ESAI DAN KEKUASAAN

Inilah Esai-Muhidin M.Dahlan

Inilah Esai-Muhidin M.Dahlan

Esai juga mengiringi beralihnya kekuasaan dan sekaligus menjadi semacam garis penuntun jalannya pemerintahan. Buku Inilah Esai, Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor karya Muhidin M. Dahlan mengabarkan hal itu. Sukarno menulis esai berjudul “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme”. Esai itu adalah simpulan dari pergulatannya dalam dunia pengetahuan dan pergerakan. Setelah ia memimpin Indonesia, esai ini menjadi kertas panduan. (hal 55). Sedangkan pemerintahan Suharto dipandu dengan sebuah esai yang ditulis oleh Ali Moertopo berjudul “Dasar-dasar pemikiran tentang Akselerasi Moderenisasi Pembangunan 25 Tahun.” Sedangkan pemerintahan Joko Widodo dipandu oleh sebuah esai yang dimuat pada 10 Mei 2014 berjudul “Revolusi Mental”, esai itulah yang diterjemahkan dalam berbagai kebijakan, diartikulasikan dengan baju seragam bahkan sajian yang harus dihidangkan saat acara-acara pemerintahan.

Buku ini bukan buku sejarah, buku ini adalah buku bagaimana cara menulis esai yang baik. Namun, cara “mengajari” buku ini berbeda dengan buku-buku panduan menulis yang pernah ada yang cenderung teknis seperti tutorial. Buku ini menyajikan contoh-contoh, menghamparkan referensi, dan memanggungkan para pendekar esai yang lalu lalang di media Indonesia, dari penulis esai di masa pra kemerdekaan semacam Tirto Adhi Soerjo hingga penulis di media daring semacam Agus Mulyono. Buku ini menjawab pertanyaan, bagaimana esai digunakan oleh penulisnya, efek yang ditimbulkan, bagaimna bentuk-bentuk esai yang pernah ada di Indonesia, gaya, membuka, dan menutup esai.

Resensi kita sudah hampir selesai, saatnya menyampaikan kritik. Jika ada yang patut disayangkan dari buku ini adalah batas antara contoh dan tulisan asli Muhidin teramat tipis, hanya dibedakan dari jenis paragraf (rata dan menjorok), bagi pembaca pemula ini mungkin lumayan menganggu.

Buku ini baik dibaca oleh para pelajar kita, dengan membaca buku ini, para pemuda itu tahu “Oh ternyata pejuang kita itu bukan hanya angkat senjata saja ya? Mereka pemikir, terpelajar, dan penulis juga ya?” Setelah itu mereka menjadi generasi pembaca, tidak seperti sekarang ini. (Muahjir Arrosyid).

 

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Maret 27, 2016, in Buku and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: