MENULIS SEASYIK NGOMONG

Menulis dengan Emosi dan Mengunyah Rindu

Menulis dengan Emosi dan Mengunyah Rindu

Mungkinkah menulis seperti ngomong? Kan asyik tuh. Kita biasanya mampu berbicara, curhat sama teman kita di kamar sampai menjelang pagi. Kalau bisa menulis seasyik ngobrol kan asyik, tahu-tahu dapat berlembar-lembar tulisan. Seringkali kita punya ide seabrek begitu menyalakan komputer hilang semua deh isi kepala. Menguap entah kemana.

Menulis seperti ngobrol, tentu saja mungkin. Buktunya banyak penulis-penulis yang setiap hari mampu menghasilkan berlembar-lembar tulisan. Beberapa tips bisa dicoba. Pertama, menata perasaan. Saat kita menulis jangan membayangkan kita berdiri di depan khalayak luas dan kita berbicara di depan mereka. Itu pasti berat sekali. Hanya dua tiga kalimat, tulisan sudah mampet.

Saat menulis bayangkan saja kamu berbicara dengan orang yang paling dekat, yang nyaman diajak curhat. Kamu seperti membuat surat yang ditujukan kepada sahabat dekatmu itu. Dengan cara begitu mungkin kamu bisa nyaman nulis dan rileks. Rileks dalam menulis itu penting sekali. Dengan cara itu mungkin bisa membantumu.

Ada cara lain? Saya mengutip yang dikatakan oleh guru menulis dari Australia, Carmel Bird dalam bukunya Menulis dengan Emosi, panduan Empatik Mangarang Fiksi. (2001).  Dalam buku tersebut Carmel menyeru kepada para penulis pemula untuk menulis hal-hal yang diketahui atau hal yang dialami. Setiap penulis itu berbeda dan memiliki keunikan masing-masing. Apa yang kita alami dan kita ketahui pasti unik. Kita perlu mencoba untuk menuliskan perasaan kita saat pertama kali melihat gajah, atau melihat laut.  Bukan sesuatu yang sulitkan, menuliskan hal yang pernah kita alami. Dan kita akan mendapati sesuatu yang menakjubkan.

Menulis dengan tenang, nyaman, dan lancar adalah modal awal seorang penulis. Proses selanjutnya adalah imajinasi, menciptakan tokoh, sudut pandang, dan lain-lain akan kita bahas dalam bab berikutnya. Oh ya, kata nenek Carmel, kamu juga mesti punya buku harian, kalau perlu kliping juga, itu akan membuat idemu kian rimbun. Pada zaman sekarang, buku harian bisa berpindah ke blog.

Eh ngomong-ngomong soal blog, banyak lho tulisan yang mulai-mula diunggah dan dipublikasikan melalui blog kemudian diterbitkan sebagai buku. Yang menerbitkan penerbit Gramedia lagi. Tulisan dengan bahasa yang sederhana bercerita tentang kehiduan keseharian keluarga. Buku tersebut berjudul Mengunyah Rindu, pengarangnya Budi Maryono. Isinya ya catatan harian seorang bapak yang memiliki satu istri dan tiga anak. Setiap judul maksimal hanya dua lembar. Masalah yang diangkat juga ringan. Misal, tentang pusi, si kucing peliharaan, anak yang minta sepeda, anak yang tidak diterima sekolah favorit, dan masalah-masalah keluarga lainya berikut pengambilan solusi yang ehem…bijak. Bahasanya? Yah namanya juga catatan harian. Bahasanya tidak mungkin seperti bahasa sekripsi.

Artinya ini kesempatan. Kamu juga bisa membuat catatan harian dan diunggah di blog gratisan. Misalnya catatan seorang mahasiswa, atau catatan anak kos. Siapa tahu nanti kalau sudah banyak isinya akan ada penerbit yang sudi menerbitkannya. Yuh segera bikin!

Beberapa latihan ini bisa kamu lakukan agar kamu bisa nulis seperti ngbrol yang renyah dengan kakak kikik. Menulis seperti ngobrol dengan teman dekatmu sambil tiduran. Pertama, kamu pasti punya nama-kan? Sekarang tuliskan apa saja yang kamu ketahui tentang nama kamu. Mungkin kamu pernah tanya arti namamu kepada orang tuamu. Atau jika belum pernah kamu boleh menebak-nebak, buka kamus atau meminta bantuan Mbah google juga boleh. Kemudian ceritakan pengalamanmu memiliki nama itu?

Kalau pengalamanku memiliki nama Muhajir, teman-temanku sering keliru menyebutku dengan sebutan Mujahir, salah satu jenis ikan yang enak digoreng itu. Waktu kecil aku sering berkelahi karena sering diejek dengan sebutan “banjir”. Dari Muhajir menjadi banjir kan jauh sekali. Nama adalah do’a, arti Muhajir adalah orang yang pindah. Aku sering pindah, dari rumah orang tua, pindah lagi ke kontrakan, dan semoga setalah memiliki rumah sendiri tidak pindah-pindah lagi.

Apa yang kamu tulis dan ceritakan tentang namamu itu adalah sebuah fakta. Itu kalau ditulis menjadi berita, feature, bisa juga biografi. Sekarang kita latihan menulis fiksi. Masih tentang nama. Saya mengajakmu membayangkan. Sekarang kamu sudah berkeluarga, bagi kamu yang perempuan sebentar lagi melahirkan. Bagi kamu yang laki-laki, bayangkan sebentar lagi istrimu melahirkan. Kamu harus segera memutuskan siapa nama anakmu itu beserta alasannya.

Itu latihan pertama. Latihan kedua bisa menggunakan foto. Ambillah sebuah foto yang kamu terlibat di dalamnya. Mungkin kamu orang yang difoto, atau kamu orang yang memfoto, boleh juga tidak keduanya, tetapi kamu berada dalam lokasi foto tersebut. Pertama ceritakanlah segala hal terkait foto tersebut. Kamu ceritakan kepada temanmu (dengan tulisan) dimana pengambilan gambar foto, kapan, mengapa, siapa saja yang ada difoto. Tidak hanya itu, saat kejadian proses foto itu apa yang kamu rasakan, apakah senang, sedih? Kamu juga ceritakan apa yang kamu dengar. Mungkin ada percakapan? Adakah di antara kamu ada yang kentut, apa belum mandi sehingga tercium bau? Ya kamu ceritakan juga yang tercium dari hidungmu. Diskripsikanlah dari semua alat indera yang kamu miliki.

Latihan menulis dengan foto di atas adalah  latihan menulis fakta. Kamu mengungkapkan fakta-fakta yang terdapat dalam foto. Melalui foto yang sama, kita bisa belajar menulis fiksi. Misalnya saja dalam lokasi foto itu kita bertemu dengan seekor monyet, eh ternyata monyetnya bisa bicara. Monyet itu curhat karena hutan tempat tinggalnya sudah habis. Ruangnya mencari makan kian sempit. Atau kamu bisa mengandaikan, di lokasi foto itu bertemu artis idolamu dan berkesempatan berbicara dengannya. Eh dia menyatakan cinta. Cie cie cie. (Muhajir Arrosyid).

File dalam bentuk PDF silakan unduh DI SINI

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Maret 27, 2016, in SERI MENULIS, Tips and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: