengan hafalan angka-angka dan nama-nama. Sesekali melihat iklan jadul, melihat mobil yang pada waktu itu mewah sekarang mobil jenis itu sudah menjadi rongsok, melihat model rambut, model pakaian.

Saya membayangkan seorang guru mengajak siswa-siswanya pergi ke perpustakan dan bertanya. Anak-anak, pada Juni 1984 ada peristiwa apa ya? Kemudian anak-anak itu mencari koleksi majalah dan koran, dan menjawab: “Dalam majalah Tempo edisi itu di halaman 14 dilaporkan bahwa banyak mahasiswa Yogyakarta yang melakukan praktik hidup bersama tanpa ikatan pernikahan di pemondokan.”

“Hanya itu anak-anak?” tanya gurunya. “Tidak Bu Guru, kolomnya Bondan Winarno di Halaman 30 dengan judul “Sial Kombinasi” mengulas kebakaran hutan di Kalimantan akibat El Nino. Hutan yang terbakar sejak Februari hingga Mei 1983 mengakibatkan hancurnya 3,3 juta hektar hutan.”

“Pak Bondan yang Mak Nyus itu?”

“Mungkin Bu Guru.”

“Pada waktu itu sudah ada istilah El Nino ya?”

“Sudah Bu Guru.”

 

(Muahjir Arrosyid).

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Maret 26, 2016, in Memoar. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: