Museum Kereta Api Ambarawa: KERETA API, SELENDANG KAJOL, DAN SEPI

Musium Kereta Api Ambarawa

Museum Kereta Api Ambarawa

Kalau kata teman saya, tempat wisata yang sepi itu asyik karena bisa buat yak des-yak des (yak des: imajinasi nakal bujangan yang masih jomblo. Anda pun boleh berimajinasi atas kata ini).

Rabu, 6 April 2016 saya melenggang dengan sepeda motor bersama Muhajir Arrosyid menuju Museum Kereta Api Indonesia, Ambarawa. Karena bukan hari libur, saya hanya berbarengan dengan sekitar dua puluhan orang pengunjung lain dengan rincian: satu rombongan anak laki-laki usia SMP, satu rombongan dari dinas kereta api, satu rombongan mbak berjilbab. Dibandingkan dengan area museum yang luas sekali, museum ini terlihat sepi yang hanya diisi duapuluh orangan itu. Tapi, saya suka. Tidak ramai, tidak bising, tidak ada orang nyampah, dan tidak banyak orang yang saling memperhatikan. Sepi membuat kita menjadi berpikir, mengira-ngira, dan bernostalgia.AMBARAWA (4)

????????????????????????????????????

Masuk  museum ingatan belasan tahun lalu saya bangkit. Saya masih SD entah usia berapa saya lupa. Kebetulan saya punya saudara bertempat tinggal di Desa Lodoyong, desa sekitar museum ini berada. Hampir setiap liburan sekolah atau akhir pekan, almarhum ibu suka mengajak menginap di tempat saudara ini. Beberapa sore dan pagi saya suka bersepeda sendirian ke museum. Dulu sepi, sepi sekali. Kereta-kereta diam teronggok. Seperti tidak terawat. Tumbuhan “tetehan” tumbuh menjulang merembet tak beraturan. Tak ada karcis. Tak ada wisatawan. Orang lalu lalang masuk keluar museum tak ada yang hirau. Sesekali setiap minggu pagi saya melihat serombongan ibu-ibu dan nenek-nenek senam jantung sehat di stasiun.

AMBARAWA (6)Tapi kini museum kereta ini lain. Perubahan sudah terlihat saat tiba di pintu gerbang yang tinggi menjulang. Tulisan besar berwarna hitam-putih di spanduk terlihat serius didesain, tidak kampungan dan simpel. Kalau tidak salah tulisannya “Museum Kereta Api”. tulisan inilah yang menjadi petunjuk saya bahwa saya akan masuk pintu gerbang museum (biasanya saya dulu lewat pintu belakang he he he). Masuk ke tempat parkir petugas parkir menyapa ramah. Ruang untuk pertugas parkir pun bagus, terbuat dari kayu yang diplitur. Membangkitkan nostalgia rumah jaman dulu. Sampai di depan tempat membeli karcis, dua perempuan penunggu karcis menyambut. Kali ini ini saya bayar lho tidak gratis bludas-bludus seperti waktu dulu. Harga tiket untuk orang dewasa Rp. 10.000, anak kecil usia 3-12 tahun Rp. 5.000 rupiah.

AMBARAWA (1)Pak satpam menyobek seperempat tiket. Saya dipersilakan masuk. Lorong panjang segera menyambut. CCTV dimana-mana. Di dinding sepanjang lorong terdapat deskripsi tentang museum dan kereta api. Saya tidak begitu memperhatikan deskripsinya. Sekilas berisi sejarah, tahun-tahun bersejarah, gambar artis dan orang-orang terkenal, salah duanya Yovie Widianto dan Dahlan Iskan.

????????????????????????????????????

Masuk lagi kedalam saya melihat gerbong-gerbong kereta berwarna hitam. Masuk ke dalam lagi saya bertemu area stasiun yang digunakan beberapa kali untuk syuting film sejarah. Bangunan dan lantainya bersih sekali. Tak terlihat sampah satu pun. Ini tempat yang saya suka. Alat-alat berat seperti timbangan barang dipamerkan komplit dengan deskripsinya. Tempat loket karcis juga diplitur ulang, berbentuk boks hitam dengan jendela kaca tempat orang melongok memesan tiket. Unik sekali. Classy. Saya sempatkan juga untuk melihat area kantornya dari luar. Seperangkat meja dan kursi panjang dipertahanakan kelamaannya. Ditata sebegitu rupa, serapi-rapinya. Yang paling asyik adalah saat tiba di gerbong warna hijau. Beranda gerbong seperti beranda rumah. Atapnya melengkung dicat kuning, berpagar, berpintu khas arsitektur Belanda. Pokoknya classy wes… cocok buat foto-foto, selfie, maupun groufie.

????????????????????????????????????

Masuk ke gerbong saya melongok ke luar. Kok saja jadi ingat adegan film Kuch Kuch Hota Hai waktu Kajol pergi meninggalkan Shahrukh Khan karena dibakar api cemburu yang mbulat-mbulat tak terbendung. Selendang Kajol berkibar-kibar akhirnya jatuh ditangkap Shahrukh Khan. Saya nangis waktu lihat adegan ini lho. Selendang ini lah yang nantinya menjadi penyatu kembali Shahrukh Khan dan Kajol. Itu adegan film yang paling mengharukan menurut saya. Aduh kok ceritanya jadi kemana-mana? (Tri Umi Sumartyarini).AMBARAWA (3)

AMBARAWA (2)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on April 9, 2016, in Jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: