MENULIS MEMANJANGKAN USIA

Takdir, Centhini, Kartini

Takdir, Centhini, Kartini

SEJARAH DIHITUNG MULAI ADANYA TULISAN. Kamu bertanya, keajaiban menulis selain memberikan popularitas dan penghidupan? Tentu saja ada. Menulis mampu memanjangkan usia, menulis juga mampu menghidupkan ingatan. Ada sebuah pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, sedangkan manusia mati (seharusnya) meninggalkan tulisan. Mengapa tulisan, bukan harta kekayaan? Usia harta kekayan tidak sepanjang tulisan.

Apalagi yang dapat dijangkau dari manusia selain tulisan? Ide itu abstrak, ia bagaikan udara yang tidak bisa digenggam. Terbang ke sana ke mari. Dan cara untuk membekukan ide adalah dengan cara menuliskannya. Tulisan adalah alamat bagi penulisnya. Tulisan adalah sebenar-benarnya nisan bagi seorang penulis. Penyair Wiji Thukul hilang dan belum ditemukan hingga sekarang. Entah dia masih hidup atau sudah meninggal. Namun karena dia menulis maka kita masih bisa ngobrol denga ide-ide dan perjuangannya.

SERI MENULIS 2            Suatu ketika saya kangen dengan Almarhum prof Soedjarwo, desen saya ketika S2 di magister Ilmu Susastra UNDIP dan pengisi kolom Blencong di Suara Merdeka. Adabnya santri sudah saya lakukan, yaitu mengirim do’a. tidak hanya itu, saya membuka lemari buku dan mengambil buku-buku karangan beliau dan membaca puisi-puisinya. Untung sekali Prof. Djarwo telah membekukan ide-idenya ke dalam tulisan.

Sebenarnya ada jalan lain agar ide dan jejak laku kita di dunia tetap terbaca ketika kita mati. Jalan lain itu adalah dengan cara ditulis orang lain. Itu kalau kita orang terkenal, menjadi presiden, atau bupati, dan punya uang. Itu kalau orang-orang yang kita tinggalkan masih sayang pada kita dan berupaya menuliskannya. Jika tidak kita akan membusuk. Maka, jika kita bukan termasuk orang seperti itu maka kita harus menulis ide kita sendiri.

Lagi-lagi saya mengutip Pramoedya Ananta Toer. Dia bilang bahwa menulis adalah kerja keabadian. Pram juga bilang, “Kau boleh pandai setinggi langit tetapi jika kamu tidak menulis, kamu akan tergilas oleh zaman.

Teramat banyak contoh yang dapat dihadirkan untuk menyakinkan bahwa tulisan mampu memperpanjang usia. Tercatat pada hari Sabtu pahing, tanggal 26 Muharam 1230 Hijriah atau 1742 tahun Jawa (tahun 1814 M) penulisan Suluk Tembangraas atau biasa dikenal dengan Serat Centini dimulai. Pangeran Hamengkunegara III, putra mahkota Kasultanan Surakarta Adiningrat memerintah tiga pujangganya untuk menyusun sebuah serat dalam bentuk tembang yang berisi tentang segala ilmu tentang ngelmu Jawa.

Berkat tulisan tersebut, pengetahuan kita tentang seluk beluk Jawa mulai dari imajinasi, seksualitas, makanan dapat terpelihara. Jika kita ingin tahu tinggal buka saja. Sepuluh  tahun kemudian terjadi perlawanan Diponegoro terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Untung Diponegoro juga menulis babat. Tulisan ini selain berfungsi agar dia tetap terbaca juga agar kita mendengar suara lain tentang penjajahan selain dari narasi penjajah. Tidak tanggung-tanggung, naskah babad Diponegoro setebal 1.151 halaman, di tulis di Manado pada masa pengasingan.

Tentu kita ingat juga dengan Kartini. Pahlawan perempuan asal Jepara itu juga terbaca karena ia menulis. Tulisan-tulisannya yang ia kirimkan kepada teman-temannya di Belanda kemudian dibukukan. Tulisan Kartini menggelorakan semangat, sikapnya nyinyir terhadap penjajah. Katanya: orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tetapi kalau kami mencoba maju, kemudian mereka bersikap menantang terhadap kami.

Banyak orang hidup semasa Diponegoro dan Kartini, tapi hanya beberapa yang kita ingat. Mereka yang kita ingat karena mereka menulis. Dari orang-orang itu kita dapat belajar, yang mati hanya tubuh kita sedangkan rohani kita tetap hidup dan tumbuh bersama tulisan kita yang tetap terbaca.

Berjuang melalui esai

Tentang perjuangan kemerdekaan, narasi yang kita dengar melulu perang angkat senjata. Sosok-sosok yang kita pahlawankan adalah mereka yang terjun di medan laga, padahal para pejuang kita itu selain berbicara menggunakan bambu runcing, mereka juga berjuang melalui tulisan-tulisan. Mereka menggunakan esai sebagai peluru.

Buku Inilah Esai, Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor karya Muhidin M. Dahlan menyadarkan kita akan hal itu. Tirto Adhi Soerjo, R.M. Soewardi Soerjaningrat, Tjokoaminoto, Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, adalah orang-orang yang sadar bahwa tulisan tak kalah tajam dengan pedang.

Konsekuensi yang ditanggung penulis esai tidak main-main, Soewardi Soerjaningrat mengatakan “….menulis esai politik itu bukan hanya penjara honornya, tapi juga tiket gratis ke pembungan.” (hal 17)

Dan benar Soewadi dibuang karena esainya yang mulanya di tulis dalam bahasa Belanda berjudul Als ik eens Nederlander wass (Seandainya saya seorang Belanda…). Esai tersebut menggemparkan pada masanya, pengandaian yang dilakukan oleh Soewardi adalah pengandaian yang subversif, menabrak hukum kewarganegaraan yang berlaku yang menempatkan warga pribumi sebagai warga kelas tiga setelah Belanda dan Timur Asing.

Akibatnya? tulisan ini memakan korban, si penulis esai di tangkap dan di buang ke negeri Belanda, DEExpres yang menerbitkan tulisan itu dibredel, organisasi Indische Partij (IP) yang bermarkas di Bandung di bubarkan. (hal 64).

Akibat yang sama juga harus diterima pejuang kemerdekaan yang lain, Mas Marco Kartodikromo di koran Sinar Djawa pada 16 April 1918, ia menulis esai yang isinya menuntut kesamaan hak. Tulisan itu mengantarkannya (lagi) ke ruang gelap penjara. Hatta menulis esai berjudul “Indonesia Merdeka pada 1928, sebuah esai yang rencananya akan  dibacakan di Den Haag, untuk menuntut keadilan.

Sukarno pada 1930 menulis esai untuk melengkapi esai yang ditulis oleh Hatta (1930) dengan judul yang lebih garang “Indonesia Menggungat”, lagi-lagi esai ini menjadi tiket bagi penulisnya untuk tinggal gratis di ruang tahanan pemerintah kolonial. (hal 60).

Sejarah kita mencatat bahwa esai mampu menggerakkan. Contoh esai yang menggerakkan itu adalah Maklumat Mallabi (1945) yang melahirkan pertempuran di Surabaya. Kertas esai Revolusi Jihad menggerakkan para santri untuk rela mati di laga perang (10 November 1945), (hal 46).  (Muhajir Arrosyid)

File PDF silakan unduh disini DOWNLOAD

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Maret 27, 2016, in SERI MENULIS, Tips. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: